Legislator ajak Gen Z & Milenial kunjungi museum dan senangi sejarah
Peran Yogyakarta dalam perjalanan sejarah Indonesia memiliki posisi yang penting. Yogyakarta juga pernah menjadi Ibu Kota RI saat situasi negara sedang genting akibat agresi penjajah.

Elshinta.com - Peran Yogyakarta dalam perjalanan sejarah Indonesia memiliki posisi yang penting. Yogyakarta juga pernah menjadi Ibu Kota RI saat situasi negara sedang genting akibat agresi penjajah.
"Peran Yogyakarta dalam sejarah kebangsaan penting dipahami konteks sejarahnya. Termasuk bagaimana Presiden RI pertama, Ir Sukarno bersama Wakil Presiden Mohammad Hatta berpindah ke Yogyakarta di tanggal 4 Januari 1946," kata Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY, Jumat (5/1).
Pemindahan Ibu Kota negara saat itu tidak lepas dari peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menyatakan ke siapan Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia yang dinilai lebih aman saat itu. Maka pada 4 Januari 1946 ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta dimana usia Republik Indonesia saat itu masih muda Menurutnya, ada peran sejarah kebangsaan yang penting untuk dipahami konteksnya.
"Maka kita ajak gen Z dan Milenial mau belajar sejarah. Ke museum, ke monumen, itu menyenangkan dan asyik lho, " ujarnya.
Seperti diketahui bersama, di awal Republik Indonesia merdeka, setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kondisi Jakarta sebagai ibukota menjadi tidak stabil lantaran pendudukan oleh tentara Belanda (NICA). Hal ini mendorong para pemimpin melakukan pemindahan ibu kota dengan cepat ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946.
Perjalanan rahasia tersebut jelas beresiko dan tanggung jawab atas itu dipahami benar oleh dwi tunggal Sukarno-Hatta sebagai pemimpin bangsa Indonesia.
"Di Yogyakarta inilah, politik diplomasi Indonesia dijalankan, dwi tunggal kepemimpinan NKRI oleh Sukarno-Hatta dijalankan. Sumbangsih dan peran Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Puro Pakualam dalam sejarah Indonesia itu nyata, seluruh kegiatan operasional pemerintahan dijalankan dari Yogyakarta, operasional pemerintah disumbang oleh Kasultanan dan Keraton Yogyakarta," pungkasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo.