Pertamina konsisten dukung UNS produksi baterai lithium kendaraan listrik
Elshinta.com, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo konsisten produksi battery cell untuk kendaraan listrik.

Elshinta.com - Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo konsisten produksi battery cell untuk kendaraan listrik. Sejak diluncurkan pada tahun 2018 silam, kapasitas produksi mesin inovasi kalangan akademisi mampu menghasilkan 1.000 - 1.500 cell baterai per hari. Produksi cell baterai berbahan lithium ferofosfat atau Lithium Ion Battery (LIB) berjenis silinder 1865 ini juga kerjasama dengan Pertamina dalam pemasarannya.
Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS sekaligus pemrakarsa LIB, Profesor Muhammad Nizam mengatakan, inovasi kalangan akademisi ini untuk menjawab peluang program kendaraan listrik di Indonesia. Pemerintah kembali mendengungkan pengembangan kendaraan listrik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM). Juga menurunkan emisi karbon dari bahan bakar fosil tersebut. Selain itu, kendaraan ramah lingkungan dengan bahan bakar terbarukan seperti kendaraan listrik memiliki pasar yang potensial di Indonesia.
"Sebenarnya ada dua material baterai yang dikerjasamakan dengan Pertamina. Tetapi cell baterai yang diproduksi UNS saat ini memang baru satu jenis, yakni silinder ukuran 1865," kata Nizam seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Deni Suryanti, Kamis (10/11).
Menurut dia, satu unit battery pack LIB memiliki kapasitas 3 kWh untuk motor listrik dengan kekuatan 5 Kw, atau lebih kurang setara dengan mesin motor dengan pembakaran internal berkapasitas 125-150 cc. Perbandingannya, sama dengan jarak tempuh sepeda motor dengan pembakaran internal yang membutuhkan bahan bakar 2-3 liter. Baterai mampu menggerakkan sepeda motor listrik dengan jarak tempuh 80-100 kilometer dengan biaya Rp5.000. Kendaraan listrik yang didesain menggunakan battery pack cukup 2-3 kali mengisi ulang per minggu untuk pemakaian normal dalam kota.
"Cell baterai buatan UNS bisa digunakan pada sepeda motor listrik dan sepeda listrik," lanjut peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS ini.
Selain untuk mengurangi ketergantungan impor, komponen utama kendaraan listrik yakni baterai, tambah Nizam, cell baterai buatan dalam negeri diharapkan mampu memangkas biaya produksi kendaraan listrik. Sehingga harga unit kendaraan dipasaran otomatis juga bisa ditekan lebih murah. Karena memang kendala pasar kendaraan listrik adalah harganya cukup mahal.
"Harga kendaraan listrik saat ini relatif mahal salah satu faktor karena komponen utamanya, yakni battery pack. Satuan unit baterai kendaraan listrik dibanderol dengan kisaran harga Rp8 juta," jelasnya.
Dengan menggunakan merek dagang Serphos, baterai lithium ini dijual Rp40.000 per cell. Pihaknya juga menerima pesanan pembuatan baterai untuk prototype kendaraan listrik maupun mesin listrik dengan jenis bahan dan ukuran yang sesuai permintaan pemesan. Produk cell baterai buatan UNS ini juga telah memiliki pasarnya sendiri. Bersaing dengan produk sejenis buatan luar negeri yang diimpor oleh distributor maupun pabrikan lokal dengan kapasitas produksi besar.
Sementara, Pertamina sendiri giat bekerjasama dengan sejumlah lembaga riset untuk menjawab tantangan industri baterai. Diantaranya peningkatan kapasitas battery lithium ion dan peningkatan aspek keamanannya. Pertamina dalam release resminya menegaskan, keseriusannya dan fokus dalam pengembangan ekosistem Electrical Vehicle (EV) di Indonesia dengan mempercepat pembangunan EV Battery.
Pengembangan dan pemasaan battery cell dan battery pack menjadi lokus bidang yang digarap Pertamina. Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menyebutkan, pihaknya memastikan tahapan dan langkah dalam pengembangan EV Battery berjalan dengan baik.