Perpusda Brebes lakukan program perpustakaan transformasi berbasis inklusi sosial
Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dilakukan oleh Perpustakaan Brebes adalah sebuah langkah yang sangat positif dalam meningkatkan budaya literasi di masyarakat.

Elshinta.com - Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dilakukan oleh Perpustakaan Brebes adalah sebuah langkah yang sangat positif dalam meningkatkan budaya literasi di masyarakat. Dengan mengajak masyarakat yang memiliki hobi membuat rajutan untuk berlatih bersama, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi juga sebagai pusat kegiatan komunitas dan pemberdayaan.
Program seperti ini mampu mengubah konsep literasi dari sekadar kemampuan membaca dan menulis (keberaksaraan) menjadi literasi pemberdayaan, di mana pengetahuan dan keterampilan digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan individu serta komunitas. Melalui kegiatan kerajinan tangan berbahan rajut, masyarakat dapat saling belajar, berbagi pengalaman, serta mengembangkan keterampilan yang mungkin dapat menjadi sumber pendapatan tambahan.
Perpustakaan Daerah Brebes mengajak masyarakat yang memiliki hobi membuat rajutan untuk berlatih membuat kerajinan tangan berbahan rajut. Langkah tersebut guna meningkatkan budaya literasi melalui program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
"Ini adalah salah satu inovasi kami dari perpustakaan agar perpustakaan tidak hanya untuk para pelajar saja tapi juga untuk seluruh kalangan masyarakat, tujuannya adalah dengan adanya inovasi transformasi inklusi sosial masyarakat juga bisa membaca sekaligus mengembangkan kreatifitas di perpustakaan ini," kata Kabid Perpustakaan Daerah Brebes, Neli Silfiah seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hari Nurdiansyah, Senin (1/7).
Kabupaten Brebes telah memulai langkah dalam meningkatkan budaya literasi melalui program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Ini langkah yang sangat penting seiring perkembangan kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi yang juga mempengaruhi budaya literasi.
Perubahan tersebut menjadikan konsep literasi juga mengalami perubahan dari konsep literasi keberaksaraan menjadi literasi pemberdayaan. Jika dulu berbicara literasi adalah bagaimana kita bisa membaca dan menulis, sekarang literasi lebih dari itu. Yakni ketika kita bisa lebih berdaya saing dengan daerah ataupun negara lain dalam menciptakan barang dan jasa.
"Membuat kelas merajut ini berawal dari pelatihan rajut kemudian kita kembangkan menjadi kelas jadi setiap minggunya ibu-ibu ini belajar membuat rajutan, dan hasil karyanya dipajang di both perpustakaan untuk dijual. Ini sejalan dengan program TPBIS untuk mensejahterakan masyarakat. Setidaknya masyarakat itu yang berlatih dalam merajut mendapat tambahan penghasilan dari karya-karya mereka," jelas Neli.
Inisiatif ini, lanjut Neli patut diapresiasi karena mendukung inklusi sosial dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif serta mendukung perkembangan potensi setiap orang secara optimal. "Dan perpustakaan berbasis inklusi sosial ini bisa menjadi sebuah konsep yang diharapkan dapat dan mampu menjawab semua harapan," tandasnya.