Top
Begin typing your search above and press return to search.

Pasca Pemilu, UB kukuhkan empat profesor lintas keilmuan

Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur kembali mengukuhkan empat guru besar atau profesor lintas keilmuan. Ke-empat guru besar atau profesor ini yakni, Prof.Dr..Ir.Sitawati, M.S yang merupakan profesor aktif ke 33 di Fakultas Pertanian (FP) dan Profesor aktif ke 208 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 371 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya. Prof. Dr. Ali Maksum, M.Ag., M.Si. sebagai profesor aktif ke 4 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Profesor aktif ke 209 di Universitas Brawijaya serta menjadi profesor ke 372 dati seluruh profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya. 

Pasca Pemilu, UB kukuhkan empat profesor lintas keilmuan
X
Sumber foto: El Aris/elshinta.com.

Elshinta.com - Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur kembali mengukuhkan empat guru besar atau profesor lintas keilmuan. Ke-empat guru besar atau profesor ini yakni, Prof.Dr..Ir.Sitawati, M.S yang merupakan profesor aktif ke 33 di Fakultas Pertanian (FP) dan Profesor aktif ke 208 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 371 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya. Prof. Dr. Ali Maksum, M.Ag., M.Si. sebagai profesor aktif ke 4 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Profesor aktif ke 209 di Universitas Brawijaya serta menjadi profesor ke 372 dati seluruh profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.

Ketiga Prof. Dr. Ir. Nur Edy Suminarti, M.S. sebagai profesor aktif ke 34 di Fakultas Pertanian (FP) dan profesor aktif ke 210 di Universitas Brawijaya serta menjadi profesor ke 373 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya. Dan ke empat Prof. Dr. Wuryan Andayani, S.E., Ak., M.Si. sebagai profesor aktif ke 29 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Profesor aktif ke 211 di Universitas Brawijaya serta menjadi profesor ke 374.

Prof Dr Ir Sitawati M.S. dalam pidato ilmiahnya bertema Estetika, Ekologis dan Ekonomis Prinsip Tata Tanaman Untuk Kenyamanan Kota.
“Hortikultura Lanskap merupakan bagian dari ilmu Hortikultura yang khusus mempelajari tentang penataan tanaman untuk mengatur dan mendapatkan lingkungan yang estetik. Hortikultura Lanskap Model 3E (Estetika-Ekologis-Ekonomis), merupakan pengembangan dari hortikultura lanskap yang menambahkan nilai ekologis dan ekonomis. Hortikultura Lanskap 3E menjadi penting mengingat pada saat ini populasi penduduk di perkotaan. Maka kebutuhan lingkungan tidak hanya estetika dengan tampilan bentuk, struktur vegetasi dan arsitektur tanaman yang indah, namun juga ekologis dan ekonomis,“ ujarnya.

Pada Hortikultura Lanskap 3E, keberadaan tanaman di perkotaan akan menambah luas Ruang Terbuka Hijau (RTH), menurunkan Urban Heat Island (UHI) dan meningkatkan Temperature Humidity Index (THI), sehingga akan memberikan kenyamanan bagi penduduk di perkotaan daripada Hortikultura Lanskap yang hanya menampilkan keindahan.

“Disisi lain, dengan populasi urban yang tinggi, keterbatasan lahan dan kebutuhan ekonomi yang kompetitif, Hortikultura Lanskap 3E dengan pemilihan jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomi, akan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat di daerah urban yang mempunyai keterbatasan ekonomi,” tandasnya .

Prof. Dr. Ali Maksum., M.Ag.,M.Si. dalam pidato ilmiahnya berjudul “Transformasi Sosial Profetik Untuk Masyarakat Sipil Berkeadaban“. “Model transformasi sosial profetik muncul sebagai respon atas kegelisahan kondisi sosial. Persoalan fragmentasi sosial, kesenjangan, konflik, dan krisis lingkungan hidup di basis akar Tumput mendesak untuk ditemukannya solusi aktual dan implementatif,“ungkap Ali Maksum seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, El Aris, Selasa (20/2).

Kejadian di akar rumput sejak lahirnya reformasi dimulai dari kontestasi politik yang telah mempolarisasi masyarakat pada dimensi politik dan ekonomi. Selain itu kesenjangan ekonomi di Indonesia yang dilaporkan World Inegualiry Report pada tahun 2022 yang tidak berubah selama dua dekade terakhir.Respon atas persoalan tersebut hadir dalam gagasan model transformasi sosial profetik. Model transformasi ini beranjak dari refleksi kritis dan elaborasi konsepsi antara transformasi sosial dan nilai profetik.

“Unsur-unsur pembentuk model ini terdiri dari integrasi antara nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat sipil dan nilai-nilai profetik. Unsur-unsur tersebut dapat bekerja secara baik apabila didukung oleh pilar-pilar perubahan yang terdiri dari tiga elemen: struktur, kultur, dan agen pada dimensi sosial makro, meso, dan mikro. Melalui model transformasi ini diharapkan terbangun relasi sosial masyarakat sipil yang berkeadaban,“ ujarnya.

Prof. Dr. Ir. Nur Edy Suminarti, MS pada pidato ilmiahnya menyampaikan Metode PM-BWEB Untuk Pengembangan Tanaman Talas Dompol Di Lahan Kering.

“Umbi talas sebagai bahan pangan fungsional, terutama untuk penderita diabet. Tanaman talas dompol biasanya ditanam petani pada awal musim penghujan dengan mengikuti budaya lokal menggunakan sistem kalender pranoto-mongso tradisional (PM F). PMT ini mendasarkan pada gejala perubahan alam untuk penentuan musim tanamnya. Pranotomongso merupakan kalender bercocok tanam sederhana yang dapat diterapkan di lahan kering, lahan sawah tadah hujan, maupun lahan sawah irigasi semi teknis,“ ujarnya.

Adanya perubahan iklim global menyebabkan metode PMT ini kurang akurat karena indikator untuk penentuan waktu tanam tidak muncul kembali. Oleh karena itu diperlukan data iklim untuk menyusun analisis neraca air yang akan digunakan sebagai penentu waktu tanam.
Metode pranoto-mongso yang berbasis website (PM-bweb) merupakan salah satu metode yang perlu dikembangkan di era perubahan iklim global saat ini yang penentuan musim tanamnya didasarkan pada analisis neraca air.

“Secara klimatologis, neraca air betujuan untuk mengetahui jumlah netto air yang diperoleh, serta untuk mengetahui berlangsungnya periode basah (surplus) maupun periode kering (defisit) pada suatu wilayah dan waktu tertentu.Keunggulan dari metode pranoto-mongso web (PM-bweb) adalah: membantu dan mendorong pekerjaan menjadi lebih efisien dan efektif, informasi mudah didistribusikan, lebih murah dan lebih powerfull, mudah di up-date, akses informasi lebih mudah, mudah pengembangannya, dan lebih aman. Kelemahannya yakni diperlukan jaringan internet untuk dapat mengakses data melalui website, jaringan internet belum tersedia pada semua wilayah di Indonesia, data unsur-unsur iklim yang lengkap hanya tersedia dan dapat diakses melalui stasiun klimatologi besar saja (kelas | dan 2), pengetahuan tentang pengaksesan data melalui website (internet) maupun pengetahuan tentang analisis neraca air juga belum dimiliki oleh semua petani di Indonesia, gangguan hama penyakit yang terkait dengan perubahan iklim belum diperhitungkan dalam metode ini. “ jelasnya .

Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA dalam pidatonya menyampaikan Octupte Bottom Line (OBL) Sebagai Instrumen Untuk Mendukung Terciptanya Keberlanjutan Kesejahteraan Bumi Dan Manusia

“Model keberlanjutan OBL merupakan sinergi dari Sustainable Development Goals, Triple Bottom Line (People, Planet, Profit/3P) dan Pentuple Bottom Line (2P, Phenotechonology, Propher).Pembangunan tidak hanya difokuskan pada pencapaian ekonomi, tetapi harus memperhatikan 8 (delapan) pilar pembangunan berkelanjutan lainnya. Nilai-nilai Octuple Bottom Line yang merupakan 8 (delapan) pilar Pembangunan berkelanjutan meliputi people, planet, profit, phenotechnology, prophet, power, peace-loving dan partnership,“ ungkapnya.

Delapan pilar pembangunan berkelanjutan melibatkan pencapaian ekonomi, sosial, lingkungan, kesadaran akan adanya Tuhan, spiritualitas, pentingnya teknologi informasi, dorongan kekuatan pikiran yang sehat, perdamaian dan keadilan, serta kemitraan.
Kondisi dunia saat ini terutama di forum Dewan Keamanan PBB, Power, Peace-Loving, dan Partnership saling terkait satu sama lain dalam mengatasi konflik di negara-negara dan hubungan diplomatik antarnegara di dunia.

“Power lebih menekankan pada kekuatan, dorongan, dukungan dari internal yaitu adanya pikiran positif dan sehat, Kesehatan mental yang baik dan jiwa yang bersih. Organisasi yang memiliki kekuatan internal untuk saling menghormati dan menghargai akan menciptakan kondisi yang positif sehingga bisa meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi. Hal tersebut didukung dengan kekuatan eksternal dengan patuh terhadap peraturan-peraturan dari pemerintah atau organisasi internasional lainnya yang berwewenang,“ jelasnya.

Konsep OBL memiliki keunggulan untuk menciptakan strategi Corporate Social Responsibility (CSR) dengan mensinergikan pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/SDGs dan Pentuple Bottom Line, Kelemahan OBL adalah membutuhkan konsistensi, kesepakatan bersama dan waktu untuk bisa tercapai tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia yaitu tahun 2030 dan menuju Indonesia Emas tahun 2045.tandasnya

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire