Peringati 1 Abad NU, jamaah umroh di Tanah Suci gelar doa bersama
Elshinta.com, Peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama yang pada 16 Rajab 1444 H mendatang akan berusia 100 tahun atau 1 abad menggema hingga ke Tanah Suci, tepatnya di Kota Thaif, Arab Saudi, Senin (30/1/2023). Kegiatan tersebut dilakukan oleh warga NU yang sedang melaksankan ibadah umrah.

Elshinta.com - Peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama yang pada 16 Rajab 1444 H mendatang akan berusia 100 tahun atau 1 abad menggema hingga ke Tanah Suci, tepatnya di Kota Thaif, Arab Saudi, Senin (30/1/2023). Kegiatan tersebut dilakukan oleh warga NU yang sedang melaksankan ibadah umrah.
Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Jawa Timur menginisiasi kegiatan yang bertajuk Doa Bersama dari Tanah Suci Memperingati Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) ini. KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq yang kebetulan juga sedang umrah turut hadir bersama seribu Nahdliyin di acara tersebut.
Kegiatan dimulai dengan pembacaan ayat Suci Al-Qur’an yang dilanjut dengan pembacaan untaian shalawat Nabi Muhammad saw, mahallul qiyam. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathan.
Ketua GP Ansor Jawa Timur, Syafiq Syauqi mengatakan bahwa kegiatan ini digelar untuk memperingati usia NU yang telah memasuki Abad Kedua.
Pada peringatan 1 Abad NU, di tanah air ada banyak acara, halaqah Fikih Peradaban, R20, Puncak Resepsi 1 Abad NU dan kegiatan lain. “Kita memeriahkan dengan kegiatan ini di Thaif,” ujarnya.
Ia meminta warga NU khususnya Ansor untuk menghadiri acara Resepsi 1 Abad NU di Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur pada 7 Februari 2023.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Muwafiq menyampaikan ceramah mengenai perjalanan kenabian di tanah Makkah mulai pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rahmah, lalu hingga cerita Nabi Ibrahim yang menitipkan anaknya di tanah Makkah.
“Saat Nabi Ibrahim as menitipkan anaknya, Nabi Ismail di tanah yang tandus, beliau menunjukkan bahwa keyakinan pada Allah SWT mengalahkan kepercayaan pada panca indra dan akal pikirannya,” ujar Gus Muwafiq.
Sebab dalam kondisi itu, Nabi Ibrahim ‘menitipkan’ anak dan istrinya di tanah Makkah yang tidak punya tumbuhan. Namun di balik itu, menurut Gus Muwafiq, Nabi Ibrahim memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki kekuasaan untuk menjaga anak dan istrinya.
Dalam ukuran akal sehat, lanjut Gus Muwafiq, dalam keadaan tidak ada tumbuhan, seharusnya tidak ada buah yang bisa menghidupi anak-istri Nabi Ibrahim. Namun fakta tersebut dikalahkan oleh keyakinan Nabi Ibrahim atas kuasa Allah.
Gus Muwafiq melanjutkan, cerita kenabian di Makkah dilanjutkan dengan sejarah nabi-nabi dari kalangan bani Israil sebelum akhirnya berpindah kembali ke Makkah dengan Nabi Muhammad.
“Ini adalah perjalanan panjang sejarah Kenabian di tanah ini,” ujarnya.
Nahdlatul Ulama merupakan kelanjutan dari sejarah tersebut. Tauhid dan ubudiyah yang dipraktikkan oleh NU merupakan ajaran dari Nabi Muhammad yang juga merupakan kelanjutan dari ajaran Nabi dan Rasul sebelumnya.
“Jadi ajaran di NU bukan ajaran yang dibuat-buat tanpa dasar. Kalau ada yang bilang begitu berarti tidak mengerti sejarah,” ujarnya.
Selanjutnya, menurut Gus Muwafiq, warga NU harus bersyukur karena memasuki usia 1 Abad NU. Sepanjang usia itu, para ulama NU telah meletakkan ajaran-ajaran yang baik di masa lalu.
“Sekarang yang perlu dilakukan oleh kita terutama yang muda ini, adalah mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik,” tandas Gus Muwafiq dalam keterangan tertulis yang diterima Reporter Elshinta, Muslichun, Selasa (31/1).