Giling Tebu 2024, Bulog rencana beli gula petani
Pemerintah mengantisipasi anjloknya harga jual gula milik petani pada awal musim giling tahun 2024 bilamana terjadi lelang gula dibawah HPP. Satu diantaranya dengan akan dilakukan pembelian oleh Bulog manakala penawaran lelang gula tani dibawah HPP.

Elshinta.com - Pemerintah mengantisipasi anjloknya harga jual gula milik petani pada awal musim giling tahun 2024 bilamana terjadi lelang gula dibawah HPP. Satu diantaranya dengan akan dilakukan pembelian oleh Bulog manakala penawaran lelang gula tani dibawah HPP. Angin segar ini tidak lain hasil kesepakatan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) setelah melakukan audiensi dengan Dirut Bulog awal Maret ini.
Perlu diketahui bahwa biasanya di awal giling, lelang gula petani penawarannya dibawah HPP yang ditetapkan oleh pemerintah, dan dikarenakan saat itu petani memerlukan dana untuk melanjutkan pengelolaan lahannya maka terpaksa harus dijual walaupun dengan harga yang dibawah harga jual di pasar. Tentu ini akan menjadikan hitung-hitungannya dan menjadi penghasilan petani tidak memperoleh keuntungan.
Ketua Umum DPN APTRI Soemitro Samadikoen mengatakan biasanya pada awal musim giling harga gula petani dari hasil lelang selalu ditawar di bawah HPP, bila itu dilepaskan kepada pembeli maka pendapatan dari hasil panen jauh dari harapan petani dan penghasilan petani bisa jalan di tempat atau bahkan merosot. Padahal tanaman tebu itu usianya satu tahun, jadi panennya hanya sekali dalam kurun waktu yang panjang, yaitu 12 bulan mengelola dan menunggu penghasilan.
"Mengacu pengalaman pada HPP tahun 2023, lelang di awal musim giling di bawah HPP, baru menjelang akhir giling harga lelang gula mulai merangkak naik" kata Soemitro Samadikoen, Selasa (12/3).
Soemitro Samadikoen menjelaskan Bulog akan ikut membeli gula milik petani, disamping ikut membantu meningkatkan pendapatan petani tebu juga untuk stok ketersediaan gula sebagai upaya untuk stabilisasi harga bilamana nantinya dipasaran terjadi lonjakan harga.
"Bila harga gula di pasar melonjak naik maka Bulog akan bisa ikut intervensi pasar dari stock pembelian gula petani dalam negeri," ucap Soemitro seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.
Soemitro yakin para petani di musim-musim tanam mendatang minat bercocok tanam tebu akan kembali bergairah dari luas lahan tanaman yang ada saat ini dengan adanya Bulog ikut serta membeli gula milik petani. Kedepan diharapkan kebutuhan gula nasional yang diawali terlebih dahulu dari pemenuhan kebutuhan gula konsumsi (GKP) akan bisa terpenuhi dari para petani tebu dalam negeri.
Ketua Umum DPN APTRI tersebut berharap kepada pemerintah kebutuhan dasar petani seperti bibit unggul, karena itu yang jadi tumpuan harapan petani menjaga dan meningkatkan penghasilannya. Kemudahan untuk mendapatkan kredit dengan bunga rendah menjadi harapan petani
"Untuk menjaga penghasilan petani tebu khususnya dan meningkatkan produktifitas gula nasional sudah seharusnya pemerintah lebih fokus dalam memberikan peningkatan pemenuhan sarana dan prasarana budidaya tanam tebu, mulai dari ketersediaan benih unggul yang mumpuni, kredit dengan bunga super ringan," papar Soemitro.
Irigasi yang mencukupi kebutuhan tanaman menjadi faktor penting untuk meningkatkan hasil yang maksimal, dari itu Ketua Umum DPN APTRI mendesak pemerintah agar kebutuhan air dan jaringan sampai ke lahan pertanian terbangun dan terjaga kebutuhannya.
"Kebutuhan air yang handal dan mumpuni, pemberantasan hama yang serentak dan berkesinambungan, peningkatan efisiensi pabrik gula milik BUMN serta pengelolaan pasar gula yang dinamis dan memberikan keuntungan yang sepadan bagi peri kehidupan budidaya tanam tebu dan industri gula nasional dalam rangka merealisasikan swasembada gula sebagaimana diamanatkan Perpres no 40 tahun 2023," pungkasnya.