Perlunya sosialisasi pengurangan bahaya tembakau kepada perokok dewasa

Elshinta
Kamis, 14 Juli 2022 - 21:21 WIB | Editor : Widodo | Sumber : Antara
Perlunya sosialisasi pengurangan bahaya tembakau kepada perokok dewasa
Bahaya tembakau kepada perokok dewasa. Ilustrasi (Pixabay) (Pixabay) (Pixabay)

Elshinta.com - Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (MASINDO) Dimas Syailendra Ranadireksa mendorong pemerintah dan berbagai lembaga lainnya agar aktif memberikan sosialisasi dan memperluas akses informasi terkait konsep pengurangan bahaya tembakau melalui penggunaan produk tembakau alternatif yang berbasis kajian ilmiah.

Menurut dia, kalangan perokok dewasa memerlukan informasi tersebut sebagai upaya untuk mengurangi bahkan berhenti dari kebiasaan merokok.

“Sangat disayangkan informasi mengenai produk tembakau alternatif yang telah teruji menerapkan konsep pengurangan risiko melalui kajian ilmiah ini belum tersebar secara luas bagi publik," kata dia, dalam keterangannya pada Kamis.

"Perlu adanya partisipasi dari pemerintah dalam mendistribusikan informasi akurat ini agar masyarakat, terutama perokok dewasa, mengetahui adanya produk yang lebih rendah risiko untuk membantu mereka beralih dari kebiasaannya,” kata dia.

Ia menyebutkan berbagai hasil kajian ilmiah yang dilakukan di dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, maupun kantong nikotin, sudah menerapkan konsep pengurangan risiko. Produk-produk tersebut mampu meminimalisasi risiko hingga 90 persen-95 persen dibandingkan dengan rokok.

Menurut Dimas, keterlibatan pemerintah dalam mendorong informasi hingga pemanfaatan produk tembakau alternatif sebagai solusi sangat mendesak. Sebab, prevalensi merokok di Indonesia masih tinggi meskipun sejumlah strategi telah dijalankan.

Selain itu, partisipasi pemerintah secara langsung dalam penyebaran informasi akan semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk tembakau alternatif sebagai produk yang teruji menerapkan konsep pengurangan risiko.

Dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat, keinginan perokok dewasa yang sulit berhenti merokok untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko dapat terwujud.

“Pemerintah bisa memulainya dengan memperkuat kepercayaannya sendiri terlebih dahulu lewat pembuktian fakta ilmiah terhadap produk tembakau alternatif. Namun, perlu diingat bahwa pemanfaatan produk ini hanya untuk mengurangi risiko dan dikhususkan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaannya,” jelasnya.

Senada dengan Dimas, Ketua Aliansi Vaper Indonesia (AVI) Johan Sumantri menilai kurangnya sosialisasi berpotensi menyulitkan para perokok dewasa untuk menemukan solusi mengurangi kebiasaan merokok. “Prevalensi merokok akan sulit ditekan,” ujar dia.

Untuk mengatasi hal ini, Johan pun memiliki saran yang sama dengan Dimas, yakni agar pemerintah terbuka melakukan studi atas produk-produk tembakau alternatif. Dengan demikian, pemerintah bisa mendapatkan gambaran jelas terkait manfaat dan risiko yang ada dalam produk ini. “Jika ini tidak dilakukan, mustahil pembatasan bisa dihilangkan,” ujarnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Dokter sebut deteksi dini gejala kanker ovarium kurangi risiko kematian
Sabtu, 03 Desember 2022 - 20:35 WIB

Dokter sebut deteksi dini gejala kanker ovarium kurangi risiko kematian

Elshinta.com, Mendeteksi dini keberadaan kanker ovarium dengan mengenal enam faktor risiko dan empat...
Guru Besar FKUI ingatkan perokok berisiko lebih besar kena TB
Sabtu, 03 Desember 2022 - 18:59 WIB

Guru Besar FKUI ingatkan perokok berisiko lebih besar kena TB

Elshinta.com, Guru Besar FKUI Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan para perokok berisiko lebih bes...
Toksikolog jelaskan perbedaan nikotin dengan TAR
Sabtu, 03 Desember 2022 - 12:49 WIB

Toksikolog jelaskan perbedaan nikotin dengan TAR

Elshinta.com, Bagi para perokok, istilah nikotin maupun TAR (total aerosol residue) tentunya tidak ...
Dokter spesialis minta anak dengan HIV positif untuk terapi obat ARV
Sabtu, 03 Desember 2022 - 11:59 WIB

Dokter spesialis minta anak dengan HIV positif untuk terapi obat ARV

Elshinta.com, Dokter spesialis anak di RSUD Komodo Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur d...
Pola makan dan olahraga kurangi risiko sindrom metabolik
Sabtu, 03 Desember 2022 - 08:01 WIB

Pola makan dan olahraga kurangi risiko sindrom metabolik

Elshinta.com, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (B...
Koreksi kelainan refraksi dan optimalkan kualitas penglihatan dengan Schwind Atos
Jumat, 02 Desember 2022 - 17:12 WIB

Koreksi kelainan refraksi dan optimalkan kualitas penglihatan dengan Schwind Atos

Elshinta.com, SILC Lasik Center menghadirkan layanan smart sight untuk mengoreksi kelainan refraksi ...
Dokter sebut mata kering sebabkan ketajaman penglihatan berkurang
Jumat, 02 Desember 2022 - 17:06 WIB

Dokter sebut mata kering sebabkan ketajaman penglihatan berkurang

Elshinta.com, Dokter spesialis mata di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana Jakarta,...
Penggunaan acne patch tak terlalu efektif untuk jerawat
Jumat, 02 Desember 2022 - 00:11 WIB

Penggunaan acne patch tak terlalu efektif untuk jerawat

Elshinta.com, Dokter Spesialis Kulit lulusan Universitas Indonesia Dr. Margaretha Indah Maharani, Sp...
Penggunaan `concealer `dapat timbulkan jerawat baru
Kamis, 01 Desember 2022 - 21:55 WIB

Penggunaan `concealer `dapat timbulkan jerawat baru

Elshinta.com, Menutupi jerawat dengan concealer atau foundation justru dapat membuat jerawat sem...
Pasien HIV/AIDS berisiko terkena TB
Kamis, 01 Desember 2022 - 18:22 WIB

Pasien HIV/AIDS berisiko terkena TB

Elshinta.com, Pasien HIV/AIDS berisiko 30 kali lipat lebih tinggi terkena tuberkulosis (TB), kata do...

InfodariAnda (IdA)