Dinas Kesehatan Kota Salatiga diminta sesuai prosedur dalam penanganan gizi buruk
Penjabat (Pj) Wali Kota Salatiga, Jawa Tengah Yasip Khasani, tidak akan membebani Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga dengan penurunan angka, tapi membebankan kepada kepada seluruh tenaga kesehatan untuk memberikan prosedur yang baik. Ia tidak ingin ada bayi meninggal dalam kondisi gizi buruk atau lahir kemudian meninggal karena berat badannya rendah. Artinya, Pemerintah sudah memberikan pelayanan yang optimal.

Elshinta.com - Penjabat (Pj) Wali Kota Salatiga, Jawa Tengah Yasip Khasani, tidak akan membebani Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga dengan penurunan angka, tapi membebankan kepada kepada seluruh tenaga kesehatan untuk memberikan prosedur yang baik. Ia tidak ingin ada bayi meninggal dalam kondisi gizi buruk atau lahir kemudian meninggal karena berat badannya rendah. Artinya, Pemerintah sudah memberikan pelayanan yang optimal.
“Jika memang takdirnya dia meninggal, ya saat itu dia meninggal, tetapi meninggal dengan baik. Sehingga, kondisi ketika ada kejadian kematian ibu hamil, kematian ibu habis melahirkan, kematian balita, kematian bayi, Itu semakin sedikit dan penyebabnya wajar, bukan karena ketidakperhatian Pemerintah terhadap yang bersangkutan,” ucap Yasip pada pemaparan Rapat Koordinasi Penurunan AKI AKBA Dan Stunting Kota Salatiga Tahun 2024, di Mini Theater Bung Karno DPRD Kota Salatiga, Rabu (8/5).
Sedangkan untuk masalah stunting, lanjut Yasip, memang membutuhkan perhatian Pemerintah. Dengan upaya preventif dan pemeriksaan secara reguler diharapkan bayi dapat lahir dengan berat badan yang normal.
“Jika Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk menaikkan berat badan dengan memberikan stimulan dan sebagainya tapi kok ya masih seperti itu terus, ya karena memang sudah dari keturunannya seperti itu,” tukasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Pranoto, Jumat (10/5).
Pada kesempatan tersebut, Kepala DKK, Prasit Al Hakim menyampaikan bahwa angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian balita (AKBA) masih menjadi permasalahan di Kota Salatiga. Di bulan ke-4 tahun 2024, sudah ada 14 kasus bayi lahir hidup kemudian mati. Hal itu dikarenakan kematangan paru yang belum sempurna 22,2 %, afiksia 22,2 %, berat badan lahir amat sangat rendah (BBLASR) 11% dan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) 44,4 %. Sedangkan untuk neo-natal (sebutan bagi bayi yang baru lahir atau usianya 0-28 hari), masih didominasi oleh usia kehamilan aterm dan peterm.