Olah sampah organik 20 ton perhari, BLDF ikut lestarikan lingkungan
Permasalahan sampah menjadi momok tersendiri bagi pemerintah daerah karena setiap hari ada puluhan ton sampah menumpuk.

Elshinta.com - Permasalahan sampah menjadi momok tersendiri bagi pemerintah daerah karena setiap hari ada puluhan ton sampah menumpuk. Sampah-sampah ini biasanya hanya diangkut untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Kondisi inilah yang mendorong Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BDLF) ambil peran dalam pelestarian lingkungan dengan cara mengelola sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Apalagi pihak BLDF juga mendapatkan informasi kapasitas TPA di Kudus akan penuh.
Upaya pelestarian lingkungan ini diwujudkan dengan membantu Pemerintah Kabupaten Kudus menciptakan lingkungan yang bersih dan terjaga lewat pengelolaan sampah berkelanjutan, khususnya menuju zero waste, zero emission (ZWZE) 2040. BLDF meluncurkan Program Kudus Asik (Apik dan Resik) yang telah dikampanyekan secara digital sejak tahun lalu.
Vice President Director Djarum Foundation FX Supanji menyampaikan melalui program Kudus Asik, BLDF mensosialisasikan serta meningkatkan kesadaran generasi muda Kudus untuk berperan aktif menjaga lingkungan agar lebih Apik dan Resik. Program ini juga bekerja sama dengan 312 mitra di kabupaten Kudus untuk memilah sampah organik yang akan diolah menjadi kompos (humusoil).
“Sampah organik itu dibawa ketempat pengomposan di Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) BLDF taman OASIS. Mitra kami, diantaranya usaha katering, rumah makan, hotel, fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, panti asuhan, pondok pesantren, perusahaan, pasar tradisional, serta masyarakat di Kudus,” ungkap FX Supanji disela-sela meninjau pengolahan sampah di taman OASIS, Rabu (29/11).
Dijelaskan, pengolahan sampah organik yang dilakukan sudah mencapai 20 ton perhari. Sampah-sampah tersebut diolah dicampur dengan sejumlah ramuan kemudian dilakukan fermentasi selama 6 bulan sebelum digunakan untuk memupuk tanaman. "Kompos yang dihasilkan digunakan untuk memupuk pohon-pohon ditaman OASiS dan juga dibagikan kepada masyarakat saat ada penanaman pohon dan sebagainya", lanjutnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Kamis (30/11).
Deputi Manager Djarum Foundation Bakti Lingkungan Yunan Aditya, program ini setidaknya mampu mengurangi jumlah sampah organik di daerah hulu. Upaya pengelolaan sampah organik melalui Kudus Asik ini dipercaya akan berdampak secara signifikan pada penurunan emisi karbon.
Sementara itu, Pemkab Kudus telah melakukan berbagai upaya untuk mengolah sampah organik menjadi kompos diantaranya menjalankan Pusat Daur Ulang (PDU), mendorong program buang sampah dibayar dengan sampah (Busadipah), mengoptimalkan kinerja bank sampah unit desa (BSU), dan kolaborasi dengan berbagai pihak seperti dengan pihak BLDF.
Sejumlah pasar tradisional di Kudus juga sudah menjalin kerjasama dalam pengolahan sampah organik dengan BLDF. Salah satunya pengelola pasar Bitingan yang sudah menjajaki kerjasama sejak 4 tahun silam. Kerjasama ini terbukti ampuh mengurangi sampah yang menumpuk. Pihak pengelola pasar juga menyiapkan petugas untuk memilah sampah sebelum dibawa ke PPT Djarum OASIS. Sebelumnya sampah dari Pasar ini hanya diangkut untuk dibuang ke TPA Tanjungrejo Kecamatan Jekulo.
Daya tampung TPA Tanjungrejo semakin berkurang dan hanya mampu menampung sampah masyarakat dalam beberapa bulan kedepan sehingga membutuhkan tambahan lahan baru. Luas lahan TPA milik pemkab Kudus ini hanya sekitar 5,25 hektare.