Manajemen dan kedisiplinan, kunci ketaatan santri
Imbas dari meninggalnya Bintang Balqis Maulana (14), santri asal Banyuwangi yang sedang menempuh pendidikan di salah satu Pondok Pesantren di Kabupaten Kediri Jawa Timur yang diduga akibat dianiaya, mengundang keprihatinan semua pihak.

Elshinta.com - Imbas dari meninggalnya Bintang Balqis Maulana (14), santri asal Banyuwangi yang sedang menempuh pendidikan di salah satu Pondok Pesantren di Kabupaten Kediri Jawa Timur yang diduga akibat dianiaya, mengundang keprihatinan semua pihak.
Keprihatinan seperti disampaikan Pimpinan Ponpes Al-Qur'aniyyah Majalengka, Ust. Yuyud Aspiyudin. Selain menyampaikan keprihatinan Yuyud juga menyoroti beberapa aspek seperti bullying bahkan tindak kekerasan yang bisa terjadi di Pondok Pesantren.
"Kami selaku salah satu Pimpinan Pondok Pesantren merasa prihatin terhadap kasus yang terjadi di salah satu ponpes di Jatim yang Santrinya sampai meninggal dunia, mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," ungkap Yuyud, Jumat (1/3).
Selain itu, Yuyud juga berharap pihak Pondok Pesantren dapat memperbaiki manajemen pondok serta pengawasan dari pimpinan langsung serta pengurusnya lebih ditingkatkan.
"Dan mudah-mudahan pihak Ponpes terkait di sana, bisa memperbaiki manajemen Pondok, karena mungkin itu terkait dengan manajemen Pondok harus diperbaiki juga pengawasan dari Pimpinan Pondok dari Pengurusnya harus betul-betul ditingkatkan," kata Yuyud seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Enok Carsinah, Sabtu (2/3).
Sebagai pimpinan lembaga pondok pesantren dengan ratusan santri, Yuyud mengaku di Ponpes Al-Quraniyah yang selama ini ia kelola, manajemen pondok dan kedisplinan menurutnya merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah lembaga pondok pesantren. .
"Kalau di Ponpes di Al Quraniyah Majalengka selalu menerapkan kedisiplinan, tentu manajemen itu sudah ada ya, tapi pelaksanaannya harus betul, kedisiplinan, termasuk kebersihan harus betul-betul diterapkan," katanya.
"Makanya di sini di pondok pesantren dalam menjadikan mereka disiplin itu bahkan sudah pakai aplikasi khusus bahkan jajan, absen sholat, absen sekolah, jajan, sudah terafiliasi ke HP masing-masing jadi bisa dipantau di rumah masing-masing oleh orang tua sendiri," tambahnya.
Dengan inovasi teknologi berupa pemakaian aplikasi menurut Yuyud semua bisa terpantau dengan aplikasi tersebut, sementara dengan manajemen yang diterapkan yang di dalamnya sudah ada sistem, hal itu bisa membuat anak jadi patuh.
Sementara terkait bullying yang terjadi di pondok pesantren, Yuyud menyebut biasanya menimpa santri baru. Santri baru kata dia, masih belum mengetahui situasi, kebiasaan dan peraturan pondok.
"Ini biasanya kalau bullying itu ngece (bahasa Sunda), biasanya terjadi di santri baru biasanya, karena kita maklum mereka. mungkin belum tau peraturan di pondok," ujar Yuyud.
"Di sini perlu pengawasan dari pihak pondok yang ketat untuk mengantisipasi itu, karena kalau dibiarkan akan menjadi besar dan berujung kematian itu. Tapi kalau kita antisipasi sejak dini insya Allah tidak akan terjadi seperti itu," imbuhnya.
Yuyud menandaskan perlunya pengawasan pengasuh pondok dan pengurus pondok betul betul mendeteksi semua biar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.
Ia menghimbau kepada para santri yang ada di Majalengka selalu taat dan patuh pada aturan, jika taat dan patuh pada aturan yang sudah diberikan di pondok akan selamat, kalau sudah melanggar aturan akan celaka.
"Misal seseorang bawa kendaraan kemudian melanggar aturan apakah tidak pakai helm atau menabrak lampu merah pasti ia akan celaka, kalau ia taat pasti akan selamat karena dia sudah taat terhadap aturan itu," pungkasnya.
Di tempat terpisah, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Majalengka Agus Sutisna juga menyayangkan terjadinya kasus yang menimpa santri hingga meninggal dunia, yang menurutnya tidak harus terjadi di sebuah lembaga pondok pesantren.
"Kejadian dari salah satu Pondok Pesantren di Jatim, tidak harus terjadi. untuk itu kepada semua lembaga ponpes yang ada di Majalengka agar senantiasa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena Pondok Pesantren adalah lembaga yang sangat terhormat dengan beragam pendidikan agama dan keagamaan," tandas Agus Sutisna.
Agus juga menyebut, di Kementrian Agama terdapat Seksi PD Pontren yang merupakan kepanjangan dari Kanwil Kemenag Provinsi Jabar secara berkala kata dia dilakukan pengawasan ke setiap pondok pesantren, sehingga tidak perlu khawatir.
"Di situ kami lakukan pengawasan di tiap ponpes secara berkala. Tidak ada kekhawatiran karena saya ada keyakinan karena di Kabupaten Majalengka ini tidak terlalu banyak ponpes yang besar lain halnya di jawa Timur yang jumlah santrinya mencapai puluhan ribu," ungkap Agus.
Sementara, Kasie Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ade Firmansyah mengatakan pihaknya merasa prihatin dengan kejadian yang menimpa salah satu santri di ponpes yang berada di Jawa Timur, yang diduga telah dianiaya.
Berkaca pada kejadian tersebut, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan forum pondok pesantren yang ada di Majalengka untuk melakukan pembinaan terkait pondok pesantren ramah anak.
"Sehingga kami di Majalengka selalu berkoordinasi dengan forum pondok pesantren terkait pondok pesantren ramah anak, yang nanti akan melakukan pembinaan terhadap sejumlah pondok pesantren untuk membahas pesantren ramah anak," ujar Ade seraya menyebut sedikitnya ada sekitar 501 Pondok Pesantren di Kabupaten Majalengka berdasarkan data EMIS (Education Management Information System).