Top
Begin typing your search above and press return to search.

Demi anak-anak yatim piatu, Bripka Eko Yulianto gadaikan SK Pengangkatan Polri

Elshinta.com, Cuaca panas sore itu belum sepenuhnya sirna. Brigadir Kepala Eko Yulianto, seorang Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) yang bertugas di  Polsek Girimarto, Polres Wonogiri, Jawa Tengah baru saja tiba di rumahnya.

Demi anak-anak yatim piatu, Bripka Eko Yulianto gadaikan SK Pengangkatan Polri
X
Sumber foto: Joko Hendrianto/elshinta.com.

Elshinta.com - Cuaca panas sore itu belum sepenuhnya sirna. Brigadir Kepala Eko Yulianto, seorang Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) yang bertugas di Polsek Girimarto, Polres Wonogiri, Jawa Tengah baru saja tiba di rumahnya.

Ia tidak langsung masuk ke rumah, namun justru menuju masjid yang ada di depan rumahnya. Di sana ada tiga santri usia sekolah dasar yang menyambutnya. Ia menyapa mereka, sementara tiga santri kecil itu segera mencium tangannya, tanda hormat kepada guru dan orang tua. Spontan wajah lelah Eko lenyap.

“Ayo sini, aku dipijiti..,” ujarnya sembari tersenyum.

Bergegas, tiga bocah itu memijit tangan maupun pundak Eko. Dialog pun mengalir akrab antara ustadz dan santrinya dalam suasana akrab.

Ustadz? Benar. Eko Yulianto adalah polisi yang juga merangkap sebagai ustadz. Bukan itu saja, ia juga pengelola pondok pesantren yang ia dirikan pada tahun 2017 silam. Ia memberi nama Pondok Pesantren Santri Manjung berlokasi di Dusun Manjung Wetan RT 2/3, Desa Manjung, Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Kontributor Elshinta.com, Joko Hendrianto, menemui Eko Yulianto di tempat kerjanya di Polsek Girimarto pada Kamis siang (15/9). Lelaki usia 34 tahun ini menyambut ramah kedatangan Elshinta.com. Obrolan santai seputar kiprahnya sebagai Pak Bhabin hingga mendirikan pondok pesantren pun mengalir lancar. Bahkan perbincangan berlanjut ketika ia mengajak Elshinta.com mampir ke rumahnya yang berada di lingkungan pondok pesantren tersebut.

“Semula tidak terbersit saya mendirikan pondok. Namun mungkin itu jalan yang harus saya lalui. Ketika saya mulai bertugas di Wonogiri, saya yang semasa SD hingga SMA nyantri di pondok pesantren, tergugah untuk menyebarkan ilmu yang saya dapatkan melalui Taman Pendidikan Alquran maupun pengajian-pengajian di masjid-masjid,” tuturnya.

Eko berasal dari keluarga sederhana. Anak petani pasangan Pandu dan Parni dari Desa Kandang Sapi, Kecamatan Jenar, Kabupaten Pasangan petani itu mengantar Eko untuk memperdalam ilmu agama dan sekolah regular sejak SD hingga SMA di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Falah Sragen.

Setamat SMA, Eko mendaftarkan diri sebagai polisi dan diterima sebagai anggota Polri pada 2008. Setelah menjalani Pendidikan, EKo kemudian mendapat tugas sebagai Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di Polsek Jatiroto, Polres Wonogiri.

Sejak itulah ia selalu bersinggungan dengan masyarakat. Melihat kehidupan warga dan mengetahui masalah kehidupan mereka sehari-hari.

Di Wonogiri, ia melihat fenomena anak-anak dan remaja yang mulai meninggalkan tata-krama. Kurang menghormati orang tua dan ada kecenderungan berkelakuan kurang baik. Apalagi itu dipicu banyak warga Wonogiri yang hidup merantau sehingga anak-anak kurang mendapat pengawasan langsung orang tuanya. Selain itu ada pula anak-anak dari keluarga broken home.

“Mereka adalah generasi penerus. Jika akhlaknya tidak terjaga, jadi apa negara ini nanti? Oleh karena itu saya makin semangat mengajar di TPA-TPA maupun di masjid-masjid. Mengajak mereka untuk menatap dan merenda masa depan,” ujarnya.

Ada 58 Titik Pengajian

Pak Bhabin Eko ini menyempatkan diri sepulang kerja untuk mengajar di TPA maupun pengajian di masjid. Saat itu tercatat ada 58 titik yang harus disambangi secara rutin.

“Jika semula hanya anak-anak dan remaja. Mereka saya ajari dengan Kitab Akhlakul Banin dan Kitab Talim Mutaalim. Melihat perkembangan anak-anak yang menjadi lebih mengenal tata-krama, maka para orang tua pun ingin ikut mengaji,” tuturnya.

Ternyata ada tujuh santri laki-laki yang benar-benar ingin mendalami ilmu agama lebih jauh. Mereka pun kemudian tinggal bersama Eko Yulianto di rumah kontrakannya yang sederhana.

Di situlah kemudian niat mendirikan pondok pesantren muncul. Akan tetapi ia tidak memiliki dana. Namun Allah SWT ternyata memberikan jalan. Kepala desa setempat memberikan tanah seluas sekitar 1.000 meter persegi agar bisa didirikan pondok pesantren.

“Guru saya dari Solo memberikan dana awal Rp 5 juta untuk mendirikan pondok pesantren. Kala itu saya berpangkat Brigadir Satu. Saya pun sontak makin semangat. Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai anggota Polri saya jaminkan di bank untuk bisa mendapatkan pinjaman Rp 350 juta,” katanya sembari tersenyum.

Ia memang tidak mau menerima bantuan apapun dari orang-orang sekelilingnya maupun yang ia kenal sebelum ia melakukan lebih dulu.

“Pondok pun berdiri. Bantuan dari donator beragam, ada yang membantu bahan bangunan dan lainnya,” ungkapnya.

Gratis-tis

Begitu pondok pesantren berdiri, maka Eko pun terus bergerak mencari anak-anak dan remaja yang membutuhkan perhatian. Mulai dari anak yatim-piatu, anak terlantar, hingga dari keluarga miskin.

“Kini jumlahnya ada 300-an. Mereka dari usia anak-anak PAUD hingga SMA, bahkan ada yang perguruan tinggi. Mereka tinggal dan belajar di pondok tanpa membayar uang sepeser pun. Gratis-tis…” tuturnya.

Dalam sebulan, Eko harus mengeluarkan dana sekitar Rp 67 juta hingga Rp 70 juta. Biaya untuk untuk keperluan makan, Pendidikan, kebutuhan pondok, dan lainnya.

Lalu uangnya dari mana?

“Ada saja yang tergerak hatinya untuk membantu. Kami tidak pernah meminta sumbangan dengan menyodorkan proposal. Tidak pernah. Justru pendapatan saya dari hasil undangan bila memberi pengajian, itu yang saya gunakan untuk membiayai pondok ini,” kata Eko.

Meski tiap bulan harus mengeluarkan dana sekitar Rp 70 juta, ternyata tetap ada warga yang terketuk hatinya untuk membantu.

Sementara itu gaji Eko sebagai polisi setelah dipotong untuk cicilan angsuran bank hanya tersisa Rp 1 juta. “Saya harus mencicil hingga usia saya 50 tahun nanti. Jadi 16 tahun lagi utang saya di bank baru lunas,” ujarnya seraya tertawa.

Di pondok pesantren itu, para santri diajari menghafal Al Quran dan Kitab Kuning. Selain itu juga belajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Di luar itu mereka juga sekolah umum di jenjang TK, SD, SMP, SMA/MA, hingga kuliah.

“Saya senang berada di sini,” kata Dini, pelajar Madrasah Aliyah kelas XI.

Lain lagi yang dialami lima sekawan Faiz, Adit, Deo, Rosyid, dan Aryo. Selain mendalami Al Quran, Kitab Kuning, dan sekolah umum; mereka bertanggungjawab sebagai juru masak pondok.

“Kami di sini pandai memasak. Sayur oseng-oseng, balado kentang, balado terung, hingga lodeh; tidak perlu ditanya bumbunya apa saja” kata Rosyid.

Sementara Adit yang duduk di kelas VIII SMP Negeri 4 Wonogiri dengan bangga mengaku mampu mengiris bawang merah, putih, maupun cabe dengan cepat dan rapi seperti ahli masak professional.

“Kami baru menanak nasi. Ada 15 kilogram beras yang kami masak untuk makan malam nanti,” kata Deo.

Kepandaian masak mereka tidak terlepas dari peran serta tangan dingin Bennazir Kumara Lalita, istri Eko Yulianto. “Saya yang mendampingi mereka. Mereka ternyata mampu. Kamu mengajari mereka untuk mandiri,” tutur lulusan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur ini.

Dalam memberikan pelajaran, Eko Yulianto dibantu oleh para santri senior dari beberapa pondok pesantren. Salah satunya adalah Ali yang berasal dari pondok pesantren Pasuruan, Jawa Timur.

“Ada dua lagi teman saya yang membantu mengajar di sini,” ujarnya.

Keakraban santri dengan Eko Yulianto terlihat dalam kesehariannya. Eko menengok seorang santri yang dilaporkan pusing. Ia datang menjenguk di kamar besar yang digunakan oleh belasan santri. Menyapa, memijit, dan memberikan semangat. Menjadi teman, guru, sekaligus bapak…

Tokoh idola Bripka Eko adalah Kapolri ke-5 Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Fotonya dipajang di ruang tamu rumahnya.

“Bagi saya iman harus disertai amal. Saya mengajak para santri untuk selalu mencintai Indonesia. Harus menjaga, memelihara, dan melestarikan Tanah Air Indonesia. NKRI harga mati!” tuturnya.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire