Ekonomi syariah berkontribusi dalam pemulihan ekonomi nasional
Elshinta.com, Kehadiran umat Islam menjadi kelompok mayoritas di Indonesia, memiliki ragam dampak di berbagai bidang, termasuk bidang ekonomi.

Elshinta.com - Kehadiran umat Islam menjadi kelompok mayoritas di Indonesia, memiliki ragam dampak di berbagai bidang, termasuk bidang ekonomi. Karena konsumsi masyarakat Muslim yang dominan pada perkembangan pasar di Indonesia, jumlah umat Muslim terbesar di Indonesia menyebabkan preferensi konsumsi mayoritas masyarakat sangat dipengaruhi perspektif keislaman.
Di samping itu, tingginya jumlah penduduk di Indonesia erat berkorelasi dengan tingginya pertumbuhan ekonomi Islam di Indonesia. Ekonomi syariah berkontribusi dalam pemulihan ekonomi nasional. Karena itu, Warta Ekonomi memberi penghargaan terhadap jasa industri keuangan syariah dengan mengadakan acara Indonesia Sharia Finance Awards kelima tahun 2023 di Jakarta pada Rabu (10/5/2023).
Acara yang mengangkat tema Enhancing Islamic Financial Development Strategy in Digital Transformation Era yang berfokus pada strategi pengembangan keuangan Islam lebih kuat di era transformasi digital ini, sempat tayang di Youtube Warta Ekonomi TV.Acara ini dihadiri Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi selaku keynote speaker.
Penghargaan ini diberikan pada perbankan, asuransi jiwa, asuransi umum, hingga pembiayaan multifinance atas pembangunan, pelayanan, inovasi, serta manfaat lain yang memajukan perekonomian dan masyarakat Indonesia.
“[Menurut] gambaran Islamic Fintech Market melalui Global Islamic Fintech Report, memperkirakan market size di tahun 2021 mencapai US$79 miliar dan tumbuh sebesar 18% setiap tahun akan mencapai US$179 miliar pada tahun 2026. Tentunya ini dapat dimanfaatkan industri fintech syariah di Indonesia,” ujar CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi Group, Muhamad Ihsan saat memaparkan laporan Global Islamic Fintech Report (GIFT) dalam acara tersebut, Senin (15/5).
Di samping itu, industri keuangan syariah termasuk industri halal paling besar yang memiliki aset sebesar US$3,6 triliun, tiga kali lipat dari industri makanan halal. Hal tersebut dapat menjadi potensi besar untuk Indonesia.
Ditambah lagi, Indonesia berada di peringkat keenam di industri Islamic Finance, disusul peringkat kedua di industri makanan halal, peringkat ketiga di industri modest fashion, dan peringkat kesembilan di industri farmasi dan kosmetik, berdasarkan laporan dari Global Islamic Economy Report 2022.
Zainut Tauhid Sa’adi selaku Wakil Menteri Agama (Wamenag) memaparkan laporan Statistik Perbankan Syariah per Desember 2022 yang berisi total aset penyedia jasa keuangan, mulai dari bank umum syariah, asuransi jiwa syariah, asuransi umum syariah, reasuransi syariah, perusahaan pemberdayaan syariah, perusahaan pembiayaan infrastruktur syariah, dan perusahaan modal ventura syariah.
“Dengan nilai total aset bank umum syariah per 2019 adalah Rp350,36 triliun dan mengalami peningkatan di tahun 2022 menjadi Rp531,86 triliun. Di samping itu, nilai total aset unit usaha syariah per Desember 2022 adalah Rp250,24 triliun. Di sisi lain, berdasarkan data Statistik IKNB Syariah Indonesia terakhir per Desember 2022 oleh Otoritas Jasa Keuangan tercatat, nilai total aset asuransi syariah sebesar Rp45,02 triliun yang didominasi oleh asuransi jiwa syariah senilai Rp2,40 triliun. Diikuti oleh asuransi umum syariah Rp7,67 triliun dan reasuransi syariah Rp1,96 triliun,” kata Zainut Tauhid.
“Sementara itu, nilai total aset pada pembiayaan syariah pada Desember 2022 adalah Rp33,1 triliun yang didominasi oleh perusahaan pemberdayaan syariah senilai Rp21,80 triliun, diikuti oleh perusahaan pembiayaan infrastruktur syariah senilai Rp4,22 triliun dan perusahaan modal ventura syariah Rp6,99 triliun,” jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Selasa (16/5).