Kemenag lakukan upaya preventiv tangani resiko jemaah haji di kota Mekkah
Mekkah menjadi tempat utama dalam pelaksanaan ibadah haji. Berbeda dengan di Madinah, kegiatan lebih banyak dilaksanakan di Mekkah, seperti tawaf, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Mina

Elshinta.com - Mekkah menjadi tempat utama dalam pelaksanaan ibadah haji. Berbeda dengan di Madinah, kegiatan lebih banyak dilaksanakan di Mekkah, seperti tawaf, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Mina. Dalam hal penanganan kesehatan, Mekkah tentu lebih krusial daripada Madinah.
Tim Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP3JH) mengoptimalkan mitigasi layanan operasional haji di Mekkah. Hal yang dilakukan yaitu dengan mendistribusikan petugas di beberapa titik di Masjidil Haram untuk memberikan pertolongan pertama.
Kepala Seksi Lansia, Disabilitas, dan PKP3JH Daker Madinah, dr. Leksmana Arry Chandra mengungkapkan, “Kami ada di pos-pos yang kami sebar di sekitaran Masjidil Haram. Apabila terjadi kejadian-kejadian, kami segera mendatangi dan menolong para jemaah tersebut,”.
Beliau menambahkan bahwa resiko di Mekkah lebih membutuhkan penanganan yang siap siaga daripada di Madinah. Hal ini dikarenakan kegiatan di Masjidil Haram berlangsung selama 24 jam, sehingga resiko bisa terjadi kapan saja.
Untuk menangani hal tersebut, PKP3JH menyusun upaya preventif. Upaya medikasi adalah yang paling dasar. Obat dan perbekalan kesehatan disiapkan sebaik-baiknya untuk mendapatkan kualitas yang terjamin dan kuantitasnya mencukupi.
Selain itu, jemaah diminta untuk tidak terpisah dari rombongan. PKP3JH juga mengedukasi jemaah untuk selalu berhati-hati. Faktor yang menyebabkan kelelahan agar bisa dihindari, khususnya bagi jemaah lansia. Ada lagi seperti berdesakan yang dapat menyebabkan jatuh atau terinjak.
“Selain upaya medikasi, pada saat jemaah datang untuk melaksanakan umrah wajib atau ketika mau masuk masjid, teman-teman PKP3JH juga memberikan edukasi untuk selalu berhati-hati dan jangan sampai jemaah terpisah dari rombongannya,” tambah dr. Leks.
Tim penanganan kesehatan oleh Kemenag tidak hanya bertanggung jawab dalam menangani resiko kejadian, namun juga melakukan upaya preventif, pemulihan, dan rehabilitasi.