Senin, 10 Desember 2018 | 08:05 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Presiden PSSI tidak akan saksikan final Piala Presiden

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
<p>Final Piala Presiden 2015 yang mempertemukan Persib Bandung melawan Sriwijaya FC yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Minggu (18/10), dipastikan tanpa kehadiran Presiden PSSI La Nyalla Mahmud Mattalitti.</p><p>Informasi yang dihimpun dari laman resmi <i>PSSI</i>, kendati mendukung dan mendoakan agar final berjalan lancar dan aman, pria yang terpilih secara sah oleh pemilik suara sah PSSI itu urung hadir untuk menyaksinal final Piala Presiden karena alasan yang sangat humanis.</p><p>“Memang sorak-sorak ceria kedua suporter akan begitu meriah di final nanti, tapi jangan kita lupakan, itu hanya segelintir pemain saja yang merasakan euforianya, masih banyak ribuan pemain yang belum bisa menikmati hidupnya di sepak bola, ini membuat saya tidak bisa berbahagia di atas penderitaan pelaku sepak bola yang lain, sepak bola kita masih berkabung,” kata La Nyalla kepada wartawan.</p><p>Menurut La Nyalla, Piala Presiden hanya diikuti oleh belasan klub Indonesia Super Leauge (ISL), sedangkan strata yang lain, dengan isi pemainnya, dengan para perangkatnya, dengan pengurusnya, dam dengan masyarakat kecil yang terlibat, dari tukang parkir sampai tukang cuci sepatu, hanya menjadi saksi kegembiraan Piala Presiden di rumahnya dengan minusnya pendapatan finansial dan sulitnya menjalani hidup.</p><p>“Jangan kita lupakan kesengsaraan mereka, kesusahan hidup mereka, karena kompetisi tidak berputar, yang semua kita tahu, intervensi pemerintah dalam hal ini Menpora Imam Nahrawi membuat semua ini terhenti. Ini justru lebih menyedihkan, Piala Presiden hanya kegembiraan sesaat yang akan sirna dengan cepat,” ujarnya.</p><p>La Nyalla menyatakan bahwa seharusnya yang lebih utama adalah bagaimana caranya agar sepakbola Indonesia kembali aktif dan berjalan dengan baik. Semua itu, tegasnya, hanya dengan satu cara, yakni tarik intervensi pemerintah dari sepakbola dengan cara mencabut pembekuan PSSI sehingga secara otomatis sanksi FIFA juga akan dicabut. </p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Megapolitan | 10 Desember 2018 - 07:53 WIB

Jakarta berpotensi hujan lebat disertai petir

Aktual Dalam Negeri | 10 Desember 2018 - 07:42 WIB

Zawawi Imron: Memajukan Indonesia butuh hati yang indah

Bencana Alam | 10 Desember 2018 - 07:19 WIB

Waspadai! Pakar: Geopark Ciletuh rawan gempa dan tsunami

Aktual Dalam Negeri | 10 Desember 2018 - 06:56 WIB

Kapolri: Tunjangan kinerja Polri jadi 70 persen

<p>Final Piala Presiden 2015 yang mempertemukan Persib Bandung melawan Sriwijaya FC yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Minggu (18/10), dipastikan tanpa kehadiran Presiden PSSI La Nyalla Mahmud Mattalitti.</p><p>Informasi yang dihimpun dari laman resmi <i>PSSI</i>, kendati mendukung dan mendoakan agar final berjalan lancar dan aman, pria yang terpilih secara sah oleh pemilik suara sah PSSI itu urung hadir untuk menyaksinal final Piala Presiden karena alasan yang sangat humanis.</p><p>“Memang sorak-sorak ceria kedua suporter akan begitu meriah di final nanti, tapi jangan kita lupakan, itu hanya segelintir pemain saja yang merasakan euforianya, masih banyak ribuan pemain yang belum bisa menikmati hidupnya di sepak bola, ini membuat saya tidak bisa berbahagia di atas penderitaan pelaku sepak bola yang lain, sepak bola kita masih berkabung,” kata La Nyalla kepada wartawan.</p><p>Menurut La Nyalla, Piala Presiden hanya diikuti oleh belasan klub Indonesia Super Leauge (ISL), sedangkan strata yang lain, dengan isi pemainnya, dengan para perangkatnya, dengan pengurusnya, dam dengan masyarakat kecil yang terlibat, dari tukang parkir sampai tukang cuci sepatu, hanya menjadi saksi kegembiraan Piala Presiden di rumahnya dengan minusnya pendapatan finansial dan sulitnya menjalani hidup.</p><p>“Jangan kita lupakan kesengsaraan mereka, kesusahan hidup mereka, karena kompetisi tidak berputar, yang semua kita tahu, intervensi pemerintah dalam hal ini Menpora Imam Nahrawi membuat semua ini terhenti. Ini justru lebih menyedihkan, Piala Presiden hanya kegembiraan sesaat yang akan sirna dengan cepat,” ujarnya.</p><p>La Nyalla menyatakan bahwa seharusnya yang lebih utama adalah bagaimana caranya agar sepakbola Indonesia kembali aktif dan berjalan dengan baik. Semua itu, tegasnya, hanya dengan satu cara, yakni tarik intervensi pemerintah dari sepakbola dengan cara mencabut pembekuan PSSI sehingga secara otomatis sanksi FIFA juga akan dicabut. </p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Minggu, 09 Desember 2018 - 21:53 WIB

Kapolri: Separuh polisi belum punya rumah

Jumat, 07 Desember 2018 - 09:47 WIB

IHSG diprediksi masih bergerak melemah

Kamis, 06 Desember 2018 - 09:52 WIB

BTS peringkat 8 artis top Billboard

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com