Waspada pneumonia jika frekuensi nafas balita lebih 40 kali per menit

Elshinta
Kamis, 17 November 2022 - 21:36 WIB | Editor : Sigit Kurniawan | Sumber : Antara
Waspada pneumonia jika frekuensi nafas balita lebih 40 kali per menit
Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta.com - Dokter Spesialis Paru RSUD Cilincing Jakarta Agung Prasetyo mengingatkan para orang tua untuk mewaspadai gejala pneumonia jika frekuensi nafas bayi usia 1-5 tahun lebih dari 40 kali per menit.

“Bayi 1-2 bulan kalau frekuensi nafasnya lebih dari 60 kali per menit itu kita curigai ada pneumonia. Usia 2-12 bulan frekuensi nafasnya di atas 50 kali per menit dan usia di atas 12 bulan hingga kurang dari 5 tahun frekuensinya lebih dari 40 kali per menit kita curiga ada pneumonia,” kata Agung Prasetyo dalam Talkshow Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang disiarkan secara daring, Kamis (17/11).

Agung menyampaikan keluhan yang sering timbul pada pasien pneumonia adalah gangguan respirasi yang bisa dalam bentuk batuk atau nyeri di salah satu bagian tertentu di dada. Batuknya juga beragam, mulai dari batuk berdahak dengan dahak kental berwarna hijau, kuning hingga bening atau dahak yang berbau. Kemudian demam dan perubahan pada cara bernafas dan frekuensi nafas yang meningkat.

“Kemudian, gerakan nafasnya tidak sinkron, saat tarik nafas malah ada tarikan bidang dada ke dalam, sehingga nafasnya tidak sinkron dan itu kita harus curiga sebagai orang tua,” ucapnya.

Sedangkan gejala pneumonia pada orang lanjut usia sering kali tidak khas, karena adanya perbedaan sistem imun, sehingga fungsi saluran nafas dalam merespons batuk tidak terlalu baik. Kendati demikian, jika terjadi perbedaan cara bernafas pada orang tua lanjut usia, harus segera diperiksakan ke fasilitas layanan kesehatan terdekat sebagai upaya mencegah terjadinya pneumonia.

Lebih lanjut, Agung menyampaikan bahwa pneumonia merupakan penyakit akibat infeksi dengan angka kematian paling tinggi nomor satu di kalangan orang tua, dewasa maupun anak.

Pada orang tua dan dewasa, paparan asap rokok dan asap kendaraan bermotor menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pneumonia, karena asap tersebut dapat mengganggu fungsi dari silia. Silia bertugas untuk mengeluarkan dahak atau kotoran yang terhirup oleh hidung dan dikeluarkan dengan refleks batuk, sehingga tidak tertelan ke dalam paru-paru.

“Fungsi itu rusak, menjadi rentan sekali debu dan asap mengakibatkan kolonisasi dari bakteri, sehingga makin banyak dan terjadi pneumonia,” tuturnya.

Selain itu, penyakit lain yang diderita seperti diabetes melitus, penyakit auto imun seperti lupus dan penderita HIV juga meningkatkan peluang terjadinya pneumonia.

Adapun pengobatan untuk penderita pneumonia bisa dilakukan melalui rawat inap dan rawat jalan. Bagi pasien rawat inap, dokter akan melakukan pemeriksaan dahak untuk menentukan penyebab pneumonia berasal dari kuman, virus atau bakteri, lalu memberikan obat sesuai pemeriksaan hasil kultur dahak dan disertai obat-obatan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Sedangkan untuk pneumonia ringan bisa diobati dengan rawat jalan. Begitu diagnosisnya telah ditegakkan, dokter akan memberikan antibiotik sesuai indikasi dan memberikan obat simtomatik dan obat penguat imun.

“Jika ada permasalahan di saluran nafas seperti dahak susah dikeluarkan, kita beri pengencer dahak dan obat-obat pendukung yang juga didukung oleh perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker, mengurangi interaksi dan nutrisi yang seimbang,” ujar dia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Satgas Yonarmed 1 Kostrad gelar pelayanan kesehatan keliling
Minggu, 29 Januari 2023 - 20:23 WIB

Satgas Yonarmed 1 Kostrad gelar pelayanan kesehatan keliling

Elshinta.com, Kondisi cuaca yang tidak menentu dan tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari te...
Korps Brimob dan BKKBN jalin kerja sama percepat penanganan `stunting`
Sabtu, 28 Januari 2023 - 23:34 WIB

Korps Brimob dan BKKBN jalin kerja sama percepat penanganan `stunting`

Elshinta.com, Korps Brigade Mobile (Brimob) Polri menjalin kerja sama dengan Badan Kependudukan dan ...
Konsumsi suplemen teh hijau dosis tinggi bisa picu kerusakan hati
Sabtu, 28 Januari 2023 - 10:25 WIB

Konsumsi suplemen teh hijau dosis tinggi bisa picu kerusakan hati

Elshinta.com, Antioksidan pada teh hijau dikenal memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Kend...
Bolehkah divaksin campak sekaligus booster COVID-19?
Jumat, 27 Januari 2023 - 22:41 WIB

Bolehkah divaksin campak sekaligus booster COVID-19?

Elshinta.com, Pakar kesehatan Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, Sp. A, Subsp. I.P.T., M.TropPae...
Pakar: Kesadaran masyarakat terhadap gizi seimbang harus ditingkatkan
Jumat, 27 Januari 2023 - 09:31 WIB

Pakar: Kesadaran masyarakat terhadap gizi seimbang harus ditingkatkan

Elshinta.com, Pakar pangan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Hery Winarsi meng...
Manfaat suplemen fiber untuk diet
Jumat, 27 Januari 2023 - 09:19 WIB

Manfaat suplemen fiber untuk diet

Elshinta.com, Suplemen serat diklaim mampu memberikan manfaat bagi tubuh, terutama membantu menurunk...
Pakar ingatka konsumsi ikan yang cukup pada ibu hamil bisa cegah stunting
Jumat, 27 Januari 2023 - 02:23 WIB

Pakar ingatka konsumsi ikan yang cukup pada ibu hamil bisa cegah stunting

Elshinta.com, Guru Besar Ilmu Gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Hardinsyah mengatakan b...
Dokter ingatkan masyarakat agar makan jangan asal kenyang
Kamis, 26 Januari 2023 - 20:53 WIB

Dokter ingatkan masyarakat agar makan jangan asal kenyang

Elshinta.com, Pakar gizi dr Ida Gunawan, M.S, Sp.GK (K), FINEM mengingatkan masyarakat agar makan ta...
Jaga kekebalan tubuh usai divaksin dengan cukupi nutrisi
Kamis, 26 Januari 2023 - 17:42 WIB

Jaga kekebalan tubuh usai divaksin dengan cukupi nutrisi

Elshinta.com,
Protein hewani penting untuk pertumbuhan optimal anak
Kamis, 26 Januari 2023 - 09:47 WIB

Protein hewani penting untuk pertumbuhan optimal anak

Elshinta.com, Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia atau Pergizi Pangan Indonesia menyampaik...

InfodariAnda (IdA)