Sambut HUT ke-78 RI, ribuan warga lereng Merapi dan Merbabu arak 1.000 tumpeng
Elshinta.com, Sekitar 3.500 orang dari berbagai usia di lereng Gunung Merapi dan Merbabu, Desa Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mengarak 1.000 tumpeng nasi beras dan jagung serta mengkirap tumpeng raksasa dari hasil bumi.

Elshinta.com - Sekitar 3.500 orang dari berbagai usia di lereng Gunung Merapi dan Merbabu, Desa Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mengarak 1.000 tumpeng nasi beras dan jagung serta mengkirap tumpeng raksasa dari hasil bumi. Warga juga mengkirab air yang dimasukan dalam kendi yang diambilkan dari tujuh mata air yang berada di lereng Gunung Merbabu.
Tumpengan dan tujuh mata air tersebut diarak warga dengan menempuh jarak sekitar 2 kilometer dari lapangan desa setempat menuju tempat bertemunya tujuh mata air di Selo. Selain itu dalam arak arakan tersebut, warga juga mengibarkan bendera merah putih sepanjang puluhan meter dengan lebar 8 meter serta diiringi berbagai kesenian daerah setempat dan beraktraksi di panggung Kehormatan. Hal ini di lakukan sekaligus menyambut dan memeriahkan HUT ke 78 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ribuan warga tersebut melakukan arak-arakan dengan berjalan kaki menyusuri lereng bukit Gunung Merapi dan Merbabu dengan medan jalan yang turun naik.
Menurut Kepala Desa Selo, Andi Sutarno, kegiatan kirab 1.000 tumpeng ini memperingati satu abad atau 100 tahun Desa Selo. Kirab 1.000 tumpeng tersebut menggambarkan rasa syukur warga terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Ada makna tersendiri dalam mengkirab 1.000 tumpeng tersebut, dan kebetulan di Selo ini ada 1.008 kepala keluarga. Ya, itu adalah bentuk syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” katanya kepada wartawan seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sarwoto.
Andi mengatakan, kegiatan mengkirab 1.000 tumpeng ini dilakukan warga Desa Selo baru kali pertama. Kirab tumpeng ini mengambarkan guyub rukun antar warga.
“Kegiatan ini baru kali pertama. Ini sangat meriah warga Selo guyub rukun nyawiji jadi satu, terjalin silaturahmi antar warga dan sekaligus membangun generasi yang kreatif,” kata dia.
Dari 1.000 tumpeng tersebut, kata Andi, tidak hanya terbuat dari tumpeng nasi beras, namun juga ada tumpeng yang berasal dari tumpeng nasi jagung serta tumpeng hasil bumi seperti halnya sayur sayuran.
“Ini tumpeng ada juga dari nasi jagung, nasi beras serta hasil bumi seperti sayuran. Kebetulan di sini petani penghasil sayuran,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain tumpengan ada pula tujuh mata air yang dikirab warga. Menurutnya, tujuh mata air tersebut merupakan sumber kehidupan warga.
“Tujuh mata air itu dari Sepadan Etan, Sepandan Lor, Sepandan Kulon, Senet, Gebyok, Selo Punting dan Selo Wangan,” katanya.
Sementara itu, Camat Selo Cahyo Wiratno mengatakan, kegiatan kirab tumpeng dan tujuh mata air ini kedepan dapat meningkatkan destinasi wisata dan dapat mendatangkan para wisatawan berkunjung ke Selo.
“Mari kita bersama sama mendukung meningkatkan destinasi wisata yang berada di Selo. Selain itu dengan adanya kirab tumpeng ini tentu dapat mendatangkan wisatawan baru ke Selo,” tandasnya.