Cegah perkawinan anak jadi tanggung jawab bersama

Elshinta
Senin, 01 Agustus 2022 - 16:36 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan
Cegah perkawinan anak jadi tanggung jawab bersama
Sumber foto: Pranoto/elshinta.com.

Elshinta.com - Perkawinan anak  menjadi agenda pembangunan global, hal ini sesuai dengan target dan  tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs),  yakni kehidupan sehat dan sejahtera dan  kesetaraan gender pada capaian tahun 2030. Melalui tujuan pembangunan berrkelanjutan (SDGs), dunia berkomitmen untuk mengakhiri pernikahan anak pada tahun 2030.

Perkawinan anak sendiri sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan merupakan akibat dari ketidaksetaraan gender, pelanggaran hak dan bentuk kekerasan berbasis gender dengan dampak jangka panjang pada kesehatan fisik, mental, pendidikan, ekonomi, budaya  dan partisipasi politik anak perempuan. Setiap anak memiliki hak dalam menentukan masa depan dan menempuh jenjang pendidikan yang tinggi. Namun hal ini jauh berbeda  masih banyak perkawinan dibawah umur.

Perlu adanya terobosan dari  pemerintah dan masyarakat luas dalam mencegah perkawinan anak menjadi tanggung jawab bersama. Banyak faktor yang melatar belakangi pernikahan anak diantaranya ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan dan adat budaya. Faktor utama yang menjadi  pemicu  adalah kemiskinan, faktor geografis, kurangnya akses pendidikan, budaya, ketidaksetaraan gender, konflik sosial dan bencana, kurangnya akses ke layanan dan informasi kesehatan reproduksi yang komprehensif, dan norma sosial yang memperkuat stereotip gender tertentu. 

Dengan dukungan Irish Aid/Kedutaan Besar Irlandia di Jakarta dan deeVIMas-CAD, TRIPLE-F mengadakan kic off meeting bertema “Mengakhiri Pernikahan Anak Dengan Mewujudkan Hak Anak” yang digelar di  Hotel Alana, Solo, Jawa Tengah, Jumat (29/7), dengan tujuan untuk menekan pernikahan anak, pemenuhan hak anak perempuan & remaja putri dengan mewujudkan transformasi norma sosial dan gender. TRIPLE-F berkomitmen untuk mengarusutamakan isu lintas sektoral kesetaraan gender dan pemberdayaan anak perempuan dan perempuan muda di seluruh pekerjaan pembangunan kapasitas, analitis dan advokasi kebijakan. 

Panitia penyelenggara Yulius Gerry Permana menjelaskan, tujuan dialog publik adalah  mengadopsi pendekatan multi-sektoral dan multi-stakeholder untuk mengakhiri pernikahan anak, dengan mekanisme koordinasi yang efektif (masyarakat sipil, sektor swasta dan pemerintah).

"Serta untuk berkontribusi pada implementasi rencana, dengan organisasi individu, mengimplementasikan program-program yang termasuk dalam strategi, menyediakan informasi dan pelayanan akses pembelajaran untuk membangun kapasitas pemangku kepentingan nasional dan lokal dan kemitraan dalam advokasi mencapai tujuan dalam penurunan perkawinwan  anak dibawah umur," jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Pranoto, Senin (1/8). 

Adapun narasumber diantaranya, Divya Mukand (Girls Not Bride), M. Fakhrudin Kabid DP3AP2KB Kabupaten Jepara, Lutfy Mubarok, (pembela hak anak/advokat/- deeVIMas/CAD Fund), Yustin Sartika, (akademisi/pakar gender dan Pembangunan– UIN Raden Mas Said ).  Peserta terdiri dari pejabat pemerintah daerah, universitas, swasta, organisasi berbasis agama, feminis muda, LSM/CSO dan Forum Anak. 

Divya Mukand dalam paparanya menyampaikan,  data yang diperoleh dari beberapa negara di asia seperti Bangladesh, India dan  beberapa negara di Afrika seperti Uganda dan juga negara eropa seperti Amerika Serikat dan Belanda nikah keren telah lama dicanangkan.

