Indonesia Mengajar berbagi pengalaman abdi di pelosok timur Indonesia

Elshinta
Kamis, 22 September 2022 - 11:57 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan | Sumber : Elshinta.Com
Indonesia Mengajar berbagi pengalaman abdi di pelosok timur Indonesia
Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.

Elshinta.com - Sejak tahun 2010, Indonesia Mengajar hadir melalui terobosan para Pengajar Muda yang datang silih berganti di wilayah Timur Indonesia. Selama 12 tahun perjalanan, Indonesla Mengajar telah menyakslkan potret-potret perjuangan yang diinisiasi dan digaungkan oleh para penggerak pendidikan di Timur Indonesia.

Indonesia Mengajar ikut bekerja bersama penggerak pendidikan dan mendapat berbagai cerita yang menampik asumsi terhadap kenyataan pembangunan SDM Timur Indonesia. Meski tak bisa dibenarkan (terlebih lagi dinormalisasi), kemunculan asumsi-asumsi miring tentang Timur Indonesia dihadirkan melalui pemberitaan tentang perspektif yang cenderung negatif: intoleran, serba kekurangan, bahkan rentan terhadap kekerasan.

Kondisi yang terjadi di lapangan, tidak selalu sesuai dengan asumsi-asumsi yang sering diberitakan diberbagai media. Sejauh ini, langkah paling ideal untuk bisa memahami Timur Indonesia yakni dengan mendalami secara langsung upaya pengembangan di Indonesia Timur.

Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, Hikmat Hardono, Indonesia Mengajar kali ini melakukan langkah sebaliknya yakni menghadirkan masyarakat dari berbagai wilayah Timur Indonesia untuk membagi pengalaman membangun SDM di Timur Indonesia melalui Konferensi Pendidikan di Timur Indonesia. Menurutnya, penting untuk mendengar lebih baik dari masyarakat, tidak hanya mendengar dari akademisi. Apalagi, masalah ketertingalan di Indonesia Timur adalah benang kusut yang harus diurai pelan-pelan.

“Saya khawatirnya justru karena kita suka buru-buru membayangkan harus ada satu solusi tunggal dan raksasa, sehingga kita harus berpikir dan bersepakat atas satu solusi jangan-jangan tekniknya atau pendekatannya lebih terbuka saja dan lebih beragam,” katanya.

Apalagi, tantangan manusia dan budaya di Timur Indonesia yang cukup berat, Indonesia mengajar menginginkan sebuah langkah yang lebih terbuka, mendengar dan turun langsung ke lapangan, turut merasakan langsung apa saja yang terjadi di sana.

“Syaratnya untuk berani beragam dengan pendekatan di lapangan. Kita harus terbuka dulu. Kita nggak pernah bisa memahami bahwa pendekatan pengembangan pendidikan itu bisa dan harus beragam tanpa kita berani mendengar dan bersikap terbuka lebih dalam tentang apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan,” sambung dia.

Adapun Konferensi Pendidikan di Timur Indonesia dikemas dalam sajian berbagai ruang untuk wahana interaksi dan diskusi. Menghadirkan berbagai pembicara yang mengalami dan menyelami bagaimana sesungguhnya pendidikan di Timur Indonesia.

Dalam konferensi ini, pembicara menuturkan fakta-fakta, membagikan potret-potret perjuangan di daerah, mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menyelami realita. Konferensi ini akan menyediakan ruang-ruang untuk berdiskusi dan melihat lebih dekat tentang pendidikan di Timur melalui Ruang Kebijakan, Ruang Budaya dan Pendidikan, Ruang Dampak Berkelanjutan, Ruang Inisiatif, dan Ruang Interaksi.

“Kita bikin semacam forum dimana orang -orang ini, penggerak-penggerak riil di lapangan itu bercerita dengan perspektif mereka tanpa di-just lebih dulu tanpa dihakimi lebih dulu dan kita mencoba mendengarkan lebih dingin dan terbuka,” jelas Hikmat Hardono.

Selain berdiskusi dan bertemu langsung dengan penggerak pendidikan, konferensi ini juga menghadirkan Pesta Dansa untuk merasakan budaya dan tradisi masyarakat Timur Indonesia.

Amos Atkana, salah satu narasumber yang dihadirkan langsung dari Kabupaten Maybrat akan menceritakan upayanya mendirikan Rumah Belajar Atmatu dan mengajak orang lain untuk turut berkontribusi bagi pendidikan dengan mengadakan kegiatan Nama Bacita-Cita. Kegiatan ini merupakan sebuah perkenalan beragam profesi kepada siswa Paud hingga SMA di Maybrat, Papua Barat. 

