Santrian Gallery Sanur gelar pameran seni rupa tunggal 'The Journey'
Santrian Gallery Sanur, Kota Denpasar, Bali, untuk kesekian kalinya kembali menggelar pameran seni rupa tunggal. Pameran kali ini menampilkan karya seorang pelukis bernama I Wayan Sadu.

Elshinta.com - Santrian Gallery Sanur, Kota Denpasar, Bali, untuk kesekian kalinya kembali menggelar pameran seni rupa tunggal. Pameran kali ini menampilkan karya seorang pelukis bernama I Wayan Sadu. Dalam pameran kali ini mengangkat tema Perjalanan atau The Journey yaitu dengan memamerkan sejumlah karya terbarunya yang istimewa.
Sebelumnya, tahun 2007, I Wayan Sadu dikenal merupakan sosok yang unik dengan tutur bahasanya sederhana. Namun karya-karyanya penuh dengan kejutan dan bahkan cukup banal ini telah melakukan pameran tunggal di Santrian Gallery Sanur.
Sementara itu Wayan Seriyoga dalam pameran kali ini kembali dipercaya sebagai kurator pameran seni rupa. Wayan Seriyoga
juga dikenal sebagai sosok yanh selalu aktif dalam mengkurasi pameran seni rupa di berbagai daerah di Indonesia.
Sebuah kesempatan yang baik karena pembukaan acara tersebut diresmikan oleh Profesor I Wayan Dibia. Ia dikenal merupakan tokoh besar seni pertunjukan di Bali yang juga memberikan perhatian besar terhadap seni rupa.
I Wayan Sadu menggelar 18 karya seni lukis dengan berbagai ukuran dibuat dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2024 dengan media cat minyak dan cat akrilik.
Setidaknya ada 2 lukisan fenomenal yang dipamerkan debgan tema kematian, masing-masing berjudul Berpulang dengan Damai dan Dititip ke Ibu Pertiwi.
“Saya sebagai warga masyarakat sering sekali berhadapan dengan situasi seperti itu, orang meninggal, ada ikatan sosial keluarga, kuburan, sanak saudara yang meninggal,” kata I Wayan Sadu, Senin (25/3).
“Peristiwa itu sering sekali jadi mengendap dalam pikiran saya, Lukisan Berpulang dengan Damai itu menggunakan bahan campuran cat dan tanah yang dibakar,” sambungnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono.
Tumbuh dalam lingkungan pedesaan dengan kehidupan agraris, serta bersentuhan langsung dengan gelombang seni lukis young artist, membawa I Wayan Sadu pada pilihan berkesenian yang khas.
Sekitar tahun 1988 - 1994 masa SMP hingga menjelang memasuki SMSR, I Wayan Sadu uga melukis flora dan fauna di banjar Kutuh kelod Petulu, pada pamannya.
I Wayan Sadu dikenal sebagai sosok yang sederhana nan disiplin, relatif tidak banyak bicara dan selalu tersenyum, namun begitu khusyuk dalam mengeksplorasi karakteristik lukisannya.
Mengenyam pendidikan formal mulai dari SMSR (sekarang SMKN 1) Sukawati mengenalkannya pada kaidah-kaidah formal seni rupa, kemudian berlanjut ke STSI (sekarang ISI) Denpasar.
Pengalaman mengenyam pendidikan formal seni rupa menjadi dasar dalam mengembangkan karakter ekspresi personalnya, sejak awal ia memiliki ketertarikan dengan langgam seni lukis abstraksi berkarakter kubistik.
Sejak awal karya-karya Sadu telah menunjukkan kecenderungan kuat dalam mengolah komposisi. Perkembangan karya-karyanya selanjutnya semakin menunjukkan keberaniannya dalam bermainan komposisi yang asimetris serta pilihan warna yang monokromatik.
Sadu begitu piawai memainkan kontras antara komposisi goresan-goresan warna yang berada dalam bentuk atau figur dengan warna latar belakang putih merata (flat), tanpa mempertegas bentuk dengan kontur garis (outline).
Pengalamannya melawat ke Eropa dan Jepang kemungkinan besar memberikan inspirasi visual yang memberikan pengayaan penguatan pada capaian estetik dalam karya-karyanya.
Hal itu menandakan pendekatan artistiknya memang berada dalam radius tradisi seni lukis (painting). Dalam karya-karyanya selalu tersisip konten muatan tematik, ia tidak membiarkan eksplorasinya hanya berhenti pada capaian artistik.
I Wayan Sadu mengatakan bahwa tema karyanya tidak jauh dari kehidupan dunia kesehariannya yang berasal dari kebiasaan sehari-hari, kehidupan berkeluarga, binatang, hubungan masyarakat.
Lahir di Desa Sayan sebelah barat Ubud, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar yang bertetangga dengan Penestanan, I Wayan Sadu banyak menyaksikan perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Perubahan dari kehidupan masyarakat yang homogen agraris, perlahan menjadi semakin heterogen, awalnya mereka hanya berinteraksi antar masyarakat di desa dan desa tetangga, tetapi kemudian mulai berinteraksi dengan orang luar negeri.
I Wayan Sadu menyaksikan desanya yang dulunya sangat bersahaja dengan kehidupan agraris, kemudian menjelma menjadi desa global dalam balutan pariwisata budaya.
Menurut I Wayan Sadu. karya-karyanya adalah wahana bagi penjelajahan pikiran dan perasaannya, diekspresikan dengan komposisi warna-warna yang kontras seperti hijau bertemu jingga dan ditimpa dengan hitam.
Emosi tercurah dalam goresan rol-rol warna cat minyak yang menyisakan jejak riak-riak tekstur, serasa terdengar gemericik suara rol ketika digerakkan dengan spontan dan kuat.
Ketika menggoreskan beberapa warna di dalam imajinasinya telah muncul diorama bentuk, tetapi tidak buru-buru langsung diwujudkan dengan goresan bentuk.
I Wayan Sadu membiarkan imajinya kembali bergelayut dalam gerakan-gerakan kinestetik, menimpa lapisan demi lapisan warna cat minyak mulai bercampur membentuk komposisi dari yang berwarna gelap atau lebih muda.
Hingga tiba di titik dimana lapisan-lapisan warna telah dirasa cukup kuat mewakili keseluruhan komposisi, baru kemudian ia akan menegaskan sosok bentuk-bentuk yang telah terbayang sesuai tema yang ingin dihadirkan.
Karya-karya periode ini ditandai dengan pola-pola komposisi warna-warna kontras seperti warna hijau dengan merah, jingga, kuning dan putih. Kontras yang hadir masih memperlihatkan komposisi yang selaras dalam intensitas hue, kontras yang masih dapat dirasakan harmoni.
Aspek yang cukup dominan pada setiap karya adalah kehadiran warna hitam, hadir sebagai blok-blok warna menjadi noktah yang memainkan peran komposisi, atau sebagai kontur garis-garis dinamis yang penuh spontanitas.
Posisi garis menjadi vital dalam menghadirkan objek dan figur, terlihat intensitas yang berbeda dibandingkan dengan karya-karyanya sebelumnya yang tidak mengandalkan kontur garis hitam.
I Wayan Sadu menempatkan overlapping (tumpang tindih) antara komposisi warna dan tekstur dengan karakteristik bentuk keduanya sama-sama memainkan peran sentral sebagai medium untuk mengungkapkan narasi. Karya-karyanya itu bisa dinikmati dalam pameran tunggal yang digelar di Santrian Gallery Sanur.