Beberapa kabupaten di Jateng dilanda banjir, teknologi modifikasi cuaca akan dilakukan
Hujan deras pada Rabu dan Kamis (13-14/3) menyebabkan sejumlah wilayah di Pantai Utara Jawa Tengah terlanda banjir.
.jpg)
Elshinta.com - Hujan deras pada Rabu dan Kamis (13-14/3) menyebabkan sejumlah wilayah di Pantai Utara Jawa Tengah terlanda banjir. Banjir itu melanda Kota Pelakongan, Kabupaten Pekalongan, Kendal, Kota Semarang, Demak, Kudus, Pati, Grobogan, hingga Jepara. Ratusan warga terpaksa mengungsi. Dua warga Pekalongan meninggal dunia terseret banjir bandang pada Rabu (13/3) malam. Ratusah hektar lahan pertanian terancam gagal panen.
Agar cuaca ekstrem bisa diredam, Badan Nasional Penanggulangan akan melaksanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) jilid 2. Sebelumnya operasi TMC ini teah dilakukan untuk penanganan banjir besar di Demak sebulan silam untuk mengurangi tingkat curah hujan di wilayah hulu maupun hilir.
Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB, Agus Riyanto mengatakan bahwa BNPB telah berkoordinasi dengan BMKG serta lintas lainnya. Dari hasil koordinasi ini maka diputuskan untuk kembali melakukan operasi TMC yang rencananya akan dimulai besok Sabtu (16/3) hingga Rabu (20/3) mendatang.
“Melihat potensi prakiraan cuaca dan masifnya dampak bencana, maka diputuskan akan dilaksanakan TMC di area Pantura Jawa Tengah,” jelas Agus seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Jumat (15/2).
Ia menjelaskan operasi TMC ini akan dilakukan pada cakupan area yang lebih luas dari operasi yang pertama. Hal itu dilakukan dengan melihat area terdampak bencana yang lebih besar dan adanya potensi risiko yang lebih masif.
Sementara itu Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan, Budi Rahardjo, menjelaskan dua warga yang meninggal dunia adalah ibu dan anaknya yang ikut terseret banjir bandang yang menghanyutkan rumahnya ketika banjir melanda Desa Wangandoro, Kecamatan Bojong.
Banjir di Pekalongan menurut perkembangan data terakhir telah berdampak pada 70 KK yang mana ada sebanyak 51 jiwa mengungsi di Balai Desa Wangandowo dan Sekdes Wangandowo.
Banjir di Kota Pekalongan menyebabkan 572 warganya mengungsi karena rumah mereka terendam banjir hingga 60 cm sejak Rabu malam. Mereka mengungsi di sembilan titik mulai di bangunan pemerintah, masjid, hingga sekolah-sekolah.
Di Kabupaten Kendal sebanyak 10.835 keluarga atau 24.286 jiwa yang tinggal di 24 desa dalam enam kecamatan itu rumahnya terendam banjir.
Petugas Pusdalops BPBD Kabupaten Kendal, Hamam menerangkan, "Tidak ada yang mengungsi. Warga memilih bertahan di rumah mereka yang terendam dengan ketinggian 10 - 60 cm."
Di Kota Semarang, banjir yang melanda beberapa kawasan sejak Rabu hingga Jumat ini belum surut seluruhnya. Sebanyak 40 kelurahan di enam kecamatan kebanjiran. Sebanyak 158.137 jiwa terdampak cuaca ekstrem ituBeberapa jalan protokol terendam banjir.
Jalan Raya Kaligawe, jalan nasional jalur Pantura yang menghubungkan Semarang dan Demak-Surabaya lumpuh total akibat genangan banjir. Stasiun Tawang Semarang pun turut terendam hingga ketinggian 10 sentimeter di atas rel. Sejumlah perjalanan kereta api terpaksa harus dialihkan.
Hingga Jumat (15/3), BPBD Kota Semarang bersama lintas instansi gabungan masih terus berupaya melakukan penanganan darurat dengan memprioritaskan keselamatan masyarakat dan memenuhi kebutuhan dasar para warga terdampak.
“Kami mengevakuasi lansia, balita, dan warga yang sakit di wilayah Muktiharjo Kidul. Beberapa titik banjur sudah mengalami penurunan genangan. Tapi beberapa titik seperti di RW 12 Muktiharjo Kidul masih cukup dalam sekitar 70-80 cm,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto.
Pihak BPBD Kota Semarang bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Dinas Pekerjaan umum juga terus berupaya untuk menguras genangan air menggunakan pompa yang telah disiagakan sebelumnya. Pompa yang difungsikan meliputi enam dari BBWS, dua pompa portable milik BPBD Kota Semarang dan lima pompa dari Dinas PU Kota Semarang.
Di Kabupaten Demak sebanyak tiga kelurahan dan 22 desa di enam kecamatan juga terendam banjir.
Di Kabupaten Grobogan bencana banjir datang dari hulu Sungai Lusi di wilaah timur dan dari sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Kendeng Utara kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Grobogan, Endang Sulistyoningsih.
Wilayah terdampak banjir telah mencakup 48 desa di 12 kecamatan. Data tersebut bersifat dinamis, karena ada sebagian wilayah yang mulai surut, namun justru ada wilayah baru yang terdampak dan mengalami kenaikan tinggi muka air.
Di Kabupaten Kudus, banjir merendam 1.500 hektare lahan pertanian. Selain itu sebanyak 16 desa dalam lima kecamatan tergenang dengan ketinggan 10 - 60 cm.
Sementara di Kabupaten Pati banjir menyebabkan 2.383 keluarga yang tinggal di 26 desa dalam tujuh kecamatan terendam dengan ketinggian 10 - 80 cm. Lahan pertanian seluas 639 hektare juga terdampak, berikut 60 hektare lahan tebu. Rata-rata lahan pertanian yang terendam ini adalah tanaman padi yang masih muda maupun yang siap panen.
Menurut laporan BPBD Kabupaten Pati, banjir itu terjadi setelah DAS tidak mampu menampung debit air hujan kemudian melimpas ke permukiman penduduk.
Di Kabupaten Jepara sebanyak sembilan desa juga dilanda banjir sejak Kamis. Akan tetapi banjir di kawasan ini segera surut.