Top
Begin typing your search above and press return to search.

Mengenang Waterleiding, saksi sejarah perjuangan rakyat Tegal lawan penjajah

Merunut sejenak pada masa perjuangan Kemerdekaan RI, terdapat kisah heroik bagaimana pemuda di Kota Tegal ikut berjuang melawan penjajah.

Mengenang Waterleiding, saksi sejarah perjuangan rakyat Tegal lawan penjajah
X
Sumber foto: Hari Nurdiansyah/elshinta.com.

Elshinta.com - Merunut sejenak pada masa perjuangan Kemerdekaan RI, terdapat kisah heroik bagaimana pemuda di Kota Tegal ikut berjuang melawan penjajah.

Terdapat kisah menarik yang patut dikenang, yakni pengibaran bendera merah putih di Menara Waterleiding atau yang kini dikenal dengan Menara PDAM.

Menurut Sejarawan Pantura, Wijanarto, pengibaran bendera merah putih di Waterleiding merupakan salah satu kisah menarik perjuangan Kemerdekaan 45 di Kota Tegal.

Selain itu, juga ada peristiwa pengepungan gudang senjata milik Jepang di Hotel Stoork di Jalan Pancasila, Kota Tegal yang menewaskan seorang pemuda asal Tegalsari, Kota Tegal.

"Para pemuda mengepung Hotel Stork dengan melempari bom molotov yang terbuat dari botol berisi minyak tanah dan disumpal dengan kain kemudian dibakar," ujar Wijanarto seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hari Nurdiansyah, Sabtu (20/8).

Peristiwa tersebut, lanjut Wijanarto, merupakan puncak perlawanan pemuda Kota Tegal melawan Jepang.

Peristiwa menjelang kemerdekaan di Kota Tegal relatif aman, sebab tidak menimbulkan banyak korban jiwa. Berbeda dengan perjuangan kemerdekaan di Pekalongan dan Semarang, di situ banyak pertempuran yang mengakibatkan banyak korban tewas.

Selanjutnya, setelah mendengar kabar dari para pemuda yang datang dari Jakarta, bahwa Soekarno-Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, mereka kemudian memberanikan diri mengibarkan bendera merah putih. Bendera merah putih dikibarkan oleh sekelompok pemuda salah satunya di puncak Menara Waterleiding.

"Kemudian yang menarik lagi, para pemuda mendirikan badan-badan perjuangan seperti Barisan Kelompok Pemuda, Pesindo Tegal, Laskar Rakyat, Angkatan Muda Kereta Api dan lainnya," tutur Wijanarto

Keberhasilan itu, kata Wijan sapaan akrab Wijanarto, bukan hanya atas perjuangan angkatan 45, namun juga didukung oleh angkatan 20-an.

"Itu yang menjadikan Kota Tegal ini menarik, yaitu komposisi pelaku revolusinya tidak hanya pemuda saja tetapi juga angkatan sebelumnya juga terlibat," pungkasnya.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire