Rawat relasi sosial cegah perilaku bunuh diri
Peristiwa bunuh diri kerap terjadi belakangan ini menunjukkan kesehatan mental yang sedang tidak baik-baik saja.

Elshinta.com - Peristiwa bunuh diri kerap terjadi belakangan ini menunjukkan kesehatan mental yang sedang tidak baik-baik saja.
Dosen Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Suharsono mengatakan kesehatan mental harus menjadi kepedulian dan sadar pada diri sendiri.
Menurutnya parameter mental sehat ada 3, yaitu sehat secara emosional, sehat psikologis dan sehat secara sosial.
Suharsono mengatakan. "Kasus-kasus bunuh diri yang muncul saat ini seakan-akan mengalami tekanan hidup yang sangat kuat sehingga bunuh diri. Fenomena ini menunjukkan kondisi kesehatan mental sedang tidak baik-baik saja."
"Seakan-akan sudah tidak memiliki harapan, seakan-akan tinggal sendirian, tidak memiliki lingkungan yang siap membantu. Padahal interaksi dengan lingkungan sangat penting baik secara langsung maupun dengan memanfaatkan teknologi," ujar Suharsono dalam wawancara di Radio Elshinta Sabtu pagi (15/3) menanggapi peristiwa bunuh diri yang kerap terjadi belakangan ini.
Kasus terakhir adalah dugaan bunuh diri 1 keluarga di sebuah apartemen di Jakarta Utara. Polisi masih mendalami motif 1 keluarga yang melompat dari lantai 22 Apartemen di Penjaringan, Jakarta Utara, pada Sabtu (9/3) dengan melibatkan ahli forensik.
"Kesehatan mental harus diperhatikan betul, kita harus peduli pada diri kita sendiri," ujar Suharsono. Ia menambahkan agar kita jangan menyerah dengan tekanan-tekanan hidup yang memang tidak mudah, kita tidak bisa hidup sendiri, jangan sampai kehilangan jejaring sosial, kehilangan pertemanan, sehingga kita harus rawat relasi sosial.
Suharsono mengatakan seseorang harus menyadari dirinya sedang mengalami masalah sehingga perlu membuka diri, berkomunikasi, sampaikan kepada temen dekat atau kerabat persoalan yang dihadapi terutama ekonomi yang dianggap memicu aksi bunuh diri.
"Jangan dipendam sendiri rasa sedih kecewa atau penyesalan, kita harus merasa terhubung dengan manusia lain yang bisa saling support. Kita adalah manusia yang rentan," ujar Suharsono menutup wawancara ini. (ndg)