18 desa di Kabupaten Tegal terdampak kekeringan
Kekeringan di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah semakin meluas. Pada Agustus 2023 lalu, kekeringan hanya melanda di 9 desa. Namun pada September 2023 ini, kekeringan ekstrim meluas hingga 18 desa dari 6 kecamatan.

Elshinta.com - Kekeringan di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah semakin meluas. Pada Agustus 2023 lalu, kekeringan hanya melanda di 9 desa. Namun pada September 2023 ini, kekeringan ekstrim meluas hingga 18 desa dari 6 kecamatan.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tegal Iman Sisworo melalui Kepala Markas PMI Sunarto membenarkan hal itu.
Saat ini, ada 18 desa yang mengalami krisis air bersih. Sumur warga banyak yang mengering imbas dari El Nino. Tidak hanya sumur, sungai di tiap desa juga tak berair. Praktis, warga bingung untuk mendapatkan air bersih.
"Saat ini memang sudah ada 18 desa yang krisis air bersih," kata Sunarto seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hari Nurdiansyah, Selasa (12/9).
Dia menjelaskan, 18 desa itu tersebar di 6 kecamatan. Rinciannya, di Kecamatan Jatinegara meliputi Desa Tamansari, Dukuhbangsa, Luwihjawa, Lembahsari, Wotgalih, Jatinegara, Kedungwungu, Penyalahan, Padasari, Lebakwangi dan Desa Argatawang.
Kemudian di Kecamatan Suradadi terdapat 3 desa, yaitu Desa Harjasari, Jatimulya dan Desa Suradadi. Sedangkan di Kecamatan Warureja hanya di Desa Kedungkelor, di Kecamatan Kedungbanteng Desa Karanganyar, di Kecamatan Balapulang Desa Harjawinangun dan Kecamatan Pangkah di Desa Pener.
"Sebelumnya cuma 9 desa. Tapi sekarang menjadi 18 desa. Dan yang terparah di Kecamatan Jatinegara," kata Sunarto.
Meski jumlahnya bertambah, tapi PMI tidak patah semangat. PMI akan selalu membantu air bersih untuk masyarakat yang membutuhkan. Penyaluran air bersih sudah masuk dalam agenda kerja PMI.
"Sejauh ini kita sudah menyalurkan air bersih hampir 100 tangki. Tiap tangki berisi 6000 liter," ujarnya. Menurut Sunarto, bantuan air bersih yang sudah disalurkan tidak hanya dari PMI. Tapi juga dari Bupati Tegal, RSUD dr Soeselo, Baznas, Kejaksaan, Polres, BPBD dan beberapa instansi lainnya.
"Kita akan fokus di desa-desa yang terparah," imbuh Sunarto.
Salah satu relawan PMI Kecamatan Jatinegara menuturkan, krisis air bersih yang terparah berada di wilayah Kecamatan Jatinegara. Hampir semua desa mengalami kelangkaan air bersih.
Bahkan, warga terpaksa membuat sumber mata air di areal yang jauh dari pemukiman. Ada pula warga yang mencari air di tengah hutan.
"Warga di sini sangat kasihan, untuk mendapatkan air, mereka harus pergi ke tengah hutan," tukasnya.