Top
Begin typing your search above and press return to search.

Cuaca panas di Sukoharjo ternyata karena fenomena solstice

Elshinta.com, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dan sekitarnya dilanda cuaca panas sejak beberapa hari terakhir. Selain itu, perbedaan waktu siang dan malam dimana siang hari terasa lebih lama dibandingkan waktu malam.

Cuaca panas di Sukoharjo ternyata karena fenomena solstice
X
Ilustrasi. Foto: Macrovector/Freepik.com/elshinta.com.

Elshinta.com - Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dan sekitarnya dilanda cuaca panas sejak beberapa hari terakhir. Selain itu, perbedaan waktu siang dan malam dimana siang hari terasa lebih lama dibandingkan waktu malam.

Kepala Pusat Astronomi Pondok Pesantren Assalaam di Pabelan Kartasura Sukoharjo, AR Sugeng Riyadi mengatakan, cuaca panas yang terjadi saat ini karena dampak fenomena solstice atau titik balik matahari. Tidak hanya terjadi di Eks Karesidenan Surakarta, tetapi juga daerah lain di Indonesia.

Fenomena alam yang wajar terjadi dua kali setahun pada Bulan Juni dan Desember. Dimana waktu siang menjadi lebih lama dan suhu udara terasa lebih panas. "Puncak fenomena solstice diperhitungkan terjadi pada 21 - 22 Desember," kata Sugeng Riyadi, Rabu (21/12).

Hal ini lanjut Sugeng Riyadi, cuaca panas dipengaruhi posisi matahari pada Bulan Desember ini berada di lintang paling selatan atau 23,5 derajat lintang selatan. Matahari nampak seolah terbit dan tenggelam dititik paling selatan. Sementara Pulau Jawa berada dibagian selatan garis katulistiwa.

Sedang pada Bulan Juni yang terjadi sebaliknya, matahari akan lebih banyak berada dibagian utara garis katulistiwa. Akibat dari fenomena solstice siang menjadi lebih lama dibanding malam dibelahan bumi yang dilintasi garis edar matahari. Lalu, karena bumi bagian selatan lebih banyak laut maka peluang penguapan lebih tinggi.

Menurut dia, Bulan Desember ini masuk musim penghujan. Dengan adanya fernomena solstice terjadi penguapan dibagian selatan bumi, maka arah angin akan berhembus di bagian utara. Membawa udara panas dan juga awan maka biasanya wilayah yang berada dibagian utara lebih sering hujan. Fenomena solstice akan berhenti dan cuaca akan berangsur normal setelan 22 Desember besok.

"Pergeseran matahadi ini merupakan akibat bumi berevolusi mengelilingi matahari dan sumbu rotasnya membentik sudut 47 derajat terhadap bidang ekliptika dengan kemiringan tetap," terangnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Deni Suryanti.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire