BPBD Boyolali terus salurkan bantuan air bersih hingga status darurat kekeringan dicabut
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali Jawa Tengah mengumpulkan para relawan untuk berdiskusi terkait peran relawan dalam penanganan dampak kekeringan yang masih terjadi hingga saat ini.

Elshinta.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali Jawa Tengah mengumpulkan para relawan untuk berdiskusi terkait peran relawan dalam penanganan dampak kekeringan yang masih terjadi hingga saat ini.
Kepala BPBD Kabupaten Boyolali Suratno usai pertemuannya dengan para relawan dan sejumlah Pihak terkait di Kecamatan Wonosegoro, Selasa (24/10/2023) mengatakan, meski pada bulan ini sudah mendekati tanda tanda turunnya hujan, namun hingga saat ini permintaan air bersih bagi warga di wilayah kekeringan masih terus terjadi.
“Saat ini sudah ada tanda tanda turun hujan, namun sampai saat ini permintaan air bersih masih ada. Meski begitu, diskusi ini menjadi salah satu momen bahwa masyarakat bersama pemerintah dan relawan itu dapat merumuskan aksi dampak kemarau panjang,” katanya kepada wartawan, Rabu (25/10) seperti dilaporkan Kontributor Elshinta Sarwoto.
Suratno mengatakan, dalam aksi tersebut diharapkan masyarakat kedepan dapat mengantisipasi terjadinya dampak kekeringan.
“Jadi dalam forum diskusi ini yang terdiri dari beberapa unsur, mulai dari pemerintah kecamatan, relawan, organisasi masyarakat, pemerintah desa dan masyarakat dapat bersinergi bersama sama untuk mengatasi dampak kekeringan itu,” ujarnya.
Menurutnya, sampai saat ini BPBD sudah menyalurkan sebanyak 867 tangki air dengan volume 4.621.300 liter. Jumlah tersebut dengan cakupan meliputi wilayah, kecamatan Wonosamodro, Wonosegoro, Gladaksari, Selo, Cepogo, Tamansari, Musuk, Andong, Juwangi, Kemusu dan Kecamatan Klego.
“Menghadapi musim hujan ini, jadi bantuan ini mendasari bagaimana permintaan dari masyarakat bagian wilayah yang mengalami kekeringan atau kekurangan air bersih. Kalau mereka masih meminta, kami akan terus memberikan bantuan air. Jadi bantuan ini dihentikan apabila darurat kekeringan ini sudah dicabut oleh Pak Bupati,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Boyolali, Ribut Budi Santoso mengatakan, dalam diskusi ini bagaimana para relawan yang sudah terbentuk ini dapat mengantisipasi dampak elnino pada tahun yang akan datang.
“Tadi juga ada masukan dari forum diskusi. Masukan dari para relawan tersebut nantinya akan kami diskusikan lagi dengan BPBD, kemudian rekomendasi nanti kita laporkan kepada Pak Bupati,” katanya.
Ribut berharap, forum diskusi ini berkelanjutan dan tidak berhenti disini. Lanjutnya, sebab, dalam forum ini terjadi berbagai usulan yang menarik terkait solusi dampak kekeringan dan penyaluran air bersih.