Ganja medis bisa jadi alternatif obat tapi bukan pilihan utama

Elshinta
Jumat, 01 Juli 2022 - 19:57 WIB |
Ganja medis bisa jadi alternatif obat tapi bukan pilihan utama
Karyawan merawat tanaman ganja medis di Pharmocann, sebuah perusahaan ganja medis Israel di utara Israel, Rabu (24/6/2020). Foto diambil tanggal 24 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Amir Cohen/aww/cfo

Elshinta.com - Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada serta Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik UGM, Prof. Apt. Zullies Ikawati, Ph.D., berdapat bahwa ganja medis bisa menjadi alternatif obat apabila pengobatan sebelumnya tidak memberikan respons baik, sehingga penggunaan ganja medis belum menjadi pilihan utama.

"Urgensi ganja medis pada dunia medis sebenarnya tidak besar, lebih kepada memberikan alternatif obat, terutama jika obat-obat yang sudah ada tidak memberikan efek yang diinginkan," kata Zullies kepada ANTARA, Jumat.

"Tetapi, untuk menyatakan bahwa obat lain tidak efektif tentu saja ada prosedurnya, dengan melakukan pemeriksaan yang akurat dan penggunaan obat yang adekuat. Jika benar-benar tidak ada yang mempan, baru ganja medis bisa digunakan, itu pun dengan catatan harus berupa obat yang sudah teruji klinis, sehingga dosis dan cara penggunaannya jelas," imbuh dia.

Ia mengatakan, tentu saja masih ada obat lain yang dapat digunakan, tidak hanya ganja medis. Zullies menegaskan, posisi ganja medis ini sebenarnya justru merupakan alternatif dari obat-obat lain, jika memang tidak memberikan respon yang baik.

"Yang perlu diluruskan tentang ganja medis ini juga adalah bukan keseluruhan tanaman ganjanya, tetapi komponen aktif tertentu saja yang memiliki aktivitas farmakologi/terapi," ujar Zullies.

Sebagai informasi, ganja mengandung senyawa cannabinoid yang di dalamnya terdiri dari berbagai senyawa lainnya. Yang utama adalah senyawa tetrahydrocannabinol (THC) yang bersifat psikoaktif.

Lebih lanjut, senyawa lainnya adalah cannabidiol (CBD) yang memiliki aktivitas farmakologi, tetapi tidak bersifat psikoaktif. CBD memiliki efek salah satunya adalah anti kejang, yang merupakan salah satu efek dari pengobatan untuk cerebral palsy yang tengah ramai diperbincangkan belakangan ini.

Saat disinggung dari sisi regulasi, Zullies berpendapat hal tersebut bisa mengacu pada senyawa morfin, misalnya, yang juga berasal dari tanaman candu/opiat.

"Morfin adalah obat yang legal, dapat diresepkan untuk indikasi penyakit tertentu yang memang tidak bisa diatasi dengan obat lain, seperti nyeri kanker. Tentu dengan pengawasan dan distribusi yang ketat. Tetapi tanamannya kan tetap ilegal dan masuk ke dalam narkotika golongan 1, karena berpotensi besar untuk disalahgunakan," kata Zullies.

Jadi, lanjut dia, sama dengan ganja, hal yang sama juga bisa diperlakukan demikian.

"Untuk itu, perlu diatur kebijakan pemanfaatan obat yang berasal dari ganja, terutama jika sudah mengikuti kaidah riset dan penemuan obat, sampai obat didaftarkan di BPOM. Sementara, tanaman ganjanya tetap tidak bisa legal, karena berpotensi disalahgunakan," jelas Zullies.

Menurut dia, ganja medis bukan pemanfaatan ganja untuk alasan terapi, tetapi obat yang berasal dari komponen aktif ganja.

"Ini hal yang berbeda, karena ketika sudah dalam bentuk murni, maka bisa ditetapkan dosisnya, dan bisa dipisahkan dari senyawa yang bersifat psikoaktif (yang menyebabkan ketergantungan). Contoh ganja medis adalah cannabidiol. Obat ini sudah dikembangkan dan bahkan sudah disetujui FDA sebagai obat anti kejang," papar Zullies.

Ia menambahkan, selama pengembangan dan pemanfaatan ganja medis ini masih dalam koridor saintifik, didukung bukti klinis, dan sudah mempertimbangkan manfaat dan risiko (risk and benefit), maka alternatif ini baru bisa bermanfaat.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Dokter sebut terpapar polusi udara turunkan produksi kolagen
Kamis, 18 Agustus 2022 - 22:45 WIB

Dokter sebut terpapar polusi udara turunkan produksi kolagen

Dokter spesialis gizi dr. Yohan Samudra, Sp.GK menyebut terpapar polusi udara menjadi salah satu fak...
Studi: Jalan kaki dua menit setelah makan turunkan risiko diabetes
Minggu, 14 Agustus 2022 - 20:01 WIB

Studi: Jalan kaki dua menit setelah makan turunkan risiko diabetes

Tujuh studi yang dilakukan para peneliti di University of Limerick di Irlandia menunjukkan bahwa ber...
Nikotin bermanfaat jika dikonsumsi tepat dengan cara rendah risiko
Sabtu, 13 Agustus 2022 - 17:03 WIB

Nikotin bermanfaat jika dikonsumsi tepat dengan cara rendah risiko

Ahli Toksikologi dan akademisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Shoim Hidaya...
Dokter: ASI sedikit di hari pertama melahirkan tak perlu dikhawatirkan
Jumat, 12 Agustus 2022 - 19:47 WIB

Dokter: ASI sedikit di hari pertama melahirkan tak perlu dikhawatirkan

Konsultan laktasi dan instruktur pijit bayi RS Sari Asih Ciputat, Tangerang Selatan, dr. Hikmah Kurn...
Dokter Boyke beri tips jaga keperkasaan bagi pria
Kamis, 11 Agustus 2022 - 16:14 WIB

Dokter Boyke beri tips jaga keperkasaan bagi pria

Dokter spesialis kandungan dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS memberi tips agar para pria dapat menja...
Nihil pasien Covid-19, RSUD-CM alihkan fungsi Gedung RICU
Rabu, 10 Agustus 2022 - 13:23 WIB

Nihil pasien Covid-19, RSUD-CM alihkan fungsi Gedung RICU

Akibat nihilnya pasien Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia (RSUD-CM) Aceh Utara mengubah fun...
Nakes RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten lakukan vaksin booster kedua
Rabu, 10 Agustus 2022 - 11:12 WIB

Nakes RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten lakukan vaksin booster kedua

Pelaksanaan booster ke dua tenaga kesehatan (Nakes) RSUP dr Soeradji Tirtonegoro digelar di gedung p...
Sepanjang Tahun 2022, RSUD Cut Meutia Aceh Utara tangani 34 kasus DB
Rabu, 10 Agustus 2022 - 10:14 WIB

Sepanjang Tahun 2022, RSUD Cut Meutia Aceh Utara tangani 34 kasus DB

Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia (RSUD CM) Kabupaten Aceh Utara menangani 34 kasus warga terserang...
Satgas Yonif 126/KC edukasikan cara cuci tangan untuk anak Papua
Senin, 08 Agustus 2022 - 18:57 WIB

Satgas Yonif 126/KC edukasikan cara cuci tangan untuk anak Papua

Menanamkan pola hidup sehat sejak dini, Satgas Yonif 126/KC Pos Waris mengedukasi cara mencuci tanga...
KPA sebut kasus HIV/Aids di Klaten seperti fenomenan gunung es 
Senin, 08 Agustus 2022 - 16:27 WIB

KPA sebut kasus HIV/Aids di Klaten seperti fenomenan gunung es 

Temuan orang dengan HIV/Aids (ODHA) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah sangat mengkhawatirkan. Kasus k...

InfodariAnda (IdA)