11 Mei 1912: SK Trimurti, saksi mata detik-detik proklamasi Republik Indonesia
SK Trimurti lahir dilahirkan di Boyolali pada 11 Mei 1912. Setelah menyelesaikan sekolahnya, Trimurti mengawali kariernya sebagai seorang wartawan. Kariernya inilah yang juga membawanya pada pusaran politik pergerakan nasional.
Foto: SK Trimurti bersama Sukarno dkk (Dok. Perpustakaan Nasional)Elshinta.com - SK Trimurti lahir dilahirkan di Boyolali pada 11 Mei 1912. Setelah menyelesaikan sekolahnya, Trimurti mengawali kariernya sebagai seorang wartawan. Kariernya inilah yang juga membawanya pada pusaran politik pergerakan nasional.
Seperti yang ditulis oleh wartawan senior Rosihan Anwar dalam buku 'Sejarah kecil "petite histoire" Indonesia, Volume 3', SK Trimurti merupakan tokoh pergerakan nasional dan saksi mata detik-detik proklamasi.
Anwar menulis, SK Trimurti tampak dalam foto detik-detik proklamasi yang diambil oleh Alex Mendur dan Frans Mendur di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta. Dia foto tersebut, SK Trimurti yang saat itu berusia 33 tahun, tampak kurus dalam balutan baju kebaya. Dalam momen bersejarah itu, hanya ada dua tokoh perempuan, yakni istri Presiden Sukarno, Fatmawati dan SK Trimurti.
Aktivitas Trimurti di bidang jurnalistik dan politik untuk perjuangan kemerdekaan membuatnya galau dalam soal asmara. Ia khawatir hal itu akan membuat pengabdian pada perjuangan tak bulat. Trimurti pun sempat berpikir akan hidup selibat. Padahal sejumlah pria silih berganti datang mendekatinya.
Dalam suatu pertemuan aktivis Partai Gerakan Rakyat Indonesia di Semarang, ia bertemu dengan Mohammad Ibnu Sayuti atau Sayuti Melik yang merupakan pengetik naskah proklamasi. Keduanya terlibat dalam diskusi-diskusi hangat mengenai strategi dan politik. Pertemuan demi pertemuan berikutnya mereka lalui. Hingga di tengah-tengah sebuah perdebatan, Sayuti tiba-tiba meminangnya.
Sayuti dan SK Trimurti pun saling bahu membahu dalam proses kemerdekaan RI saat itu.
Dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, SK Trimurti diangkat menjadi Menteri Perburuhan pada Oktober 1947 oleh Presiden Sukarno. Sukarno sendiri diketahui merupakan guru SK Trimurti dalam soal gerakan. Namun, bukan berarti SK Trimurti tak pernah mengkritik Sukarno.
Pada tahun 2005, SK Trimurti jatuh sakit. Presiden RI Kelima sekaligus putri Sukarno, Megawati Sukarnoputri sempat menjenguknya saat itu. Hingga akhirnya SK Trimurti wafat pada 20 Mei 2008.
Sumber: detik.com




