Santri dan remaja Jateng di empat kabupaten jadi duta penebar cinta kasih dan perdamaian
Para santri dan remaja yang tergabung dalam Forum Anak Jateng dari empat kabupaten dan kota di Jawa Tengah dilatih menjadi fasilitator yang bergerak untuk menyebarkan perilaku cinta kasih dan penuh perdamaian di pondok pesantren maupun desa dan kelurahan.

Elshinta.com - Para santri dan remaja yang tergabung dalam Forum Anak Jateng dari empat kabupaten dan kota di Jawa Tengah dilatih menjadi fasilitator yang bergerak untuk menyebarkan perilaku cinta kasih dan penuh perdamaian di pondok pesantren maupun desa dan kelurahan. Mereka akan mengajak 160 remaja menjadi agen perubahan di Kabupaten Blora, Wonosobo, Cilacap, dan Kota Semarang.
Kegiatan Pelatihan Fasilitator Pendidikan Kecakapan Hidup Tingkat Kabupaten/Kota itu digelar di Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada pertengahan Maret silam oleh Lembaga Perlindungan Anak Klaten didukung UNICEF dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jateng.
Para santri itu berasal dari Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'in Cilacap, Ponpes Takhasus Al-Quran Al Asy'ariyyah Wonosobo, Ponpes Al-Asror Kota Semarang, Ponpes Khozinatul Ulum Blora, dan Forum Anak di empat kabupaten/kota tersebut.
Hasil dari pelatihan adalah para fasilitator itu langsung terjun ke pesantren masing-masing untuk para santri, dan ke desa dan kelurahan terpilih guna melatih 160 santri dan para remaja tentang keterampilan hidup sejak akhir Maret hingga pertengahan April. Diharapkan mereka menjadi agen perubahan yang mampu mencegah kekerasan berbasis gender juga mencegah perkawinan anak.
Ketua LPA Klaten, Ahmad Syakur, Kamis (7/4) menjelaskan, "Banyak orang yang secara akademis sukses, mencari penghidupan pun juga berhasil. Akan tetapi hidupnya ternyata kurang sukses. Untuk itulah kami berusaha untuk melatih para remaja membangun keterampilan hidup."
Ahmad Syakur menambahkan, memang diperlukan penguatan kapasitas agar ke depan kehidupan seseorang menjadi sehat dan selamat dengan melatih keterampilan hidupnya.
"Para santri dan anggota Forum Anak berlatih bersama mempelajari strategi memperkuat keterampilan hidup. Jika mereka telah menguasainya, pengetahuan itu ditularkan ke para santri di pondok pesantren maupun teman-teman mereka di desa," kata Ahmad seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Sabtu (9/4).
Kepala Perwakilan UNICEF untuk Wilayah Jawa, Arie Rukmantara menerangkan, dari data yang diperoleh bidang perlindungan anak (Child Protection) banyak terjadi kekerasan di lingkungan sekolah, kelas, maupun pesantren.
"Dari data itu dari 10 kekerasan yang menimpa anak-anak, enam di antaranya berbasis gender. Kekerasan terhadap anak harus kita cegah. Saya punya analogi dalam permainan basket. Jika dalam satu permainan ada 10 pemain, ternyata yang enam pemain pernah menjadi korban kekerasan; maka permainan basket yang seharusnya indah dengan lay up, dunk, maupun shoot; bisa berubah menjadi arena dendam," ujarnya.
Oleh sebab itulah Arie menekankan kekerasan harus dihilangkan dalam bentuk apapun. "Kita tidak ingin para remaja melakukan kekerasan. Mereka harus menebarkan perilaku kasih sayang dan damai," tuturnya.
Ia memberikan contoh seorang santri dari Brebes, Bahrul Ulum. Seorang santri yang dibesarkan dengan kasih sayang, cinta kasih, penuh perdamaian; berhasil mengggulirkan gerakan kembali ke sekolah. "Kini 50.000 anak berhasil kembali ke sekolah. Ini adalah keajaiban yang bisa dilakukan oleh satu orang karena dirinya penuh cinta kasih dan perdamaian," ujarnya.
UNICEF mendukung Provinsi Jateng memastikan kekerasan di manapun dan kepada siapapun bisa dihilangkan. Forum Anak Jateng juga aktif menyuarakan cita-cita mereka berupa dunia tanpa kekerasan, termasuk di pesantren, madrasah dan sekolah agama lainnya.
"Gerakan dari empat kabupaten kota ini diharapkan menjadi efek bola salju. Yang lain akan termotivasi dan terinspirasi untuk melakukan gerakan serupa agar banyak anak Jateng dan Indonesia terhindar dari kekerasan," kata Arie.
Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Retno Sudewi menjelaskan, biasanya untuk menentukan masalah dan isu sulit.
"Di pelatihan ini akan mengulik apa yang ada di depan kita. Ini adalah dasar suatu sistem. Temanya cegah perkawinan anak dan kekerasan berbasis gender. Namun tantangan di lapangan bukan hanya itu," katanya.
Untuk Forum Anak Jateng, contohnya, mereka dapat terus mengembangkan tema dan isu lain. Sebab di masing-masing kabupaten pasti berbeda.
"Permasalahannya apakah kita bisa menyelesaikan sendiri? Oleh karena itu kita harus mencari mitra sehingga dapat memecahkan masalah menjadi lebih cepat dan tepat. Ada peran masing-masing. Jika orang tahu masalahnya, menggandeng mitra sudah ada, tapi untuk memutuskan masih sulit; maka saat inilah kita berlatih," tuturnya.
Diharapkan dari pelatihan ini nanti akan menambah wawasan, sebagai pelopor, dan menyalurkan ke orang lain. Mampu melatih di pondok pesantren dan desa.