Top
Begin typing your search above and press return to search.

Para orang tua gagal bela anaknya daftar SMA negeri gunakan piagam palsu

Upaya puluhan orang tua siswa SMPN 1 Semarang untuk memperjuangkan agar anaknya bisa diterima di SMAN/SMKN favorit di Semarang menggunakan piagam palsu internasional gagal.

Para orang tua gagal bela anaknya daftar SMA negeri gunakan piagam palsu
X
Sumber foto: Joko Hendrianto/elshinta.com.

Elshinta.com - Upaya puluhan orang tua siswa SMPN 1 Semarang untuk memperjuangkan agar anaknya bisa diterima di SMAN/SMKN favorit di Semarang menggunakan piagam palsu internasional gagal. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah memutuskan bahwa piagam kejuaraan marching band virtual berlabel kejuaraan Malaysia International Virtual Band Championships 2022 diragukan keabsahannya.

Akibatnya peluang 69 siswa agar bisa diterima di SMA/SMK Negeri favorit di Semarang menjadi sangat kecil. Sebenarnya bila menggunakan piagam yang sah taraf internasional, maka untuk Juara 1 akan mendapat tambahan nilai 3, Juara 2 mendapat tambahan nilai 2,75; dan Juara 3 mendapat tambahan 2,5. Akan tetapi yang terjadi adalah piagam para siswa itu dipalsukan. Aslinya adalah Juara 3, saat mendaftar diganti menjadi Juara 1.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Uswatun Hasanah, Kamis malam (11/7/2024) menolak permohonan para orang tua siswa yang meminta penggantian berkas dokumen Penerimaan Peserta Didik Baru SMA yang menggunakan piagam palsu.

Penegasan bahwa piagam itu meragukan sudah disampaikan oleh Penjabat Gubernur Jateng Nana Sudjana didampingi Uswatun Hasanah pada Rabu petang (10/7/2024) di kantor Gubernur Jateng di Semarang.

Mengetahui peluang anaknya menjadi sulit diterima jika hanya mengandalkan nilai rapor SMP smester 1 – 5, para orang tua itu melakukan protes pada Kamis pagi hingga sore dengan ingin bertemu langsung pejabat Pemprov Jateng yang menangani sekolah SMA/SMK Negeri. Mereka diterima oleh Haerudin (PLH Asisten 1 Pemprov Jateng).

"Mereka meminta agar para siswa itu masuk cadangan yang diterima di sekolah negeri atau mengganti sertifikat (yang palsu) dengan piagam baru," kata Haerudin seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Jumat (12/7).

Namun permintaan itu ditolak oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng. Keputusan itu sontak membuat para orang tua protes, bahkan para siswa yang ikut orang tuanya menangis.

"Piagam penghargaan yang diragukan keabsahannya tetap dianulir dan tidak diperhitungkan nilainya sebagai komponen tambahan nilai akhir pada jalur prestasi. Piagam itu juga tidak dapat diganti dengan piagam lainnya karena tahapan verifikasi telah selesai," kata Uswatun, Kamis (11/7) malam.

Sementara permintaan agar para siswa pengguna piagam palsu yang berpotensi tidak diterima akibat nilai tambahan tidak ada agar bisa masuk ke cadangan juga ditolak. Alasannya calon peserta didik Cadangan juga sudah masuk ke dalam sistem.

"Permintaan orang tua siswa tidak dapat dipenuhi karena penetapan cadangan sudah tersistem dalam seleksi PPDB sehingga tidak dapat diubah," kata Uswatun.

Para orang tua tetap memprotes Keputusan akhir itu. Mereka menyatakan sebagai korban yang tidak mengetahui bahwa piagam yang digunakan untuk mendaftar adalah palsu. Mereka ingin agar diberi kesempatan untuk menggunakan piagam lain.

Para orang tua itu juga membawa piagam anak mereka yang lain dan ditunjukkan ke pihak Disdikbud. Di antaranya adalah piagam kejuaraan nasional yang membuat tim marching band itu bisa tampil di Istana Negara saat HUT RI tahun 2023.

Di sisi lain, pemalsuan piagam itu sudah dilaporkan ke polisi. Polrestabes Semarang mulai mengusut kasus tersebut. Tokoh kunci yang masih dicari adalah S, pelatih marching band SMPN 1 Semarang yang ketika dipanggil untuk dimintai keterangan mangkir. Polisi masih mencari keberadaan S.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire