19 Juli 2020: Penyair legendaris 'Hujan Bulan Juni' meninggal dunia
Elshinta.com, Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan legendaris Indonesia yang wafat 3 tahun yang lalu pada hari ini, yakni 19 Juli 2020. Sapardi dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.

Elshinta.com - Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan legendaris Indonesia yang wafat 3 tahun lalu pada hari ini, yakni 19 Juli 2020. Sapardi dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.
Puisi-puisinya dikenal dan disukai oleh banyak orang, lantaran menggunakan kata-kata sederhana namun memikat dan mengena di hati dan perasaan. Selain dikenal sebagai pujangga, Sapardi Djoko Damono juga adalah seorang dosen, kritikus, pakar dan pengamat sastra. Sepak terjangnya sudah tidak diragukan lagi.
Melansir suara.com, Sapardi Djoko Damono memiliki latar belakang akademis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta di bidang literatur. Masa kecilnya diwarnai menggali karya pujangga nasional Pramoedya Ananta Toer, dan R.A Kosasih serta mancanegara seperti Karl May, serta William Saroyan.
Setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada, beliau mengajar di beberapa kampus, antara lain Madiun, Solo, serta Universitas Diponegoro, Semarang. Kemudian pindah ke Amerika Serikat beberapa saat, lantas sepulangnya menjadi anggota tetap departemen literatur. Pada 1989 mendapatkan gelar doktorat dari Universitas Indonesia, serta menjadi profesor penuh pada 1994.
Salah satu bukunya, Hujan Bulan Juni terbit pada 1994, berisikan 95 puisi, ditulisnya kurun 1964 hingga 1992. Termasuk yang dibuat saat kuliah di University of Hawaii di Honolulu, Amerika Serikat di awal 1970-an. Dan disebut-sebut sebagai hits paling keren dari karya-karyanya.
Kontribusinya dalam sastra Indonesia begitu besar. Dikutip dari merdeka.com, Sapardi Djoko Damono jugalah yang merintis sekaligus memprakarsai terbentuknya Himpunan Kesusatraan Indonesia (Hiski), yang hingga kini setiap tahunnya selalu menyelenggarakan seminar dan pertemuan sarjana sastra yang tergabung di dalamnya.