Jumat, 16 November 2018 | 19:42 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Champa: Kerajaan yang bertahan 1500 tahun di Vietnam Selatan

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mario Vau    |    Editor : Administrator
Kuil di My Son, Vietnam (sumber: Ancient Origins)
Kuil di My Son, Vietnam (sumber: Ancient Origins)
<p>Kerajaan Champa terletak di Asia Tenggara dan pada waktunya mendiami apa yang sekarang adalah Vietnam Selatan. Seperti kerajaan lainnya di wilayah tersebut, kebanyakan orang Barat kurang mengenalnya. Oleh karena kedigdayaan ekonominya, Champa menjadi sebuah kekuatan regional dengan melakukan perdagangan maritim. Selain itu, karena posisinya sebagai negeri dagang, maka Champa berurusan dengan kekuatan regional lainnya, yang kemudian turut mempengaruhi budaya mereka.</p><p><strong>Po Nagar: Pendiri Champa</strong></p><p>Menurut tradisi orang Cham, pendiri Champa adalah seorang dewi bernama Po Nagar. Legenda mengatakan bahwa ketika bayi, Po Nagar ditelantarkan di sebuah hutan dekat Nha Trang. Dia ditemukan seorang pemotong kayu yang mau pulang. Oleh pemotong kayu dan istrinya yang tidak memiliki keturunan, Po Nagar dibesarkan layaknya anak mereka sendiri. Suatu hari Po Nagar pulang dengan sepotong kayu cendana dan melarang siapapun untuk menyentuhnya.&nbsp;</p><p>Pada suatu hari, Po Nagar memberitahu orang tua angkatnya bahwa dia mendapat titah untuk pergi menghadap Kaisar Tiongkok, guna dipersunting oleh putra mahkota. Meski pada awalnya orang tua angkatnya keberatan, akhirnya mereka memberi restunya.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Cai-River.jpg" width="403"></p><p>Menara Po Nagar di mulut Sungai Cai, Nha Trang, Vietnam (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p>Po Nagar kemudiian berangkat hingga ke pinggir pantai dan membuang kayu cendana miliknya ke laut dan menghilang. Kayu cendana tersebut bergerak ke utara oleh arus laut dan tiba di pesisir Tiongkok dimana terjaring oleh para nelayan. Menyadari bahwa kayu ini bernilai tinggi, maka sang nelayan membawanya ke istana Kaisar sebagai persembahan bagi putra mahkotanya.&nbsp;</p><p>Sang putra mahkota menyelimuti kayu cendana itu dalam sebuah kain sutra, dan menyimpannya di dekat dirinya di istana. Pada malam itu, kain sutranya mula bergerak dan ketika sang putra mahkota membukanya, muncullah Po Nagar. Putra Mahkota Tiongkok dan Po Nagar tidak lama kemudian menikah dan di awal pernihakan, mereka hidup berbahagia.&nbsp;</p><p><strong>Kehidupan setelah menikah</strong></p><p>Satu hari, Po Nagar mengatakan pada suaminya bahwa dia ingin menemui kedua orang tua angkatnya, sebagaimana janjinya kepada mereka. Sang pangeran menolak permintaan istrinya karena tidak bersedia ditinggalkan bahkan selama satu hari saja. Menyadari bahwa tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh Po Nagar, ia kemudian kembali ke tepi laut, dan membuang kayu cendana miliknya hingga akhirnya hilang lagi.&nbsp;</p><p>Sang putra mahkota marah besar, dan mengirim sebuah ekspedisi ke selatan untuk mencari Po Nagar. Hal ini membuat marah Kaisar Giok, Ngoc Hoang yang mengubah kapal-kapal putra mahkota Tiongkok menjadi batu begitu memasuki pelabuhan Nha Trang. Akan tetapi Po Nagar tetap berdiam di wilayah yang sekarang adalah Vietnam, berbuat kebajikan sepanjang hidupnya. Ketia dia meninggal, baik bangsa Cham maupun bangsa Vietnam menghormatinya sebagai seorang dewi.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/The-towers-of-Po-Nagar.jpg?itok=Laasiptl" width="417"></p><p>&nbsp;Menara Po Nagar terletak di sebuah bukit di Vietnam Selatan (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p><strong>Sejarah asal Kerajaan Champa dan hubungannya dengan Tiongkok</strong></p><p>Sebagai perbandingan, sumber sejarah Kerajaan Champa dapat ditemukan di sumber-sumber Tiongkok. Champa pertama kali disebut dalam sebuah catatan tahun 192 Masehi Pada saat itu, kerajaan Champa dikenal dengan nama Lin-Yi. Dikatakan letak Champa berada di Vietnam Tengah (tepatnya yang sekarang adalah daerah Hue), ketika sebuah pejabat setempat memberontak terhadap kekuasaan Tiongkok di wilayah tersebut. Jadi baik sumber legenda maupun sejarah mengkonfirmasi adanya suatu hubungan Champa di selatan dengan Tiongkok di utara.&nbsp;</p><p>Hubungan dengan Tiongkok berlanjut sepanjang sejarah Champa. Akhir dari Dinasti Han pada tahun 220 M menandai runtuhnya sebuah Tiongkok yang bersatu selama beberapa ratus tahun, dan pada abad ke 6 Masehi, Champa bahkan menyerang Vietnam bagian utara, yang ketika itu dikuasai oleh Dinasti Chen Selatan yang dianggap sedang lemah.&nbsp;</p><p>Bangsa Cham akhirnya dikalahkan oleh seorang jendral Tiongkok bernama Pham Tu. Ketika Dinasti Tang berkuasa di Tiongkok pada abad ke 7 Maseshi, penyerangan oleh Champa ke utara berhenti selama dua ratus tahun. Kemudian misi-misi diplomatik pun dikirim oleh raja-raja&nbsp; Champa ke Tiongkok.</p><p><br></p><p><strong>Pengaruh India di Champa</strong></p><p>Kekuasaan lain yang berpengaruh di Champa adalah India. Budaya dari bagian baratnya inilah yang paling banyak mempengaruhi kebudayaan dan adat istiadat bangsa Champa. Khususnya agama Hindu dan Buddha dari India yang mempengaruhi kehidupan beragama di kerajaan itu.&nbsp;</p><p>Pengaruh India nampak kentara pada seni orang Cham. Contohnya, seni Champa mulai abad ke 4 SM sudah menunjukkan dewa-dewa Hindu. Namun dikatakan bahwa rupa dewai-dewa ini memiliki ciri khas Champa yang membedakannya dari negara asalnya. Contohnya orang Cham menggambarkan Dewa Siwa dengan hidung lebar, bibir tebal dan tersenyum yang merupakan indikasi ciri fisik orang Cham ketimbang India.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/Indias-influence.jpg?itok=YYF3FXpw" width="547"></p><p>Relief dari Angkor - pengaruh budaya dari India terlihat (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p>Selain seni, pengaruh lainnya dari India terlihat dari arsitektur Kerajaan Champa. Hal ini paling kasat mata di wilayah My Son, dimana sekumpulan menara-menara dan kuil&nbsp;Hindu yang terletak di Vietnam Selatan. Kuil dan menara ini dibangun selama period seribu tahun mulai abad ke 4 M dan didirikan untuk menghormati beragam dewa-dewi Hindu termasuk Wisnu, Krisna dan paling utama Siwa - dalam bentuk linggam Siwa.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Cham-head-of-Shiva.jpg" width="430"></p><p>Kepala Dewa Siwa asal Champa yang dibuat sekitar abad ke 800 M (sumber: Wikimedia)</p><p><br></p><p><strong>Jatuhnya Kerajaan Champa</strong></p><p>Kerajaan Champa akhirnya runtuh di awal abad ke 18 M. Tetapi Raja Champa terakhir yang masih kuat, Che Nbong Nga berkuasa pada tahun 1360 hingga 1390 dan menyerang tetangganya di utara secara agresif, Dai Viet (pendahulu kerajaan Vietnam). Hanya ketika Raja Che Nbong Nga wafat maka orang Cham kembali mundur ke selatan.&nbsp;</p><p>Serangan balik yang sukses dari Vietnam dimulai tahun 1402 dan hanya berhenti ketika Dinasti Ming mulai menyerang Vietnam dari utara. Pada tahun 1428, Vietnam berhasil mengusir Tiongkok keluar wilayahnya dan mempertahankan hubungan baik dengan Champa. Ketika raja Champa meninggal di tahun 1441, kerajaan tersebut berada di awal perang saudara, dan Vietnam kemudian menyerangnya. Dalam waktu 30 tahun, mayoritas wilayah Champa telah dikuasai oleh Vietnam. Akan tetapi sebuah kerajaan kecil Champa berhasil bertahan di selatan hingga tahun 1720. Akhir kerajaan ini merupakan akhir sebuah kerajaan besar yang bertahan lebih dari 1500 tahun.&nbsp;</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual SDGs | 16 November 2018 - 19:35 WIB