"Di negara tersebut nikah dengan umur yang telah dewasa," jelasnya. 

Sementara, M Fakhrudin Kabid DP3AP2KB Kabupaten Jepara mengatakan, banyak faktor yang mempengaruhi  kawin bocah di Kabupaten Jepara naik dratis diantara budaya, ekonomi dan pola asuh. 

"Mimpi Jepara kekerasan perempuan perceraian dan perkawinan usia anak turun 50 persen  di tahun 2027 dan mempunyai satgas cegah kawin bocah. Inovasi Jepara dengan aplikasi Sapa Jepara," terangnya.

Sahabat Peduli Perempuan dan Anak. Yustin Sartika  menyoroti budaya pada pernikahan anak. "Pernikahan anak harus dicegah bersama," tandasnya.

Sedangkan Lutfy Mubarok menekankan, pertautan PA adanya kolaborasi masing-masing Dinas dalam penurunan angka kawin bocah. "Perkawinan bocah atau pernikahan dini ke depan diharapkan tidak terjadi lagi," ujarnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Psikolog: Nilai Pancasila bisa ditanamkan pada anak lewat keseharian
Sabtu, 01 Oktober 2022 - 09:31 WIB

Psikolog: Nilai Pancasila bisa ditanamkan pada anak lewat keseharian

Elshinta.com, Psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Vera Ita...
Pakar berikan kiat menanamkan nilai Pancasila pada anak
Sabtu, 01 Oktober 2022 - 08:31 WIB

Pakar berikan kiat menanamkan nilai Pancasila pada anak

Elshinta.com, Direktur Pendidikan KB-TK-SD Karakter di Genius Islamic school Eva Nawiyah memberikan ...
Anak butuh asupan air cukup agar tumbuh kembang optimal
Kamis, 29 September 2022 - 09:23 WIB

Anak butuh asupan air cukup agar tumbuh kembang optimal

Elshinta.com, Konsumsi cairan yang cukup setiap harinya sangat penting untuk bayi dan anak-anak agar...
Punya satu anak atau childfree adalah pilihan
Senin, 26 September 2022 - 20:15 WIB

Punya satu anak atau childfree adalah pilihan

Elshinta.com, Psikolog klinis dewasa Nirmala Ika Kusumaningrum, M.Psi., mengatakan memiliki hanya sa...
Psikolog bilang stres bisa sebabkan anak alami gangguan makan
Rabu, 21 September 2022 - 00:01 WIB

Psikolog bilang stres bisa sebabkan anak alami gangguan makan

Elshinta.com, Psikolog anak Samanta Elsener mengatakan stres bisa menjadi salah satu penyebab anak-a...
Dokter: Susu tidak bisa menggantikan makanan utama
Selasa, 20 September 2022 - 22:45 WIB

Dokter: Susu tidak bisa menggantikan makanan utama

Elshinta.com, Dokter spesialis gizi klinik Universitas Indonesia Diana Felicia Suganda mengatakan su...
Bupati: orang tua perlu diedukasi pentingnya imunisasi
Rabu, 14 September 2022 - 20:51 WIB

Bupati: orang tua perlu diedukasi pentingnya imunisasi

Elshinta.com, Bupati Solok Selatan, Sumatera Barat, Khairunas mengatakan orang tua perlu diberikan ...
Psikolog: orangtua perlu meningkatkan literasi digital
Rabu, 14 September 2022 - 09:39 WIB

Psikolog: orangtua perlu meningkatkan literasi digital

Elshinta.com, Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi mengatakan penting...
Dokter tak sarankan anak dengan autisme langsung dimasukkan PAUD
Jumat, 09 September 2022 - 07:01 WIB

Dokter tak sarankan anak dengan autisme langsung dimasukkan PAUD

Elshinta.com, Dokter spesialis anak konsultan neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indones...
Diagnosis autisme dapat dimulai sejak usia anak setahun
Jumat, 09 September 2022 - 06:45 WIB

Diagnosis autisme dapat dimulai sejak usia anak setahun

Elshinta.com, Dokter spesialis anak konsultan neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indones...

InfodariAnda (IdA)