Imunolog larang orang tua beri antibiotik anak demam tanpa indikasi

Elshinta
Rabu, 26 Oktober 2022 - 19:52 WIB | Editor : Calista Aziza | Sumber : Antara
Imunolog larang orang tua beri antibiotik anak demam tanpa indikasi
Ilustrasi.

Elshinta.com - Dokter spesialis anak konsultan alergi imunologi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K) melarang orang tua langsung memberikan antibiotik pada anak yang demam tanpa adanya indikasi.

"Kita harus hati-hati dan waspada dalam penggunaan antibiotik, apalagi akhir-akhir ini di negara India ada fenomena superbugs, jadi bakteri-bakteri itu sudah resisten terhadap penggunaan antibiotik," ujar dia dalam webinar "Bicara Gizi", Rabu.

Molly mengatakan, pemberian antibiotik tak rasional misalnya tidak sesuai indikasi, durasi, dosis dapat mengganggu pertumbuhan atau perkembangan sistem imun tubuh dan perkembangan otak anak.

"Penggunaan antibiotik tidak rasional akan mengganggu perkembangan sistem imun. Kalau sistem imun terganggu maka akan mengganggu perkembangan otak," kata dia.

Menurut Molly, antibiotik akan merusak struktur mikrobiota komensal atau makhluk hidup yang tidak bersifat merugikan bahkan membunuhnya. Dampak lainnya pada tubuh akibat penggunaan antibiotik tak rasional yakni terjadinya resistensi terhadap jenis antibiotik tertentu.

Umumnya, petugas kesehatan meresepkan antibiotik pada kondisi infeksi yang sudah terkonfirmasi akibat bakteri berdasarkan hasil pemeriksaan. Mereka memberikan antibiotik berdasarkan indikasi, dosis yang disesuaikan dengan berat badan, usia, gejala anak untuk mengatasi gejala infeksi tertentu.

Umumnya pada infeksi bakteri yang tidak begitu berat, pemberian antibiotik tidak akan lama, yakni lima sampai tujuh hari.

"Kalau pemberiannya sesuai maka tidak akan mengganggu keragaman, jumlah mikrobiota di dalam usus, sehingga tak akan ganggu daya tahan tubuh anak. Setelahnya, mikrobiota yang didapat dari makanan sehari-hari akan ada lagi," ujar Molly.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada kasus resistensi antibiotik, maka infeksi seperti pneumonia, TBC dan penyakit bawaan makanan dapat menjadi lebih sulit, dan terkadang tidak mungkin, untuk diobati karena antibiotik menjadi kurang efektif.

Menurut mereka, karena antibiotik dapat dibeli untuk penggunaan manusia atau hewan tanpa resep, munculnya dan penyebaran resistensi menjadi lebih buruk. Demikian pula, di negara-negara tanpa pedoman pengobatan standar, antibiotik sering diresepkan secara berlebihan oleh petugas kesehatan dan dokter hewan dan digunakan secara berlebihan oleh masyarakat.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Gejala penyakit syaraf tidak boleh diabaikan kaum muda
Kamis, 09 Februari 2023 - 09:07 WIB

Gejala penyakit syaraf tidak boleh diabaikan kaum muda

Elshinta.com, Gejala penyakit saraf seperti sakit kepala, nyeri tengkuk, nyeri pinggang bawah, kesem...
Tips konsumsi obat yang aman untuk balita
Rabu, 08 Februari 2023 - 16:30 WIB

Tips konsumsi obat yang aman untuk balita

Elshinta.com, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengimbau masyarakat untuk lebih teliti dan ber...
Hasil uji dua lab independen nyatakan Praxion tak mengandung cemaran EG/DEG
Rabu, 08 Februari 2023 - 11:46 WIB

Hasil uji dua lab independen nyatakan Praxion tak mengandung cemaran EG/DEG

Elshinta.com, PT Pharos Indonesia pada Selasa (7/2) menyampaikan hasil uji ulang keamanan produk Pra...
 Pastikan mutu dan keamanan Praxion, PT Pharos Indonesia lakukan voluntary recall
Selasa, 07 Februari 2023 - 10:05 WIB

Pastikan mutu dan keamanan Praxion, PT Pharos Indonesia lakukan voluntary recall

Elshinta.com, Terkait pemberitaan mengenai pasien anak yang mengalami Gagal Ginjal Akut Progresif At...
Ahli jelaskan klaim jus jambu dapat obati DBD hanya mitos
Senin, 06 Februari 2023 - 22:47 WIB

Ahli jelaskan klaim jus jambu dapat obati DBD hanya mitos

Elshinta.com, Ketua Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) sekaligus spesialis anak dan konsu...
Virus campak dapat menular dengan cepat, perlukah lakukan isolasi?
Senin, 06 Februari 2023 - 20:59 WIB

Virus campak dapat menular dengan cepat, perlukah lakukan isolasi?

Elshinta.com, Penderita campak sebaiknya dirawat di ruang khusus atau melakukan isolasi agar tak men...
Dua pakar bedah plastik Kanada latih 40 dokter Indonesia operasi bibir sumbing
Sabtu, 04 Februari 2023 - 19:24 WIB

Dua pakar bedah plastik Kanada latih 40 dokter Indonesia operasi bibir sumbing

Elshinta.com, Pakar bedah plastik asal Canada, Dale Podolsky seorang Craniofacial and Cleft Surgery...
Danramil 1710-07/Mapurujaya beri bantuan untuk anak stunting di Mimika, Papua
Sabtu, 04 Februari 2023 - 16:07 WIB

Danramil 1710-07/Mapurujaya beri bantuan untuk anak stunting di Mimika, Papua

Elshinta.com, Untuk kesekian kalinya Danramil 1710-07/Mapurujaya Lettu Inf Yakonias Maniagasi melaks...
4 Langkah untuk hindari orang-orang `toxic`
Sabtu, 04 Februari 2023 - 14:11 WIB

4 Langkah untuk hindari orang-orang `toxic`

Elshinta.com, Orang-orang yang berpengaruh buruk atau dikenal sebagai toxic people dapat mempengar...
Manfaat Hyalucomplex-10 dan Panthenol untuk hidrasi kulit
Sabtu, 04 Februari 2023 - 09:15 WIB

Manfaat Hyalucomplex-10 dan Panthenol untuk hidrasi kulit

Elshinta.com, Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis dengan tingkat kelembapan udara ...

InfodariAnda (IdA)