Diteror nomor tak jelas dimintai sumbangan, ASN di Kudus resah
Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) termasuk kepala Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemkab Kudus, Jawa Tengah diteror nomor tak jelas. Mereka meminta sumbangan uang tunai dengan cara memaksa dan mengancam.

Elshinta.com - Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) termasuk kepala Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemkab Kudus, Jawa Tengah diteror nomor tak jelas. Mereka meminta sumbangan uang tunai dengan cara memaksa dan mengancam.
Kejadian ini terjadi kurang lebih berlangsung dalam dua pekan terakhir. Peneror ini menelepon sejumlah kepala OPD hingga staf di beberapa OPD.
Penelpon ini mengaku dari salah satu rutan atau lapas di daerah Jawa Tengah.
Mereka kemudian menjelaskan maksud menelpon dan langsung memaksa agar pejabat atau staf yang besangkutan bisa memberikan sumbangan. Bahkan ada yang sudah menjadi korban dari peneror seperti terhipnotis.
Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kudus Putut Winarno membenarkan jika ada telepon yang tidak dikenal yang meneror sejumlah ASN. Dimana, saat ini sudah ada lima orang yang melaporkan, mereka diteror dimintai sumbangan. Namun ia menduga jumlahnya ASN yang diteror lebih dari itu.
”Karena ada beberapa nama yang tidak laporan, nah kami belum konfirmasi ke yang bersangkutan apakah benar ditelpon dan dimintai sumbangan juga atau tidak,” katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Selasa (25/6).
Atas kejadian ini, pihaknya mengimbau kepada semua ASN apabila mendapat telepon tak jelas seperti ini untuk mengabaikannya saja. Kemudian agar bisa ikut melaporkan ke BKPSDM.
”Tidak usah dihiraukan, itu sudah pasti orang tidak bertanggungjawab karena memang tidak jelas maksud dan tujuannya. Apalagi meminta dengan sifat yang memaksa dan mengancam,” pesan Kepala BKPSDM.
Salah satu istri ASN yang menjadi korban teror berinisia ZA mengaku suaminya menerima telepon dari peneror yang meminta sejumlah uang. Saat menerima telepon suaminya terlihat aneh bahkan baru sadar ketika ditepuk pundaknya.
"Iya, saya melihat suami kayak orang tak sadar seperti terhipnotis baru sadar ketika tak tepuk pundaknya. Padahal biasanya suami tidak mau terima telepon nomer yang tidak dikenal. Ini malah diterima dan ditelepon terus menerus jadi terganggu. Akhirnya demi kenyamanan HP suami diminta sama anak trus nomer-nomer peneror diblokir", ujarnya.