Menikmati Nasi Tempong, kuliner khas Banyuwangi di Bali
Wisatawan maupun penikmat kuliner yang datang ke Bali bisa mampir sekaligus mencoba menikmati berbagai aneka sajian kuliner di Warung Nasi Tempong Lalah. Nasi tempong dikenal merupakan salah satu kuliner khas dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
.jpg)
Elshinta.com - Wisatawan maupun penikmat kuliner yang datang ke Bali bisa mampir sekaligus mencoba menikmati berbagai aneka sajian kuliner di Warung Nasi Tempong Lalah. Nasi tempong dikenal merupakan salah satu kuliner khas dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Nasi Tempong Lalah yang baru saya dibuka tersebut berlokasi di Jalan Raya Kuta No. 96 Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Nasi Tempong Lalah ini mempunyai citra rasa pedas dan bumbu segar yang menggugah selera bagi penikmat kuliner nasi tempong.
Warung Nasi Tempong Lalah yang menyuguhkan aneka kuliner dengan sambal pedas fresh itu akan membuat penikmat masakan akan merasakan sajian khas ayam goreng dan aneka lalapan ditambah sate dan telur goreng serta sayur asem yang segar.
“Nasi Tempong Lalah ini bukan hanya sekedar nasi tempong biasa, menunya memang sama tetapi berbeda dari warung (nasi tempong) kebanyakan,” kata Stella Susilo salah satu owner Tempong Lalah pada Rabu (28/2).
Ia menjelaskan bahwa salah satu bedanya dimana Nasi Tempong Lalah menyediakan sambal fresh pedas yang beda dengan bahan-bahan lokal yang segar. Diharapkan pemgunjung dan penikmat kuliner akan merasa nyaman karena juga tersedia wastafel dilengkapi dengan toilet yang bersih.
Sementara itu salah satu owner Nasi Tempong Lalah yaitu artis Billy Syahputra dalam kesempatan yang sama juga menambahkan bahwa dirinya bersama owner lainnya memang memilih menu kuliner nasi tempong karena kesukaannya pada masukan khas asli Banyuwangi tersebut.
Billy Syahputra mengaku bahwa dirinya setiap datang ke Bali selalu memilih makan nasi tempong. Ia juga meneceritakan bahwa dirinya juga sudah beberapa kali mencoba makan nasi tempong di beberapa warung saat berkunjung ke Bali dan rasanya memang enak dengan ciri khas sambal pedasnya.
Hingga akhirnya Billy Syahputra bersama teman-temanmya tertarik ingin punya warung nasi tempong sendiri namun dengan gaya yang berbeda dan punya ciri khas tersendiri Billy Syahputra beralasan bahwa daripada makan di warung nasi tempong lainnya, maka lebih baik buka warung nasi tempong sendiri.
“Makannys gak bayar dan malah dapat untung, akhirnya kami berlima membuka Nasi Tempong Lalah,” kata Billy Syahputra.
Sementara itu Arif Maulana Nurbani selaku owner Nasi Tempong Lalah mengatakan bahwa memang banyak warung nasi tempong di Bali seperti di daerah Kuta Bali ini. Namun meski demikian ia meyakini bahwa dengan kehadiran Nasi Tempong Lalah bisa diterima, khususnya bagi masyarakat Bali dan sekitarnya.
“Beberapa keunggulan tersebut, seperti lokasi kami dekat dengan bandara (Bandara Internasional I Gusti Ngurag Rai) membuat pengunjung tidak harus tergesa-gesa saat makan sebelum mereka pergi ke bandara,” kata Arif Maulana Nurbani.
Sementara Abi Jauw salah satu owner Nasi Tempung Lalah menambahkan bahwa warungnya mampu menampung sebanyak 150 orang. Selain itu warungnya juga dilengkapi dengan lahan parkir cukup luas sehingga arus lalu lintas kendaraan bermotor yang melintas di depan Warung Nasi Tempong Lalah tetap lancar.
Sementara itu alasan dipilihnya Bali sebagai peluang pasar atau cabang pertama di Indonesia itu karena Bali dianggap merupakan destinasi wisata internasional yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dari seluruh dunia maupun wiasatawan domestik dari seluruh Indonesia.
“Pasar ini (Nasi Tempong Lalah) tentu saja baik bagi prospek di Bali, dan pihaknya optimis bisa survive. Ke depan, kami juga akan buka di Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya,” kata Abi Jauw.
Nama Tempong Lalah sendiri menurut Nur Satriatama, sebenarnya bukan sekedar nama tanpa arti. Tak kalah manariknya, rupanya dipilihnya kata Lalah mengandung dua hal penting.
“Pertama dalam Bahasa Bali, Lalah itu artinya pedas. Kedua, jika dibalik bacanya maka kata Lalah itu berarti Halal , itu maksud lainnya,” pungkasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Kamis (29/2).