Dukun Slamet Tohari bunuh 12 korbannya dengan obat darah tinggi dan potasium sianida
Elshinta.com, Dukun pengganda uang Slamet Tohari (45 tahun) membunuh 12 kliennya dengan meminumkan obat darah tinggi dan potasium sianida.

Elshinta.com - Dukun pengganda uang Slamet Tohari (45 tahun) membunuh 12 kliennya dengan meminumkan obat darah tinggi dan potasium sianida.
Menurut Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi dalam konferensi pers di Solo, Kamis (6/4) terkait perkembangan kasus pembunuhan berantai di Banjarnegara, "Sebelum membunuh para korbannya, Slamet mengajak mereka untuk menggelar ritual penggandaan uang di sebuah kebun di Wanayasa, Banjarnegara. Slamet melakukan tes kepada korbannya untuk menelan tablet yang mengandung klonidin lebih dulu," ujar Ahmad Luthfi.
"Jika korbamnnya tidak mengantuk, itu dianggap berhasil. Lalu diberi minuman kedua yang sudah dicampur dengan potasium sianida," kata Ahmad Luthfi seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Jumat (7/4).
Potasium itulah yang menyebabkan 12 korbannya meninggal dunia hanya dalam tempo lima menit.
Dari hasil penyidikan sementara, dari 12 korban sudah diketahui nama tiga korban. Autopsi dilakukan tiga hari berturut-turut.
Pada hari Minggu, 2 April 2023 adalah jenazah Paryanto di RSUD Banjarnegara. Kemudian pada Senin, 3 April 2023, 9 jenazah dari liang nomor 2,3,4,5, dan 6 sudah dilakukan autopsi di RS Margono Purwokerto. Lalu pada Rabu, 5 April 2023 2 jenazah dari liang nomor 7 sudah dilakukan autopsi di RS Margono Purwokerto yang merupakan pasangan suami istri bernama Irsad (43) dan Wahyu Tri Ningsih (41) asal Pesawaran, Lampung.
Polisi membuka Posko Pengaduan Orang Hilang di Banjarnegara untuk mempercepat identifikasi delapan jenazah lainnya yang belum jatidiri mereka.
Upaya penyelidikan dengan scientific crime investigation yang dilakukan Polda Jateng, Kabid Labfor Kombes Pol Slamet Iswanto mengatakan, tim mulai melakukan identifikasi jenazah tersebut di Polres Banjarnegara pada Selasa 4 April 2023.
"Hasilnya ditemukan, dua butir serbuk (apotas) dan dua butir tablet warna putih. Dua butir apotas positif mengandung zat potasium sianida. Sedangkan dua butir tablet mengandung klonidin," ungkapnya
Kabid Labfor menjelaskan, Sianida adalah senyawa beracun dapat menyebabkan kematian pada sel-sel tubuh ketika tertelan. Sedangkan, klonidin adalah obat antihipertensi golongan penghambat reseptor alfa agonis kerja sentral. Klonidin termasuk obat penyakit darah tinggi.
Sementara itu potasium sianida mampu merusak efek merusak sel-sel di dalam tubuh dalam rentang waktu sekitar satu menit hingga lima menit. Jika ditelan dalam jumlah yang cukup banyak, orang bisa meninggal dalam lima menit.
"Dua belas korban itu positif mengandung sianida. Jadi bisa diambil kesimpulan korban meninggal karena sianida," tegas Kabid Labfor
Dalam praktiknya lanjutnya, kedua pelaku menggunakan dua zat tersebut sebagai syarat dalam ritual penggandaan uang.
"Penggunaan dua jenis pil itu merupakan modus dari pelaku," ujarnya.