Awal Juli, UB kukuhkan dua guru besar
Di awal bulan Juli 2023 dua dosen dari Universitas Brawijaya (UB) Malang dikukuhkan sebagai profesor atau guru besar.

Elshinta.com - Di awal bulan Juli 2023 dua dosen dari Universitas Brawijaya (UB) Malang dikukuhkan sebagai profesor atau guru besar.
“Dua orang profesor tersebut berasal dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) yaitu Prof. Dr. Ir. Edi Susilo, MS dan Prof, Dr. Ir. Dewa Gede Raka Wiadnya. MSc,” kata Kepala Sub Divisi Humas UB, Tri Wahyu Basuki seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, El-Aris, Senin (8/7).
Prof. Dr. Ir Dewa Gede Raka Wiadnya, M.Sc, merupakan dosen bidang eksplorasi sumber daya ikan sebagai profesor aktif ke 22 di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dan profesor aktif ke 216 di Universitas Brawijaya serta menjadi profesor ke 384 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya. Sedangkan Prof. Dr. Ir. Edi Susilo M.S. sebagai profesor aktif ke 23 di Fakultas Perikanan dan llmu Kelautan (FPIK) dan profesor aktif ke 217 di Universitas Brawijaya serta menjadi profesor ke 385 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.
Prof. Dr. Ir. Dewa Gede Raka Wiadnya, MSc dalam pidato pengukuhannya memaparkan deskripsi spesies ikan melalui pendekatan morfologi, osteo-staining, otolith yang dikombinasi dengan DNA barcoding menjadi alat yang komprehensif dan meyakinkan dalam proses identifikasi spesies ikan.
“Mengingat ikan ialah kelompok vertebrata dengan jumlah spesies terbanyak, dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan spesies ikan terbanyak, teknik ini bisa dijadikan standar dalam validasi spesies,“ ujarnya dalam konfrensi pers UB di Gedung Rektorat UB.
Ditambahkan Prof. Gede, penelitian spesimen belum bisa dibuka hanya seja sejumlah gen dan data base ikan secara global sudah diunggah.
Sementara itu Prof. Dr. Ir. Edi Susilo, MS yang dikukuhkan dalam bidang Ilmu Sosiologi Perikanan menjelaskan Sruktur Sosial Progresif-Integratif (S2PI), yang merupakan sebuah konsep untuk mengurangi kemiskinan nelayan di Indonesia.
“Mengapa saya lakukan penelitian ini, pembangun perikanan selalu melakukan pendekatan secara ekonomi dan itu tidak salah namun masih sangat perlu dilakukan pendekatan struktur sosial,” ungkapnya.
Edi mengaku mulai memberikan perhatian sejak tahun 1986 dimana kemisikinan nelayan masih ada hingga saat ini berdasarkan data dari BRIN ada 14 juta nelayan miskin.
“Jika ini dibiarkan maka sangat berbahaya dan jadi persoalan. Konstruksi struktur sosial yang dibangun memiliki keterkaitan antara ekologi, ekonomi dan dan sosial sebagai landasan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya berbentuk lingkaran. Harus diubah menjadi piramida. Piramida ini berupa sebuah konsep tentang religiusitas, Jika kegiatan ekonomi manusia merusakkan ekologi, maka dua kesalahan manusia ada dua (2). Pertama, manusia tidak bersifat amanah sebagai wakil Allah SWT di bumi untuk menjaga alam secara berkelanjutan. Sumberdaya alam harus dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia saat sekarang, juga bagi generasi mendatang. Kedua, jika kegiatan ekonomi manusia merusakkan ekologi, maka berpeluang mengalami kesulitan dalam kesejahteraan sosial.“ tandasnya.