Selain itu, para peserta konfernsi akan juga akan mendengar cerita dari lbu Tersiana Tade, orang tua siswa dan guru di Kabupaten Sabu Raijua yang menghadirkan pembelajaran kreatif dan kontekstual berdasarkan potensi daerah di kelas.

Narasumber lain yakni dari Kepulauan Aru, Musa Labetubun, seorang Kepala Sekolah di SD Inpres Kolijabi yang juga penempatan Pengajar Muda. Musa Labetubun membagikan pandangan tentang melibatkan orang tua dalam proses belajar anak dengan membagikan tablet yang merupakan faslitas sekolah (sebelumnya hanya diletakan dl gudang) untuk ikut mendampingl anak-anak belajar di rumah.

Adapun Konferensi Pendidikan di Timur Indonesia berlangsung selama dua hari, mulai 24 sampai 25 September di Kementerlan Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Jakarta. 

Kegiatan ini akan menghadirkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat Timur Indonesia, para penggerak pendidikan, pemerintah daerah dan pusat, NGO, media, hingga akademisi dan peneliti pendidikan di wilayah Timur.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Sembilan sekolah jadi pilot projek pendidikan antikorupsi
Jumat, 02 Desember 2022 - 16:57 WIB

Sembilan sekolah jadi pilot projek pendidikan antikorupsi

Elshinta.com, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan sembilan sekolah dan madrasah di Lampung...
Dies Natalis ke-66, Rektor perempuan pertama UKSW dilantik 
Kamis, 01 Desember 2022 - 14:58 WIB

Dies Natalis ke-66, Rektor perempuan pertama UKSW dilantik 

Elshinta.com, Menjadi puncak peringatan Dies Natalis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salat...
11 negara ikuti ICASVE 2022 vokasi UB 
Kamis, 01 Desember 2022 - 14:25 WIB

11 negara ikuti ICASVE 2022 vokasi UB 

Elshinta.com, Untuk kali kedua Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur mengge...
Kepala BIN sebut AMN Surabaya jadi model rumah kebhinekaan
Selasa, 29 November 2022 - 21:45 WIB

Kepala BIN sebut AMN Surabaya jadi model rumah kebhinekaan

Elshinta.com, Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Budi Gunawan mengatakan pembangunan Asrama Mahasis...
Ok Oce - Yasma wisuda lulusan program `Pemberantasan Buta Aksana Anak Usia Sekolah`
Selasa, 29 November 2022 - 14:48 WIB

Ok Oce - Yasma wisuda lulusan program `Pemberantasan Buta Aksana Anak Usia Sekolah`

Elshinta.com, OK OCE Kemanusiaan bekerjasama dengan YASMA (Yayasan Abang Mpok Sahabat Anak) serta Ka...
Ribuan guru di Boyolali  gelar sarasehan pendidikan dan doa bersama untuk korban gempa Cianjur 
Sabtu, 26 November 2022 - 17:22 WIB

Ribuan guru di Boyolali  gelar sarasehan pendidikan dan doa bersama untuk korban gempa Cianjur 

Elshinta.com, Seribu guru SD/MIM se-Kabupaten Boyolali Jawa Tengah ,ikuti sarasehan dan Doa bersama...
Gubernur Jawa Barat semangati guru yang terdampak gempa di Cianjur 
Sabtu, 26 November 2022 - 15:35 WIB

Gubernur Jawa Barat semangati guru yang terdampak gempa di Cianjur 

Elshinta.com, Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil menyemangati guru-guru yang terdampak gempa bumi di...
Sejumlah guru berprestasi dapat penghargaan dari Pemkab Aceh Utara
Sabtu, 26 November 2022 - 14:43 WIB

Sejumlah guru berprestasi dapat penghargaan dari Pemkab Aceh Utara

Elshinta.com, Memperingati hari ulang  tahun Persatuan Guru Republik Indonesia ke 77 tahun dan Hari...
Mendikbudristek ajak para guru untuk berinovasi
Sabtu, 26 November 2022 - 13:44 WIB

Mendikbudristek ajak para guru untuk berinovasi

Elshinta.com, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Ma...
Sulap gudang jadi musala, Prajurit Ajusta ajar mengaji di daerah penugasan
Sabtu, 26 November 2022 - 11:43 WIB

Sulap gudang jadi musala, Prajurit Ajusta ajar mengaji di daerah penugasan

Elshinta.com, Pos Ramil Laha yang tergabung dalam Satgas Satuan Organik Yonarmed 1 Kostrad, selain ...

InfodariAnda (IdA)