Top
Begin typing your search above and press return to search.

8 Mei 1998: Mengenang Peristiwa Gejayan yang memakan korban jiwa

Elshinta.com, Pada tahun 1998, Indonesia berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Salah satu fenomena signifikan dan relevan untuk melihat krisis pada tahun tersebut adalah fenomena gerakan massa yang di dalamnya melibatkan mahasiswa.

8 Mei 1998: Mengenang Peristiwa Gejayan yang memakan korban jiwa
X
Aksi demo mahasiswa Gejayan 1998. (https://bit.ly/42rzcMG/elshinta.com)

Elshinta.com - Pada tahun 1998, Indonesia berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Salah satu fenomena signifikan dan relevan untuk melihat krisis pada tahun tersebut adalah fenomena gerakan massa yang di dalamnya melibatkan mahasiswa.

Buntut dari perekonomian Indonesia yang semakin memburuk dan keadilan terhadap rakyat di bawah kepemimpinan Soeharto yang semakin tertindas adalah terjadinya demonstrasi sejumlah mahasiswa menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Salah satu demo menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto juga terjadi di Gejayan yang merupakan nama jalan di Yogyakarta.

Pada tanggal 8 Mei 1998, sejumlah mahasiswa menggelar aksi demonstrasi menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Pemicunya tak lain karena kondisi perekonomian Indonesia yang semakin buruk dan ketidakadilan terhadap rakyat di bawah kepemimpinan Soeharto yang semakin tertindas.

Baca juga Bentrokan berdarah di Gejayan Yogyakarta

Aksi pada mulanya berlangsung damai namun berujung bentrokan dengan aparat. Ratusan aparat mencoba membubarkan secara paksa unjuk rasa dengan melakukan penyerbuan dengan panser penyemprot air dan tembakan gas air mata terhadap mahasiswa yang berada di depan Hotel Radison tepatnya terletak di pertigaan antara Jalan Gejayan dan Jalan Kolombo.

Aparat memukul mundur pendemo di lokasi tersebut untuk mencegah mereka bergabung dengan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun yang terjadi, tak hanya mahasiswa pendemo, aparat juga memukuli pedagang kaki lima dan warga di sekitaran lokasi.

Kemudian, mahasiswa dibantu masyarakat untuk melawan aparat dengan lemparan batu hingga molotov di sekitar Jalan Gejayan, yang membentang dari perempatan Jalan Padjajaran (Ring Road Utara) hingga perempatan Jalan Adi Sutjipto dan Jalan Urip Sumoharjo.

Akibat betrok tersebut, ratusan korban terluka yang umumnya didominasi dari mahasiswa dan satu orang mahasiswa bernama Moses Gatutkaca tewas.

Moses yang merupakan mahasiswa MIPA Universitas Sanata Dharma (USD) ditemukan sekitar Posko PMI Sanata Dharma sesaat setelah aparat melakukan pembersihan di daerah bentrokan sekitar Hotel Radison. Namun nyawanya tak tertolong saat dibawa menuju Rumah Sakit Panti Rapih. Dari hasil visum, Moses mengalami pendarahan di kepala sekitar telinga akibat hantaman benda tumpul.

Sumber: merdeka.com

Sumber : 9

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire