Bali kembangkan sektor industri berbasis keunggulan lokal
Indonesia menempatkan industri sebagai salah satu sektor utama dalam perekonomian yang mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja, terutama sebagai langkah mitigasi pandemi Covid-19.

Elshinta.com - Indonesia menempatkan industri sebagai salah satu sektor utama dalam perekonomian yang mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja, terutama sebagai langkah mitigasi pandemi Covid-19.
Hal itu sebagai wujud nyata implementasi Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali: Menuju Bali Era Baru Hijau, Tangguh, dan Sejahtera yang diluncurkan Presiden RI Joko Widodo pada Desember 2021 lalu.
“Perekonomian Indonesia harus kita dorong untuk bergeser, yang selama ini hanya mengandalkan sektor ekstraktif, menuju kegiatan ekonomi yang bisa menciptakan nilai tambah dan berbasis pada ilmu dan pengetahuan,” kata Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam Indonesia Development Forum (IDF) IDEA Series: Innovate, yang digelar di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (3/6).
Sebagai provinsi yang menjadi contoh pemulihan dan transformasi ekonomi pasca pandemi Covid-19, Bali tengah membidik diversifikasi ekonomi, mengembangkan sektor industri berbasis keunggulan lokal untuk melengkapi sektor pariwisata yang terdampak pandemi Covid-19.
“Bali memang selamanya akan menjadi daerah pariwisata, tapi tidak boleh kita tergantung selamanya oleh pariwisata. Oleh karena itu, sektor lain, di pertanian dan Industri Kecil Menengah, harus kita perkuat terus,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali, I Wayan Wiasthana Ika Putra seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Sabtu (4/6).
Di 2021, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan berkontribusi sebesar 15,71 persen dari PDRB Bali, sedangkan sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 6,7 persen.
“Dengan partisipasi aktif melalui pemerintah pusat, diwakili oleh Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pemerintah daerah, provinsi dan kabupaten, pelaku industri, dan asosiasi di IDF kali ini, kita bisa rumuskan solusi nyata meningkatkan kontribusi pengolahan, dan perekonomian Bali menembus tujuh persen pada 2045,” tambah Amalia Adininggar.
Dalam diskusi yang dipandu Direktur Industri, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kementerian PPN/Bappenas Teguh Sambodo dan ditutup Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Kementerian PPN/Bappenas Eka Chandra Buana.
PT Bali Chocolate dan Sunsri House Jewelry, sebagai perwakilan industri, menyampaikan tantangan dan target masa depan industri pertanian dan industri pengolahan di Bali.
Kedepan, Indonesia mendorong industrialisasi berkelanjutan yang mampu menyerap tenaga kerja, efisien dan produktif, menciptakan nilai tambah sumber daya alam secara optimal, mendorong penguasaan keahlian, dan berdaya saing di pasar internasional.