Sebaran DB merata di Kabupaten Kediri, 2 anak meninggal terlambat dirujuk ke RS
Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Jawa Timur mencatat terjadi peningkatan jumlah kasus penderita penyakit demam berdarah sejak tiga bulan terakhir.

Elshinta.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Jawa Timur mencatat terjadi peningkatan jumlah kasus penderita penyakit demam berdarah sejak tiga bulan terakhir. Keterangan ini disampaikan oleh Bambang Triyono Putro selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri.
"Tiga bulan terakhir jika dibandingkan tahun lalu memang ada peningkatan dimana data masuk di kami ada sekitar 158 kasus. Dibandingkan tahun lalu yang hanya ada 132 kasus," ungkap Bambang, Selasa (2/4).
"Data di kami yang meninggal ada 2 orang, di usia 6 dan 8 tahun. Meninggalnya berada di rumah sakit. Ini karena keterlambatan rujukan dari keluarga ke rumah sakit," terangnya.
Atas kondisi tersebut, Dinkes Kabupaten Kediri mengimbau warganya untuk meningkatkan kewaspadaan, dengan mengaktifkan kembali gerakan pemberantasan sarang nyamuk 3 M plus (mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air dan menguras tempat penampungan air).
"Antisipasi DBD ini sebenarnya sudah kita siapkan sejak sebelum akhir 2023.Ini kegiatan rutin kita dengan melakukan rapat kordinasi melalui kelompo kerja untuk penanggulangan demam berdarah," ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana, Selasa (2/4).
Disamping itu Dinkes Kabupaten Kediri berharap petugas puskesmas untuk meningkatkan edukasi ke masyarakat tentang tata cara penanggulangan penyebaran penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut.
"Penyebaran demam berdarah di seluruh wilayah Kecamatan ada. Tapi yang terbanyak ada di Kecamatan Pare, Kecamatan Plosoklaten dan di Kecamatan Badas. Yang sedikit ada di Kecamatan Semen,Tarokan dan Kecamatan Ngasem," tuturnya.