Perkawinan anak bawa dampak buruk terhadap SDGs

Lingkungan | 16 November 2018 - 19:24 WIB

Hadapi musim penghujan, Pemkab Kudus petakan daerah rawan banjir

Megapolitan | 16 November 2018 - 19:13 WIB

YLKI: KAI setengah hati respon pencopotan iklan rokok di stasiun

Kecelakaan | 16 November 2018 - 18:59 WIB

Tim DVI kembali identifikasi tiga korban Lion Air

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 18:37 WIB

PT KAI siapkan 20 kereta tambahan untuk Natal dan Tahun Baru

<p>Kerajaan Champa terletak di Asia Tenggara dan pada waktunya mendiami apa yang sekarang adalah Vietnam Selatan. Seperti kerajaan lainnya di wilayah tersebut, kebanyakan orang Barat kurang mengenalnya. Oleh karena kedigdayaan ekonominya, Champa menjadi sebuah kekuatan regional dengan melakukan perdagangan maritim. Selain itu, karena posisinya sebagai negeri dagang, maka Champa berurusan dengan kekuatan regional lainnya, yang kemudian turut mempengaruhi budaya mereka.</p><p><strong>Po Nagar: Pendiri Champa</strong></p><p>Menurut tradisi orang Cham, pendiri Champa adalah seorang dewi bernama Po Nagar. Legenda mengatakan bahwa ketika bayi, Po Nagar ditelantarkan di sebuah hutan dekat Nha Trang. Dia ditemukan seorang pemotong kayu yang mau pulang. Oleh pemotong kayu dan istrinya yang tidak memiliki keturunan, Po Nagar dibesarkan layaknya anak mereka sendiri. Suatu hari Po Nagar pulang dengan sepotong kayu cendana dan melarang siapapun untuk menyentuhnya.&nbsp;</p><p>Pada suatu hari, Po Nagar memberitahu orang tua angkatnya bahwa dia mendapat titah untuk pergi menghadap Kaisar Tiongkok, guna dipersunting oleh putra mahkota. Meski pada awalnya orang tua angkatnya keberatan, akhirnya mereka memberi restunya.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Cai-River.jpg" width="403"></p><p>Menara Po Nagar di mulut Sungai Cai, Nha Trang, Vietnam (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p>Po Nagar kemudiian berangkat hingga ke pinggir pantai dan membuang kayu cendana miliknya ke laut dan menghilang. Kayu cendana tersebut bergerak ke utara oleh arus laut dan tiba di pesisir Tiongkok dimana terjaring oleh para nelayan. Menyadari bahwa kayu ini bernilai tinggi, maka sang nelayan membawanya ke istana Kaisar sebagai persembahan bagi putra mahkotanya.&nbsp;</p><p>Sang putra mahkota menyelimuti kayu cendana itu dalam sebuah kain sutra, dan menyimpannya di dekat dirinya di istana. Pada malam itu, kain sutranya mula bergerak dan ketika sang putra mahkota membukanya, muncullah Po Nagar. Putra Mahkota Tiongkok dan Po Nagar tidak lama kemudian menikah dan di awal pernihakan, mereka hidup berbahagia.&nbsp;</p><p><strong>Kehidupan setelah menikah</strong></p><p>Satu hari, Po Nagar mengatakan pada suaminya bahwa dia ingin menemui kedua orang tua angkatnya, sebagaimana janjinya kepada mereka. Sang pangeran menolak permintaan istrinya karena tidak bersedia ditinggalkan bahkan selama satu hari saja. Menyadari bahwa tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh Po Nagar, ia kemudian kembali ke tepi laut, dan membuang kayu cendana miliknya hingga akhirnya hilang lagi.&nbsp;</p><p>Sang putra mahkota marah besar, dan mengirim sebuah ekspedisi ke selatan untuk mencari Po Nagar. Hal ini membuat marah Kaisar Giok, Ngoc Hoang yang mengubah kapal-kapal putra mahkota Tiongkok menjadi batu begitu memasuki pelabuhan Nha Trang. Akan tetapi Po Nagar tetap berdiam di wilayah yang sekarang adalah Vietnam, berbuat kebajikan sepanjang hidupnya. Ketia dia meninggal, baik bangsa Cham maupun bangsa Vietnam menghormatinya sebagai seorang dewi.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/The-towers-of-Po-Nagar.jpg?itok=Laasiptl" width="417"></p><p>&nbsp;Menara Po Nagar terletak di sebuah bukit di Vietnam Selatan (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p><strong>Sejarah asal Kerajaan Champa dan hubungannya dengan Tiongkok</strong></p><p>Sebagai perbandingan, sumber sejarah Kerajaan Champa dapat ditemukan di sumber-sumber Tiongkok. Champa pertama kali disebut dalam sebuah catatan tahun 192 Masehi Pada saat itu, kerajaan Champa dikenal dengan nama Lin-Yi. Dikatakan letak Champa berada di Vietnam Tengah (tepatnya yang sekarang adalah daerah Hue), ketika sebuah pejabat setempat memberontak terhadap kekuasaan Tiongkok di wilayah tersebut. Jadi baik sumber legenda maupun sejarah mengkonfirmasi adanya suatu hubungan Champa di selatan dengan Tiongkok di utara.