Top
Begin typing your search above and press return to search.

24 Agustus 1963: Peluncuran roket pertama di Indonesia

Indonesia menjadi negera kedua di Asia yang mampu mengembangkan teknologi roket setelah Jepang. Roket pertama yang dikembangkan Indonesia itu bahkan sudah pernah melakukan uji coba peluncuran.

24 Agustus 1963: Peluncuran roket pertama di Indonesia
X
Sumber foto: https://nzq46h7nxh0w.cdn.shift8web.ca/elshinta.com.

Elshinta.com - Indonesia menjadi negera kedua di Asia yang mampu mengembangkan teknologi roket setelah Jepang. Roket pertama yang dikembangkan Indonesia itu bahkan sudah pernah melakukan uji coba peluncuran.

Pada 24 Agustus 1963, pagi itu di pantai selatan Yogyakarta suasana begitu ramai, banyak masyarakat memadati area sekitaran pantai. Mereka semua, berkumpul kala itu sedang bersiap untuk menjadi saksi peluncuran roket pertama Indonesia.

Dengan tinggi 900 mm dengan diameter 76 mm, roket pertama tersebut dinamai sebagai Gama-1, merupakan rancangan para mahasiswa teknik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Persatuan Roket Mahasiswa Indonesia (PRMI).


Memang, ukuran roket ini tidak besar, namun inilah cikal bakal bagaimana Indonesia mampu menguasai teknologi roket. Di hari peluncuran itu, roket meluncur mulus ke angkasa. Semua orang saat itu tampak bangga dan takjub melihat kemampuan Indonesia dalam hal pengembangan hingga peluncuran roket.

Berita peluncuran itu sampai ke telinga Presiden Sukarno. Melalui Harian Nasional tanggal 2 Oktober 1963, Sukarno menyampaikan ucapan selamat. Departemen Riset Nasional bahkan mengucurkan bantuan untuk mendanai aktivitas PRMI dalam merancang roket-roket selanjutnya.

Keberhasilan peluncuran roket Gama-1 oleh UGM, membuat Institut Teknologi Bandung (ITB) juga ikut membangun roket sendiri. Tepat pada 6 Januari 1964, dua roket ITB, yang bernama Ganesha X-1A dan Ganesha X-1B, diluncurkan di Pantai Pameungpeuk, Garut. Tidak sampai di situ saja.

Melihat ITB yang mengembangkan roket dan berhasil melakukan peluncuran, PRMI juga kembali meluncurkan dua roket sekaligus, yakni Gama-2 dan Gama-3, yang masing-masing meluncur mulus ke luar angkasa pada 1 Maret dan Agustus 1964.

Sebelumnya, pada tahun 1957-1958 yang dikenal sebagai Tahun Geofisika Internasioanl. Indonesia sendiri tidak memberikan sumbangsih sama sekali, hingga dimasukan ke dalam kategori black area, ungkap Raden Jacob Salatun, tokoh perintis peroketan nasional, dalam buku Lahirnya Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Kejadian tersebut itu menjadi bahan pembelajaran, kemudian dibentuklah Panitia Astronautika oleh Dewan Penerbangan pada tanggal 31 Mei 1962, untuk menangani masalah-masalah keantariksaan di Indonesia.

Dewan Penerbangan sendiri dibentuk tahun 1955 untuk mengkoordinasi penerbangan sipil dan militer sebelum diubah menjadi Dewan Penerbangan dan Angkasa Luar Nasional Republik Indonesia (Depanri) pada tahun 1963 dengan cakupan kerja lebih luas. Menteri Pertama Ir Djuanda jadi ketuanya, sedangkan Kolonel Udara Raden Jacob Salatun sebagai sekretaris.

Panitia Astronautika kemudian mencari informasi mengenai peroketan di negara-negara lain. Keberhasilan Jepang memproduksi roket Kappa, dianggap salah satu yang paling maju di dunia, menarik perhatian.

Panitia Astronautika mengusulkan kepada Dewan Penerbangan agar mengimpor roket Kappa untuk Roket Ionosfer/Angkasa Luar (Proyek S). Dewan Penerbangan setuju. Namun karena kondisi keuangan negara tidak memungkinkan. Proyek S pun ditangguhkan.

Jacob Salatun yang juga penasehat ilmiah Menteri/Panglima Angkatan Udara (Pangau) Omar Dhani menyarankan agar AURI memulai program pengembangan roket secara swasembada. Usulan ini mendapat lampu hijau. Terlebih AURI sedang membangun kerjasama dengan ITB dalam proyek pengembangan roket.

Presiden Sukarno menyetujuinya. Pelaksanaan proyek ini, dan juga Proyek S, diserahkan kepada Menteri/Panglima Angkatan Udara karena dinilai punya kesatuan-kesatuan yang berpengalaman dalam penelitian, pengembangan, dan pembuatan roket. Bahkan kala itu AURI sedang mendirikan pabrik roket “Menang” di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sumber : 16

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire