Kehadiran SPBN Banyutowo Pati bantu ratusan nelayan lepas jeratan tengkulak
Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Di daerah ini ada sekitar 700 nelayan yang setiap hari perekonomian keluarganya ditopang dari melaut.
.jpg)
Elshinta.com - Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Di daerah ini ada sekitar 700 nelayan yang setiap hari perekonomian keluarganya ditopang dari melaut. Mereka terbagi dalam kategori nelayan harian yakni yang pergi melaut setiap hari maupun yang pulang beberapa hari sekali sesuai jenis kapal. Rata-rata kapal nelayan ini dibawah 30 gross tonnage. Beberapa tahun lalu para nelayan ini jika hendak melaut, mereka membeli bahan bakar minyak jenis bio solar kepada tengkulak (pihak ketiga) karena belum ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).
Adanya SPBN Banyutowo sejak tahun 2007 menjadi tempat yang " istimewa" bagi para nelayan karena mereka dapat memperoleh BBM jenis bio Solar dengan mudah dengan harga subsidi tidak harus melalui pihak ketiga yang tentu saja harganya jauh lebih mahal. Keberadaan SPBN sangat membantu nelayan di Banyutowo dan sekitarnya. "Dulu kita kalau beli BBM lewat tengkulak yang siap menyuplai dan mendanai berapapun kita butuhkan, termasuk juga kebutuhan perbekalan seperti umpan, sembako selama melaut. Dengan adanya SPBN kita terbantu tidak harus susah-susah mencari Solar", ujar Sutrisno Ketua Paguyuban Nelayan Desa Banyutowo Kecamatan Dukuh Seti Kabupaten Pati.
Dikatakan, para nelayan di kawasan Banyutowo dan sekitarnya merupakan nelayan kecil dengan kapal dibawah 30 GT. Jadi membeli BBM jenis bio solar sesuai rekomendasi dari Dinas terkait. "Kami disini merupakan nelayan pencari rajungan. Tapi sejak bulan Juli lalu sepi hasil tangkapan bahkan harus "nombok" karena ongkos melaut tidak sebanding dengan hasil yang kami dapatkan. Saat ini kalau melaut paling hanya dapat tangkapan 20 kilogram rajungan padahal modal melaut selama 4 hari sekitar Rp. 3 juta. Kalau saat cuaca baik seperti dulu tangkapan bisa mencapai 70 kilogram," keluh Sutrisno.
Dia mengisahkan meski sudah ada SPBN nelayan yang jumlahnya ribuan termasuk dari Desa-desa lain seperti Desa Puncel, Kinanti, Alasdowo, Dukuhseti, nelayan pemilik kapal kecil terkadang masih kesulitan untuk mendapatkan BBM. Permasalahan yang dialami rata-rata terkait rekomendasi untuk nelayan yang menginap atau 3 sampai 4 hari baru mendarat atau baru pulang. BBM mereka tidak bisa dibeli sekaligus padahal kalau ditengah laut kehabisan BBM justru membahayakan.
Yanto salah satu nelayan Desa Kinanti Kecamatan Dukuhseti mengaku selama ini kesulitan mendapatkan BBM jenis bio Solar karena tidak bisa membeli pakai jeriken. Padahal nelayan kecil untuk mendapatkan Solar sebelum melaut dipindah ke kapal harus pakai jeriken, tidak mungkin kapal dibawa ke SPBU.
"Adanya SPBN sangat membantu karena bisa membeli solar dengan harga subsidi. Kallau lewat tengkulak bisa diatas Rp. 8000 perliter", ungkapnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Jumat (27/10).
Dalam mendapatkan BBM jenis bio Solar, para nelayan meminta surat rekomendasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Pati. Setelah mendapatkan surat rekomendasi kemudian didaftarkan ke SPBN untuk mendapatkan Barcode. Barcode sesuai nomer dan nama kapal itulah yang digunakan untuk membeli BBM. "Repotnya itu tiap bulan harus memperpanjang surat rekomendasi padahal kami serasa baru pulang melaut sudah harus mengurus lagi. Kami berharap surat rekomendasi berlaku tidak untuk satu bulan saja, kalau bisa satu tahun atau minimal 6 bulan sekali", ungkap Yanto.
Pengelola SPBN Banyutowo, Paidi menjelaskan keberadaan SPBN Banyutowo ada sejak tahun 2007. Di kawasan Banyutowo ada dua SPBN untuk melayani para nelayan di kawasan laut paling utara dikabupaten Pati. Untuk operasional SPBN yang dikelola yakni dari Pukul 08.00 WIB sampai Pukul 16.00 WIB. Pasokan perhari sebanyak 16000 kilo liter
"Terkadang untuk pelayanan fleksibel bahkan lebih dari jam 16.00 WIB kalau ada nelayan yang datang tetap dilayani", tutur Paidi.
Di SPBN Banyutowo terdapat empat karyawan yang siap melayani para nelayan. "Rata-rata yang antre jeriken itu ibu-ibu. Bapak-bapaknya masih melaut kalaupun sudah pulang, sedang istirahat setelah melaut. Kami sebagai operator harus sabar melayani konsumen ibu-ibu nelayan karena setiap pagi ada ratusan yang antre ", imbuhnya.
Brasto Galih Nugroho Area Manager Communication Relation and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah mengungkapkan guna membantu para nelayan dalam hal pemerataan BBM dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Pihak Pertamina mendekatkan pelayanan melalui SPBN. Nelayan yang bisa membeli BBM jenis bio Solar yakni untuk para nelayan yang kapalnya dibawah 30 GT. Bagi nelayan yang kapal diatas 30 GT tidak boleh membeli BBM bersubsidi tetapi harus membeli BBM jenis Gasolin dan Pertamina Dex.
"Bagi yang kapalnya diatas 30 GT kami minta mereka membeli solar industri seperti Gasolin maupun Pertamina Dex. Sebaiknya jangan mengambil hak nelayan kecil. Jika ada yang menemukan penyelewengan solar subsidi dilapangan bisa melaporkan ke pihak Pertamina", ujar Brasto.
Dijelaskan, pihak Pertamina juga menghadirkan program "Solusi" Solar Untuk Koperasi Nelayan. Dimana,para nelayan bisa membeli solar melalui koperasi nelayan. Untuk itu pihaknya mendorong disetiap kampung nelayan berdiri koperasi-koperasi apalagi sudah ada paguyuban kelompok nelayan jadi akan lebih mudah dikoordinir.
Brrdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati. Di Desa Dukuhseti kecamatan Dukuhseti sudah terbentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) bidang perikanan tangkap. Kelompok Usaha Bersama (KUB) perikanan tangkap adalah badan usaha non badan hukum ataupun yang sudah berbadan hukum yang berupa kelompok yang dibentuk oleh nelayan berdasarkan hasil kesepakatan/musyawarah seluruh anggota yang dilandasi oleh keinginan bersama untuk berusaha bersama dan dipertanggungjawabkan secara bersama guna meningkatkan pendapatan anggota. Kelompok Usaha Bersama (KUB) terdiri dari KUB MINA REJEKI I yang diketuai oleh Jaswito dengan anggota 25 nelayan, dan KUB MINA REJEKI II yang diketuai Sariyadi dengan Anggota 25 Nelayan. Untuk di Desa-desa lain juga sedang difasilitasi.