Top
Begin typing your search above and press return to search.

Jerit warga Gunung Kidul akibat kekeringan, rela jual ayam untuk beli air

Kekeringan akibat kemarau panjang di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Demi bisa mencukupi kebutuhan air bersih warga rela menjual hewan piaraan atau barang untuk membeli air. 

Jerit warga Gunung Kidul akibat kekeringan, rela jual ayam untuk beli air
X
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.

Elshinta.com - Kekeringan akibat kemarau panjang di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Demi bisa mencukupi kebutuhan air bersih warga rela menjual hewan piaraan atau barang untuk membeli air.

Ruminingsih (40), warga Dusun Temuireng, RT 05, Kelurahan Girisuko, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul menceritakan parahnya kekeringan yang dialami saat ini. Untuk mendapatkan air bersih harus membeli karena bantuan tidak datang tiap hari. Harga air bersih per tangki berisi 5.000 liter mencapai Rp150-200 ribu tergantung jarak, semakin jauh maka harganya semakin mahal. Sulitnya air membuat warga harus berhemat agar bisa bertahan lebih lama.

"Kalau tidak ada bantuan maka beli, apa yang bisa kami jual misal ayam atau yang lainya yang cepat jadi duit agar bisa membeli air. Saya ada anak kecil yang sangat butuh air, juga keluarga yang lain," ungkapnya ditemui saat sedang mengantri air bersih bantuan dari swasta, Senin (25/9/2023).

Warga lainya, Juminem (70) dan Suyati (53) juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih. Meski usia sudah sepuh tetap sanggup menggendong tempat air menuju rumahnya yang memang harus naik. Tidak ada lagi air dari sumur mereka, satu-satunya harapan hanya mengharap bantuan atau membeli dengan harga cukup mahal.

"Disini kami buruh, uangnya untuk beli air," ujar Juminem seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Rabu (27/9).

Ketua RT 05 Temuireng, Girisuko, Panggang, Gunung Kidul, Tukiyono mengatakan, bantuan dari pemerintah tidak mesti datangya, selain itu warga juga harus mengajukan proposal lebih dulu untuk mendapat air bersih dari pemerintah. Berbeda jika swasta tidak terlalu ribet. Warga berharap pemerintah punya solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan tidak hanya droping air yang selalu terjadi setiap musim kemarau.

"Kalau hanya mengharap bantuan air dari pemerintah ya haus," keluhnya.

Warga lain, Jarwanto (42) mengungkapkan bahwa pernah dibuat sumur BOR di desanya tetapi gagal beroperasi karena tidak mengalirkan air. Warga berharap pemerintah bisa mengalirkan air PAM sampai ke desanya sehingga setiap musim kemarau tidak lagi kesulitan air.

"Harapan warga itu PAM itu bisa masuk kesini," imbuhnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan Pemerintah kabupaten Gunungkidul telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sampai tanggal 30 September mendatang. Kondisi kekeringan rata-rata sama terutama yang parah di wilayah selatan Gunung Kidul.

Droping air juga telah disalurkan kebeberapa kapanewon yang mengajukan. Sampai dengan tanggal 23 September BPBD Gunung Kidul sudah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 358 tangki. Persediaan untuk musim kemarau tahun ini sebanyak 1.060 tangki

"Yang mengkhawatirkan, sumber air untuk pengisian tangki saat ini sudah mulai antre," katanya.

Terpisah, Wakil ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana mengungkapkan bahwa kondisi kekeringan di Gunungkidul dan beberapa daerah Kulonprogo mulai memprihatinkan saat ini. Banyak dusun dusun terpaksa antri tanki air untuk menunggu dropping ke berbagai wilayah yang membutuhkan.

"Saya meninjau sendiri di berbagai wilayah seperti Gedangsari, Pathuk, beberapa tempat di Ngawen dan berbagai dusun lain. Saat ini kondisi memprihatinkan, sumber air sangat terbatas, tanki air juga antri, " ujarnya.

Huda mengungkapkan bahwa warga membeli air dalam tanki 5000 an liter dengan harga bervariasi antara 250- 350 ribu untuk beberapa KK. Belum tentu juga tanki mau mengirimkan ke lokasi lokasi yang tinggi sehingga warga kesulitan. Bahkan ngedrop tanki bisa sampai jam 24 malam atau jam 01 pagi.

"Kondisi ini sangat memprihatinkan karena warga dapat air bersih antara 2 sampai 3 hari sekali, rata rata dari swadaya warga dan bantuan berbagai lembaga, " jelasnya.

Huda mengungkapkan bahwa sebenarnya sudah banyak sumur-sumur bor yang dibuat oleh pemerintah. Tetapi sayang sumur-sumur bor tersebut tidak beroperasi secara optimal.

"Saya cukup heran mengapa sumur sumur bor yang dibuat dari pemerintah banyak yang tidak operasional, pada rusak, dan kurang optimal. Padahal biaya pengeboran rata rata 500 jutaan dan sebelumnya pakai penelitian dan design pakar, "imbhunya.

Yang membuat heran juga, sumur sumur bor bantuan pihak ketiga dan swadaya cukup banyak yang berfungsi padahal biayanya dibawah 100 jutaan.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire