Jemaah ikuti imbauan perbanyak beribadah di pemondokan jelang puncak haji
Elshinta.com - Sepekan sebelum puncak haji, jumlah jemaah haji yang menggunakan bus sholawat menuju Masjidil Haram mengalami penurunan. Padahal jumlah jemaah calon haji reguler Indonesia yang datang ke tanah suci terus meningkat menjelang puncak haji. Sebelumnya, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengimbau agar jemaah haji mengurangi aktivitas ibadah di Masjidil Haram jelang puncak haji demi menjaga kondisi fisik para jemaah.

Elshinta.com - Sepekan sebelum puncak haji, jumlah jemaah haji yang menggunakan bus sholawat menuju Masjidil Haram mengalami penurunan. Padahal jumlah jemaah calon haji reguler Indonesia yang datang ke tanah suci terus meningkat menjelang puncak haji. Sebelumnya, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengimbau agar jemaah haji mengurangi aktivitas ibadah di Masjidil Haram jelang puncak haji demi menjaga kondisi fisik para jemaah.
Kepala Seksi Transportasi (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja Makkah Syarif Rahman menyebut, penurunan ini menunjukkan bawa jemaah haji mengikuti imbauan PPIH untuk mengutamakan kesehatan.
“Kami merasa lega dan senang karena jemaah makin hari makin memahami bahwa penting mengutamakan kesehatan. Mereka tidak memaksakan diri beribadah di Masjidil Haram,” kata Rahman dalam keterangan pers, Sabtu (9/6/2024).
Operasi Bus sholawat sendiri, akan diberhentikan pada tanggal 5 Dzulhijjah atau 11 Juni 2024. Nantinya, akan ada penyesuaian masa operasional bus sholawat saat puncak haji.
"Menjelang puncak perhajian itu memang diberhentikan sementara, karena bus-bus itu akan ditarik. Seluruhnya akan digunakan untuk layanan shuttle Armuzna, mulai dari Makkah, Arafah, Muzdalifah, Mina dan ke Makkah," sambungnya.
Rahman mengaku pihaknya terus memantau kepadatan jemaah di setiap terminal keberangkatan jemaah.
“Kita setiap hari kita memantau kepadatan jemaah di Masjidil Haram. Trendnya makin kesini tinggal beberapa persen saja. Mereka rata -rata sudah mulai beribadah di tempat akomodasi masing -masing atau masjid terdekat dari tempat akomodasi.” kata Rahman.
Rahman juga menambahkan, saat ini pihaknya tidak bisa menarik sepenuhnya operasional bus sholawat, mengingat masih tetap ada jemaah yang ingin beribadah di Masjidil Haram.
“Meskipun dari sisi jumlah bis memang kita belum bisa untuk menarik semuanya. Karena tetap saja ada jamaah, terutama yang muda-mudaatau yang sehat-sehat, masih punya keinginan salat di Masjidil Haram. Sehingga, layanan itu tetap kita berikan selama 24 jam.” imbuhnya.
Rahman yakin, penurunan jumlah ini, terutama bagi jemaah lansia, akan membuat jemaah lebih terjaga kesehatannya jelang puncak haji di Arafah nanti.
“Para jemaah terutama yang lansia dan risiko tinggi yang lebih banyak beribadah di pemondokan, kami yakin kesehatannya akan terjaga jelan puncak haji.” terang Rahman.
Menurut Rahman, penurunan yang signifikan terhadap penggunaan layanan bus sholawat ini, merupakan buah dari masifnya edukasi yang dilakukan oleh petugas kepada para jemaah haji.
“Saya kira karena edukasi. Mereka sudah paham bahwa kan tahun ini juga wukufnya masih di cuaca yang cukup panas. Bahkan, beberapa hari in,i suhu di sore hari mencapai 47 derajat celcius. Sehingga, mereka memahami menjelang persiapan wukuf ini memang mereka butuh daya tahan fisik yang kuat. Dan itu memang dari bimbingan ibadah, dari seksi layanan lansia dan disabilitas itu sosialisannya cukup lumayan masif sehingga mereka sadar itu.” tuturnya.