Psikolog ungkap alasan remaja semakin suka idola K-pop saat pandemi
Elshinta
Sabtu, 14 Mei 2022 - 15:55 WIB |
Psikolog ungkap alasan remaja semakin suka idola K-pop saat pandemi
Grup idola K-pop NCT Dream dalam sebuah gelaran konser yang dihadiri penggemarnya atau disebut NCTzen (Instagram.com/nct_dream)

Elshinta.com - Psikolog klinis Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Nanda Rossalia, M.Psi mengungkapkan salah satu alasan sebagian remaja semakin menyukai para idola K-pop selama pandemi COVID-19 dua tahun terakhir adalah karena munculnya perasaan dekat dengan sang idola, meski hanya dari media sosial.

Merujuk pada hasil konseling yang dia lakukan dengan klien remajanya, dia mengatakan kecenderungan itu awalnya bersumber dari stres saat berada di rumah. Penyebab stres itu tak lain berasal dari orang -orang terdekat mereka.

"Mereka banyak yang lebih bebas ketika mereka ada di luar sebenarnya. Tetapi untuk mereka yang tinggal dengan stres itu yang agak sulit, karena memang proximity-nya tidak ada. Jadi kemudian mereka ke mana? Ke media sosial, ke internet," ujar Nanda Rossalia, M.Psi dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya dalam webinar Remaja dan Gawai yang diselenggarakan Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Sabtu.

Seiring para remaja ini menyukai idola atau artis K-pop tertentu berkembanglah hubungan parasosial yakni hubungan antara seseorang dengan figur yang ada di layar. Terlebih, para idola K-pop membangun kedekatan dengan para penggemar mereka misalnya melalui siaran langsung di media sosial dan ini disambut positif penggemar.

"Karena semakin dia membuka media sosial apalagi bila dia mem-follow, suka ada live, saya melihat mereka. Saya merasa ada intimacy, kayaknya hanya dia (idola) yang bisa mengerti saya sehingga itu yang menjadi part of social interaction," jelas Nanda.

Menurut Nanda, sebagian penggemar bahkan bisa merasa hanya idola mereka yang memberi perhatian pada mereka dan berkembanglah istilah "halu" walau bukan dalam artian sebenarnya (halusinasi yakni pengalaman indra tanpa adanya perangsang pada alat indra yang bersangkutan, misalnya mendengar suara tanpa ada sumber suara tersebut).

"Semakin kuat itu kemudian menjadi suatu hubungan, jadi hubungan interpersonal kemudian ini jadi realita-nya. Karena dia (idola) sudah ada di kepala itu seperti imajinasinya dan bondingnya kuat, kami menyebutnya hubungan parasosial. Itu perlu juga suatu pendekatan yang lain untuk kita bantu," kata dia.

Menurut Nanda, para remaja ini tidak bisa melawan apa yang terjadi sehingga orang dewasa termasuk orang tua tak perlu berharap mereka bisa melawan karena remaja ini tak bisa dielakkan termasuk generasi yang hadir pada saat teknologi itu berkembang pesat.

Dia menuturkan, ada harapan para remaja ini memunculkan semacam self regulation atau regulasi diri, yang sebenarnya bagi orang dewasa saja termasuk sesuatu yang sulit. Merujuk salah satu jurnal psikologi, regulasi diri yakni kemampuan seseorang untuk mengontrol respons dalam diri, baik itu perilaku (kepribadian) dan biologis (temperamen/watak). Pengaturan diri yang optimal secara langsung berkaitan dengan seberapa baik pelaku mengelola peristiwa baru, kapasitas yang dipengaruhi oleh temperamen, pengalaman perkembangan awal, dan ciri-ciri kepribadian.

"Butuh support system yang baik untuk kita bisa fokus dan tidak terpapar hal yang membuat kita kembali pada suatu rutinitas yang tidak adaptif. Kita bisa minta mereka (melakukan self regulation) tetapi mereka tetap butuh monitoring dan supervisi dari orang-orang di sekitar," demikian saran Nanda.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tren fashion tas pria yang menggebrak batas gender
Jumat, 01 Juli 2022 - 13:58 WIB
Dalam foto-foto yang tersebar di media sosial beberapa hari lalu, tampak bintang K-drama Park Bo-Gum...
TikTok luncurkan program singkat untuk UKM
Jumat, 01 Juli 2022 - 11:58 WIB
Platform video TikTok memberikan program `Follow Me`, ikuti saya, untuk membantu usaha kecil dan men...
Lakukan hal ini untuk hindari pinjol ilegal
Jumat, 24 Juni 2022 - 12:40 WIB
Pelaku industri teknologi finansial menilai masyarakat perlu semakin waspada supaya tidak berurusan ...
Empat jurus hindari penipuan online
Rabu, 22 Juni 2022 - 17:26 WIB
Beberapa tahun belakangan, dipicu juga oleh pandemi virus corona, masyarakat semakin sering melakuka...
Instagram tes layar penuh, mirip TikTok
Minggu, 19 Juni 2022 - 00:07 WIB
Instagram akan menguji coba tampilan layar penuh pada laman utama, tampilan yang disebut mirip TikTo...
Snapchat uji coba fitur berlangganan
Jumat, 17 Juni 2022 - 12:23 WIB
Snapchat salah satu jejaring sosial yang dipakai masyarakat global diketahui tengah menguji cobakan ...
Perusahaan induk TikTok akan buat banyak investasi masuki bisnis VR
Minggu, 12 Juni 2022 - 15:45 WIB
Perusahaan induk TikTok, ByteDance, dikabarkan akan membuat banyak investasi di masa mendatang untuk...
WhatsApp perluas kapasitas fitur grup hingga 512 pengguna
Minggu, 12 Juni 2022 - 11:15 WIB
WhatsApp dikabarkan akhirnya memperluas kapasitas fitur \"grup\" menjadi dua kali lipat lebih banyak...
Poco F4 5G akan hadir dengan RAM besar 12 GB
Minggu, 12 Juni 2022 - 10:45 WIB
Poco dalam beberapa kesempatan terakhir mulai memberikan bocoran terkait Poco F4 5G, kini informasi ...
Cara buat `microsite` di bio Instagram dengan mudah
Jumat, 10 Juni 2022 - 12:08 WIB
Bagi orang yang menggunakan media sosial untuk berbisnis, keberadaan microsite sangat membantu unt...
InfodariAnda (IdA)