Top
Begin typing your search above and press return to search.

Bali Water Protection, upaya nyata jaga kelestarian sumber daya air

Program pembuatan sumur imbuhan di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, akhirnya diresmikan. Hal ini terwujud berkat kerjasama atau kolaborasi yang baik antara Yayasan IDEP bekerja sama dengan Politeknik Negeri Bali (PNB), Yayasan Save Children Indonesia dan Pokdarwis Desa Munduk.

Bali Water Protection, upaya nyata jaga kelestarian sumber daya air
X
Sumber foto: Eko Sulestyono/elshinta.com.

Elshinta.com - Program pembuatan sumur imbuhan di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, akhirnya diresmikan. Hal ini terwujud berkat kerjasama atau kolaborasi yang baik antara Yayasan IDEP bekerja sama dengan Politeknik Negeri Bali (PNB), Yayasan Save Children Indonesia dan Pokdarwis Desa Munduk.

Selain menggencarkan penanaman pohon, upaya tersebut dilakukan untuk menanggulangi penurunan debit air tanah dan juga melindungi eksploitasi sumber daya air. Hal itu disebabkan karena kurangnya kesadaran terhadap upaya keberlanjutan lingkungan.

Jika dibiarkan, maka dikhawatirkan akan berdampak pada ketidakseimbangan alam serta mengancam ketersediaan air tanah. Maka kegiatan tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk kerjasama khususnya dalam penguatan model manajemen sumber daya air melalui gerakan Bali Water Protection (WBP).

“Dengan fokus pada komunikasi risiko dan keterlibatan warga masyarakat, BWP menjadi langkah strategis meningkatkan ketahanan air dan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu kelangkaan air dan dampak perubahan iklim,” kata Muchamad Awal selaku Direktur Eksekutif Yayasan IDEP, Senin (25/3).

“Dengan adanya dua sumur itu, langkah-langkah konservasi ekosistem air tanah berkelanjutan tetap dibutuhkan,” sambungnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Senin (25/3).

Sementara itu dalam kesempatan ini, Yayasan IDEP yang bekerjasama dengan Politeknik Negeri Bali dan didukung Save the Children Indonesia juga telah selesai membangun dan meresmikan 2 sumur permanen air hujan (sumur imbuhan) di Desa Munduk.

“Dengan adanya dua sumur itu, langkah-langkah konservasi ekosistem air tanah berkelanjutan tetap dibutuhkan,” sambungnya
pada acara sosialisasi sumur pemanen air hujan, temu jurnalis dan diskusi publik serangkaian peringatan Hari Air Sedunia di Pura Desa/Puseh, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.

“Fungsi sumur ini adalah mengembalikan air hujan ke dalam tanah yang selama ini menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki daya serap tanah yang tidak begitu baik di beberapa lokasi,” lanjutnya.

Sebagai informasi, Desa Munduk termasuk salah satu lokasi yang memiliki area serapan yang baik, sehingga air tanah yang diserap di lokasi akan diterima dan dimanfaatkan oleh Buleleng bagian utara dan selatan.

Sementara penanaman pohon yang dilakukan bersama masyarakat, selain penguatan tanah pada daerah resapan juga bertujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi langsung dalam pelestarian air tanah.

Pelibatan kelompok kelompok tani (Poktan) lokal dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) diharapkan tercipta sinergi berkelanjutan antara pelestarian tanah, pertanian berkelanjutan, dan kesejahteraan masyarakat.

“Pemilihan varietas tanaman juga menyesuaikan dengan karakteristik lingkungan lokal dan penerapan teknik penanaman yang efektif akan menjadi fokus utama untuk menciptakan model yang terukur dan berhasil,” terangnya.

Kegiatan diskusi, penanaman dan bagi-bagi bibit kopi juga dilakukan karena masyarakat setempat merasa perlu untuk menanam pohon kopi sebagai tanaman yang dapat menahan dan menyerap air sekaligus memperkuat permukaan tanah dan menghindari dari longsor.

Sementara itu secara teknis, I Putu Bawa Suadi selaku Program Senior Yayasan IDEP, mengatakan bahwa sumur imbuhan dirancang dengan kedalaman 32 meter dan dimensi permukaan 2 x 3 meter, dengan kapasitas penampungan air hujan mencapai 41 meter kubik per jam.

“Sumur ini lebih difokuskan untuk mengisi kembali sumber daya air bawah tanah yang terus menurun akibat krisis air. Jadi ini untuk keberlangsungan air bersih di masa yang akan datang di Bali," kata I Putu Bawa Suadi.

Sedangkan kedalaman sumur mencapai 32 meter dengan tinggi 2 meter di atas permukaan air tanah yang sudah dilengkapi sistem filtrasi seperti ijuk, arang dan pasir.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire