Sabtu, 22 September 2018 | 19:06 WIB

Daftar | Login

kuping kiri paragames
emajels

/

Korban Bom Bali 2005 Mengaku Tak Lagi Marah Kepada Pelaku

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
<p xmlns="">Peristiwa yang terjadi 10 tahun lalu itu, dikenal pula sebagai Bom Bali kedua, dan menewaskan 15 warga Indonesia serta 4 warga Australia.</p><p xmlns="">Tiga tahun sebelumnya, yaitu tahun 2002, terjadi peristiwa Bom Bali pertama yang merenggut nyawa 202 orang, 88 di antaranya merupakan warga Australia.</p><div xmlns=""><span class="image_container" style="width:100%"><figure><img alt="Aleta Lederwasch, korban yang selamat dari serangan Bom Bali 2005." src="http://www.radioaustralia.net.au/sites/default/files/images/2015/09/30/6818124-3x2-700x467.jpg" style="width:100%" title="Aleta Lederwasch, korban yang selamat dari serangan Bom Bali 2005."></img><figcaption class="image_information"><div class="image_caption">Aleta Lederwasch, korban yang selamat dari serangan Bom Bali 2005.</div></figcaption></figure></span></div><p xmlns=""> </p><p xmlns="">Dalam Bom Bali kedua, tiga pelaku bom bunuh diri melakukan aksinya dengan sasaran restoran di Pantai Jimbaran dan sebuah kafe di <span style="line-height: 1.5em;">Kuta.</span></p><p xmlns="">Saat itu, Aleta Lederwasch yang masih berusia 21 tahun, pergi ke Bali sebagai perjalanan ke luar negeri yang pertama baginya. Wanita asal Kota Newcastle ini datang ke Bali bersama anggota keluarga dan temannya.</p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">Aleta menceritakan bahwa saat itu dia memang merasa agak was-was pergi ke Bali mengingat peristiwa serangan bom di tahun 2002 masih segar dalam ingatan.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">"Pantainya indah dengan pemandangan senja yang mengesankan. Semuanya begitu menenangkan namun memang saya sedikit was-was," katanya.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">"Saat ledakan pertama terdengar, karena jaraknya cukup jauh, kami tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi," jelas Aleta.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">"Mungkin saja sebuah ledakan gas dari kompor barbeque di pantai. Makanya banyak orang yang tetap di mejanya, tidak beranjak," tambahnya.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">"Saya sendiri menduga pasti ada sesuatu, jadi saya mencoba melihat sekeliling kami, dan sadar bahwa rombongan kami merupakan satu-satu kelompok orang kulit putih di situ. Kami menjadi target yang mudah jika ada serangan teroris," papar Aleta lagi.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">"Saya hanya berpikir saya harus mengurangi risiko menjadi target dan segera lari dari situ," ujarnya.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">Benar saja, hanya berselang hitungan sekitar 30 detik, terjadi ledakan kedua di Pantai Jimbaran, mengakibatkan sebaran serpihan tajam dari ledakan itu.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">Aleta terhantam serpihan tajam itu di bagian kakinya, namun dia mengatakan bersyukur karena masih selamat, begitu pula dengan orangtuanya.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">Kini, Aleta mengakui pengalaman itu menyisakan efek baginya, karena ia merasa mengalami kesulitan untuk melakukan perjalanan. Namun ia merasa bersyukur bia selamat dan mengaku tidak marah kepada pelaku.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">"Saya sangat beruntung selamat bisa tetap berjalan, beruntung masih bisa makan dan memiliki anak yang cantik," kata Aleta, yang kini memiliki seorang anak.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">"Namun saya sedih, orang yang melakukan hal ini saya bayangkan mereka bukanlah orang yang bahagia," tuturnya.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">"Memang banyak orang tidak bahagia namun orang yang melakukan hal ini adalah anak muda yang rentan dan lemah," katanya.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">Aleta mengatakan meningkatkan bantuan luar negeri Austarlia, yang ditujukan langsung bagi program pendidikan dan kesehatan, justru akan lebih efektif memberantas terorisme dibandingkan dengan jalan perang.</span></p><p xmlns=""><span style="line-height: 1.5em;">"Miliaran dolar dikucurkan untuk biaya perang, apa yang mereka sebut perang melawan terorisme. Jika saja dana itu disalurkan bagi kesehatan, rumahsakit, sekolah, saya percaya sepenuhnya hal-hal ini akan disambut baik dan setidaknya mengurangi risiko orang untuk terjebak dalam keputusasaan," papar Aleta </span><span style="line-height: 1.5em;">Lederwasch.</span></p><p xmlns=""> </p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 September 2018 - 18:50 WIB

Prabowo: Indonesia merdeka bukan untuk jadi antek asing

Aktual Dalam Negeri | 22 September 2018 - 18:37 WIB

Jokowi akan terima Din Syamsuddin terkait pengunduran diri

Lingkungan | 22 September 2018 - 18:25 WIB

LSM: Moratorium sawit langkah kurang bertaring

Sosbud | 22 September 2018 - 17:47 WIB

PP Sumut gelar renungan peringati Hari Kesaktian Pancasila

Pembangunan | 22 September 2018 - 17:35 WIB

Menko Kemaritiman: Pembangunan Bandara Singaraja harus jadi

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Kamis, 20 September 2018 - 16:37 WIB

KPU gelar pleno penetapan capres/cawapres Pilpres 2019

Kamis, 20 September 2018 - 16:00 WIB

KPU Muko-muko tetapkan 281 DCT anggota legislatif

Kamis, 20 September 2018 - 14:56 WIB

1.350 bibit pohon ditanam di lahan kritis

Rabu, 19 September 2018 - 16:23 WIB

Gubernur Babel kunjungi balita positif virus Rubella

Rabu, 19 September 2018 - 11:20 WIB

Pengemudi ojek online serbu Kantor Grab

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com