Seluruh elemen di Salatiga dukung anti kekerasan terhadap anak
Jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia masih tinggi. Momentum peringtan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2022 diharapkan semua elemen masyarkat terlibat dalam menurunkan angka kekerasan yang menimpa bagi anak-anak yang semestinya menikmati masa-masa indahnya.

Elshinta.com - Jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia masih tinggi. Momentum peringtan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2022 diharapkan semua elemen masyarkat terlibat dalam menurunkan angka kekerasan yang menimpa bagi anak-anak yang semestinya menikmati masa-masa indahnya.
Imam Fauzi Guru Agama Islam dan Seksi Kerohanian MAN Salatiga, Jawa Tengah mengatakan, peran orang tua sangat dominan dalam menjaga agar anak tidak menjadi korban kekerasan maupun tindakan asusila. Jika dititipkan di suatu lembaga pendidikan atau pondok pesantren orang tua juga harus mengontrol kondisi anak apa yang menjadi rutinitas kegiatan. Anak lanjut Imam, juga harus dijenguk tidak hanya sekedar dititipkan di suatu lembaga pendidikan atau pondok pesantren karena dengan menjenguk dapat berkomunikasi langsung dapat berinteraksi langsung terkait kondisi anak.
"Guru ditekankan cinta dalam mengajar siswa-siswi didiknya jika pun ada kesalahan yang dilakukan siswa hukuman diberikan dalam bentuk mendidik, seperti di MAN Salatiga jika terlambat sekolah diminta siswa untuk menunaikan salat dhuha atau mengaji," jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Pranoto, Sabtu (23/7).
Dukungan agar kekerasan anak tidak terjadi lagi juga datang dari Dekan Bawono, warga Domas Salatiga. Menurutnya sebagai orang tua sudah menjadi kewajiban untuk menjaga anak agar terhindar dari kejadian kekerasan anak maupun tindakan asusila.
"Anak juga diminta mau terbuka atau berani mengadu jika akan terjadi tindak kekerasan fisik maupun asusila sehingga dapat dicegah secara dini. Dari beberapa kasus kekerasan terhadap anak dan asusila yang terjadi akhir-akhir ini saya berharap semua pihak, masyarakat mempunyai kesadaran bahwa anak-anak itu harus mendapat perlindungan," katanya.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga Nunuk Dartini menyampaikan, menjadi keprihatinan bersama atas terjadinya kekerasan anak bahkan asusila akhir-akhir ini yang justru pelakunya dari orang orang terdekatnya, orang terpandang bahkan mempunyai ilmu keagamaan yang mumpuni. Untuk membuat efek jera lanjutnya hukum harus ditegakkan entah siapa pelakunya.
"Guna mendukung gerakan anti kekerasan terhadap anak Dinas Pendikan Kota Salatiga akan membentuk Pokja yang melibatkan guru pembina dan anak didik yang bertugas mengkampanyekan anti kekerasan anak dan menjadi teladan bagi masyarakat," tandasnya.