&nbsp;</p><p>Hubungan dengan Tiongkok berlanjut sepanjang sejarah Champa. Akhir dari Dinasti Han pada tahun 220 M menandai runtuhnya sebuah Tiongkok yang bersatu selama beberapa ratus tahun, dan pada abad ke 6 Masehi, Champa bahkan menyerang Vietnam bagian utara, yang ketika itu dikuasai oleh Dinasti Chen Selatan yang dianggap sedang lemah.&nbsp;</p><p>Bangsa Cham akhirnya dikalahkan oleh seorang jendral Tiongkok bernama Pham Tu. Ketika Dinasti Tang berkuasa di Tiongkok pada abad ke 7 Maseshi, penyerangan oleh Champa ke utara berhenti selama dua ratus tahun. Kemudian misi-misi diplomatik pun dikirim oleh raja-raja&nbsp; Champa ke Tiongkok.</p><p><br></p><p><strong>Pengaruh India di Champa</strong></p><p>Kekuasaan lain yang berpengaruh di Champa adalah India. Budaya dari bagian baratnya inilah yang paling banyak mempengaruhi kebudayaan dan adat istiadat bangsa Champa. Khususnya agama Hindu dan Buddha dari India yang mempengaruhi kehidupan beragama di kerajaan itu.&nbsp;</p><p>Pengaruh India nampak kentara pada seni orang Cham. Contohnya, seni Champa mulai abad ke 4 SM sudah menunjukkan dewa-dewa Hindu. Namun dikatakan bahwa rupa dewai-dewa ini memiliki ciri khas Champa yang membedakannya dari negara asalnya. Contohnya orang Cham menggambarkan Dewa Siwa dengan hidung lebar, bibir tebal dan tersenyum yang merupakan indikasi ciri fisik orang Cham ketimbang India.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/Indias-influence.jpg?itok=YYF3FXpw" width="547"></p><p>Relief dari Angkor - pengaruh budaya dari India terlihat (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p>Selain seni, pengaruh lainnya dari India terlihat dari arsitektur Kerajaan Champa. Hal ini paling kasat mata di wilayah My Son, dimana sekumpulan menara-menara dan kuil&nbsp;Hindu yang terletak di Vietnam Selatan. Kuil dan menara ini dibangun selama period seribu tahun mulai abad ke 4 M dan didirikan untuk menghormati beragam dewa-dewi Hindu termasuk Wisnu, Krisna dan paling utama Siwa - dalam bentuk linggam Siwa.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Cham-head-of-Shiva.jpg" width="430"></p><p>Kepala Dewa Siwa asal Champa yang dibuat sekitar abad ke 800 M (sumber: Wikimedia)</p><p><br></p><p><strong>Jatuhnya Kerajaan Champa</strong></p><p>Kerajaan Champa akhirnya runtuh di awal abad ke 18 M. Tetapi Raja Champa terakhir yang masih kuat, Che Nbong Nga berkuasa pada tahun 1360 hingga 1390 dan menyerang tetangganya di utara secara agresif, Dai Viet (pendahulu kerajaan Vietnam). Hanya ketika Raja Che Nbong Nga wafat maka orang Cham kembali mundur ke selatan.&nbsp;</p><p>Serangan balik yang sukses dari Vietnam dimulai tahun 1402 dan hanya berhenti ketika Dinasti Ming mulai menyerang Vietnam dari utara. Pada tahun 1428, Vietnam berhasil mengusir Tiongkok keluar wilayahnya dan mempertahankan hubungan baik dengan Champa. Ketika raja Champa meninggal di tahun 1441, kerajaan tersebut berada di awal perang saudara, dan Vietnam kemudian menyerangnya. Dalam waktu 30 tahun, mayoritas wilayah Champa telah dikuasai oleh Vietnam. Akan tetapi sebuah kerajaan kecil Champa berhasil bertahan di selatan hingga tahun 1720. Akhir kerajaan ini merupakan akhir sebuah kerajaan besar yang bertahan lebih dari 1500 tahun.&nbsp;</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Jumat, 16 November 2018 - 11:48 WIB

Infrastruktur Jaksel antisipasi banjir hampir selesai

Kamis, 15 November 2018 - 00:00 WIB

Pesawat Air Asia Surabaya-Singapura Hilang Kontak

Rabu, 14 November 2018 - 21:51 WIB

Ini penyebab ambruknya atap Stadion Wergu Kudus

Selasa, 13 November 2018 - 08:25 WIB

Raja Ampat atur pelayaran menuju destinasi Piaynemo

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com