Krisis iklim sebabkan jutaan anak Indonesia tanggung beban berat
Elshinta
Minggu, 24 April 2022 - 13:55 WIB |
Krisis iklim sebabkan jutaan anak Indonesia tanggung beban berat
Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta.com - Laporan global organisasi "Save the Children" berjudul "Born into the Climate Crisis" menyebut krisis iklim di Indonesia membawa dampak nyata dan dirasakan oleh anak-anak saat ini.

"Studi kami sangat jelas menggambarkan bahwa anak-anak menanggung beban berat karena tumbuh dalam situasi yang mengancam dan anak memiliki beragam faktor yang membuat mereka lebih rentan secara fisik, sosial, dan ekonomi," kata Ketua Pengurus Yayasan Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu (23/4).

Berdasarkan laporan global yang dirilis bulan September 2021 tersebut, dijelaskan bahwa anak-anak di Indonesia yang lahir tahun 2020 berisiko menghadapi 3 kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai.

Selanjutnya 2 kali lebih banyak mengalami kekeringan serta 3 kali lebih banyak gagal panen dan lebih buruk lagi, dampak krisis iklim membuat jutaan anak dan keluarga jatuh dalam kemiskinan jangka panjang di Indonesia.

Secara nasional, hasil prediksi iklim sepuluh tahunan laporan global "Save the Children" menunjukkan bahwa akan terjadi pengurangan jumlah curah hujan selama El Nino.

Berdasarkan prediksi peluang terjadinya peristiwa cuaca kering ekstrem pada 2020-2025, beberapa wilayah diperkirakan akan mengalami cuaca ekstrem di atas normal. Pada 2020, Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait kejadian bencana menyebutkan terdapat sebanyak 4.650 total kejadian bencana alam dan 99,2 persen merupakan kejadian bencana yang berasosiasi dengan faktor iklim dan cuaca.

Selanjutnya di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), jumlah pengungsi akibat kekeringan bertambah secara signifikan dari 21.688 jiwa pada 2018 menjadi 6 kali lebih besar pada 2019 hingga mencapai 139.746 jiwa, termasuk anak-anak.

Sementara di Sulawesi Selatan, jumlah populasi terpapar gelombang tinggi dan abrasi diperkirakan mencapai 265.307 jiwa. Dari angka tersebut, 40.508 jiwa merupakan kelompok rentan termasuk anak-anak. Anak-anak yang berada di wilayah Kepulauan Selayar, Takalar, Pangkajene Kepulauan dan Makassar memiliki risiko tinggi abrasi.

Kemudian di Jawa Barat, catatan statistik tahun 2022 menyebutkan jumlah kejadian banjir mencapai 247 pada tahun 2021. Dari kejadian tersebut, korban meninggal dunia 20 orang, 282 mengalami luka dan 1.440.252 orang terdampak dan mengungsi termasuk anak-anak. Jumlah kelurahan/desa terdampak banjir dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat bertambah secara signifikan sejak 2019 hingga 2021.

Laporan itu pun mengungkapkan jika kenaikan suhu dijaga tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius, dampak dari ancaman iklim pada generasi mendatang dapat berkurang. Misalnya, kekeringan berkurang sebesar 39 persen, 38 persen untuk banjir sungai, 28 persen untuk gagal panen, dan sebesar 10 persen untuk kebakaran hutan.

"Investasi pada penurunan emisi seharusnya berjalan beriringan dan saling melengkapi dengan upaya penurunan risiko dan meningkatkan kapasitas adaptasi pada anak," tambah Selina.

Aksi Generasi Iklim sendiri, menurut Selina, merupakan sebuah gerakan yang diinisiasi dan dipimpin oleh anak-anak dan orang muda dengan tujuan untuk memastikan anak-anak dan keluarga terutama mereka yang terdampak secara langsung dari krisis iklim dapat melakukan upaya-upaya bertahan hidup dan beradaptasi, serta memperkuat sistem terkait penanganan perubahan iklim yang lebih berpihak pada anak.

"Setelah mendapatkan penjelasan mengenai dampak krisis iklim, saya lebih sadar bahaya perubahan iklim yang kita rasakan hari ini. Sudah saatnya anak-anak ikut bergerak dan dilibatkan, karena kami yang akan merasakan dampak terburuk dari krisis iklim saat ini dan pada masa mendatang," kata Ranti selaku perwakilan "Child Campaigner" Jawa Barat "Save the Children" Indonesia.

Menurut Ranti, pemerintah harus melibatkan anak-anak dalam membangun kesadaran dampak krisis iklim dan menciptakan ruang yang aman dan nyaman untuk anak-anak berpendapat.

"Harusnya, semua anak bisa mulai berpartisipasi. Tapi sayangnya masih banyak anak-anak belum tahu tentang krisis iklim dan bagaimana mereka bisa berperan untuk membuat perubahan, sebagai 'Child Campaigner', saya ingin mengajak semua anak bergerak dan tidak takut untuk bersuara." ungkap Ranti.

Atas kondisi tersebut, Save the Children Indonesia pun menggandeng sejumlah pihak yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meluncurkan kampanye Aksi Generasi Iklim bertepatan pada Hari Bumi 22 April 2022.

Aksi Generasi Iklim diprakarsai oleh anak-anak Indonesia terutama mereka yang berhadapan dan terdampak langsung dari krisis iklim, anak-anak tersebut berasal dari Provinsi Jawa Barat, Sulawesi Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

"Inisiasi Aksi Generasi Iklim yang dilakukan oleh anak-anak dan orang muda berkontribusi pada program adaptasi perubahan iklim KLHK, hal ini juga sejalan dengan berbagai rekomendasi internasional tentang pentingnya melibatkan anak dan orang muda dalam upaya adaptasi," kata Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK Sri Tantri Arundhati.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Indonesia terus mendorong kolaborasi untuk atasi sampah plastik
Kamis, 30 Juni 2022 - 13:02 WIB
Indonesia terus mendorong upaya pengurangan sampah plastik salah satunya lewat kemitraan antara piha...
Pertamina selidiki sumber tumpahan minyak di Cilacap
Selasa, 28 Juni 2022 - 18:32 WIB
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU IV Cilacap menyelidiki sumber tumpahan minyak yang mengot...
Pemkot Magelang segera selesaikan status tanah dan bangunan Perumahan Sub-Inti 
Selasa, 28 Juni 2022 - 12:34 WIB
Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang, Jawa Tengah sedang berupaya menyelesaikan status tanah dan bangun...
Satgas Yonif 126/KC bantu warga perbatasan Papua perbaiki pipa air
Minggu, 26 Juni 2022 - 20:22 WIB
Satgas Pamtas Yonif 126/KC Pos Ubrub membantu warga melaksanakan karya bakti memperbaiki saluran pip...
Rangkaian HUT Bhayangkara ke-76,  Polres Salatiga bersih-bersih kota
Minggu, 26 Juni 2022 - 15:34 WIB
Dalam rangka menyambut HUT Bhayangkara Ke- 76 Polres Salatiga, Jawa Tengah melaksanakan kegiatan ber...
Di depan mahasiswa UMM, Sekjen PUPR ingatkan krisis air dan pangan 
Selasa, 21 Juni 2022 - 13:04 WIB
Dunia tengah menghadapi tantangan perubahan iklim, beberapa di antaranya adalah krisis air bersih da...
BMKG: Kondisi udara Jakarta Senin (20/6) dalam kategori tidak sehat
Selasa, 21 Juni 2022 - 11:28 WIB
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan berdasarkan pantauan pada Senin (20/6)...
Warga Mahia Kota Ambon keluhkan air bersih
Rabu, 15 Juni 2022 - 21:06 WIB
Sejumlah warga di Dusun Mahia, Kota Ambon, Maluku, mengeluhkan kesulitan air bersih, apalagi proyek...
 Semakin langka, Komunitas MLS di Subang lestarikan musang
Selasa, 14 Juni 2022 - 17:06 WIB
Sebagian dari Anda mungkin masih terasa asing jika mendengar musang dijadikan sebagai hewan pelihara...
Pemkab Bekasi tutup TPS liar Sindangjaya Cabangbungin
Selasa, 14 Juni 2022 - 14:11 WIB
Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat menutup tempat pembuangan sampah (TPS) liar di Desa Sindangj...
InfodariAnda (IdA)