Top
Begin typing your search above and press return to search.

Gelar Workshop P2M, Prodi Pendidikan Sejarah UNJ bahas Kurikulum Merdeka Belajar

Elshinta.com, Sivitas Akademika Pendidikan Sejarah UNJ mengadakan workshop bertemakan 'Kurikulum Merdeka Belajar' berlangsung di SMP Pattimura Jakarta, Sabtu (5/8/2023).

Gelar Workshop P2M, Prodi Pendidikan Sejarah UNJ bahas Kurikulum Merdeka Belajar
X
Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.

Elshinta.com - Sivitas Akademika Pendidikan Sejarah UNJ mengadakan workshop bertemakan 'Kurikulum Merdeka Belajar' berlangsung di SMP Pattimura Jakarta, Sabtu (5/8/2023). Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan bekal kepada guru sebelum menerapkan Kurikulum Merdeka di sekolahnya. “Kita ingin agar guru, staff, dan tenaga pendidik bisa memahami bagaimana penerapan kurikulum ini,” ucap dosen Pendidikan Sejarah, UNJ, Dr. Nur’aeni Martha, M. Hum dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi elshinta.com, Senin (7/8).

Menurut Nuraeni, Kurikulum Merdeka berbeda dengan Kurikulum 2013 Revisi, di mana dalam Kurikulum Merdeka, siswa dituntut lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran. “Diharapkan Kurikulum Merdeka ini dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik dan bertumpu pada siswa,” ujarnya.

Di samping itu, lanjut Nuraeni, Kurikulum Merdeka juga mengubah teknis pembelajaran. guru yang sebelumnya diharuskan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menjadi membuat Modul Ajar.

Namun, bagi dosen Pendidikan Sejarah lainnya, Dr djunaidi dirinya tidak menemukan perbedaan antara Merdeka Belajar dan Kurikulum 2013 Revisi. “Tidak ada perbedaan yang berarti di antara keduanya,” kata Djunaidi.

Sementara itu untuk mewujudkan Merdeka Belajar, setidaknya ada empat rancangan model pembelajaran yang dipakai, seperti disampaikan Dra Ratu Husmiati, Dosen Pendidikan Sejarah, UNJ. Ke empat model tersebut, kata Ratu, adalah Project Based Learning (PJBL), Problem Based Learning (PBL), Discovery Learning (DL), dan Inquiry Learning (IL).

“Keempat model ini digunakan untuk merangsang keaktifan siswa, misalnya PJBL diawali dengan sebuah pertanyaan mendasar. Setelah itu dilanjutkan dengan desain produk, pengembangan proyek, hingga di akhir adalah evaluasi hasil. Sementara peran guru di sini hanya sebagai fasilitator pembelajaran,” papar Ratu.

Bagi, Fani, mahasiswa Pendidikan Sejarah UNJ, peran guru juga bisa menjadi pemantik keaktifan siswa. “Dalam Kurikulum Merdeka, siswa yang lebih dituntut untuk kreatif dan aktif, sementara guru hanya menjadi fasilitator, bukan zaman guru ceramah melulu,” katanya.

Kurikulum Merdeka dinilai juga menciptakan satu program baru, yaitu Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P4). Hal itu disampaikan guru Sejarah di SMA 2 Perguruan Cikini, Ramli, Spd. Menurutnya, projek P4 ini digunakan untuk meningkatkan kopetensi dan karakter lulusan agar sesuai profil Pelajar Pancasila. “Pengerjaan projek P4 pun bersifat fleksibel, menyesuaikan situasi dan kondisi peserta didik, sebab kita ingin peserta didik itu yang lebih aktif,” katanya.

Dosen Pendidikan Sejarah, UNJ lainnya, Sri martini, SS, M. Hum mengatakan, guru harus didorong untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Sebab, Kurikulum Merdeka telah menjadi acuan bersama di tingkat nasional. “Penting untuk guru dapat adaptif dalam Kurikulum Merdeka,” ucapnya.

Di akhir diskusi, Kepala Sekolah SMP Pattimura, Saniah berharap Kurikulum Merdeka dapat mengentaskan masalah-masalah yang terjadi di sekolah.

Sumber : Elshinta.Com

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire