Top
Begin typing your search above and press return to search.

Pagelaran wayang kulit warnai tradisi bersih desa warga Jawa Telaga Jernih, Langkat 

Pemerintah Desa Telaga Jernih, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menggelar acara bersih desa di bulan Muharram 1446 Hijriah (Jawa: Suroan). Puncak kegiatan bersih desa ditandai dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon 'Petruk Dadi Ratu', bertempat di Dusun F, Desa Telaga Jernih, Selasa malam (16/7).

Pagelaran wayang kulit warnai tradisi bersih desa warga Jawa Telaga Jernih, Langkat 
X
Sumber foto: M Salim/elshinta.com.

Elshinta.com - Pemerintah Desa Telaga Jernih, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menggelar acara bersih desa di bulan Muharram 1446 Hijriah (Jawa: Suroan). Puncak kegiatan bersih desa ditandai dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon 'Petruk Dadi Ratu', bertempat di Dusun F, Desa Telaga Jernih, Selasa malam (16/7).

Kepala Desa Telaga Jernih Srianto mengatakan, pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini dianggarkan dari dana desa dan mengundang Ki Dalang Ibrahim dari Desa Jentera, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat. Bersih desa dilaksanakan setiap tahun bertepatan pada bulan suro atau 10 Muharram.

Bersih desa adalah tradisi adat, memiliki makna spiritual di baliknya. Pertama-tama ritual bersih desa bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang didapat. Masih kata Srianto, sebelum pagelaran wayang kulit, prosesi bersih desa didahului tabligh dan dzikir akbar di mesjid setempat untuk meraih berkah dari Allah SWT dan memohon terhindar dari hal-hal negatif.

"Pagelaran wayang kulit ini merupakan tradisi puncak dari bersih desa dan zikir bersama yang telah dilaksanakan merupakan ritual mengharap berkah dari Allah SWT dan sebagai upaya agar terhindar dari segala macam bala bencana dan marabahaya," ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, M Salim, Rabu (17/7).

Camat Secanggang Persadanta Sembiring yang hadir di kegiatan tersebut mengucapkan terima kasih kepada Kepala Desa Telaga Jernih yang telah membuat kegiatan ini. Rasa cinta adat dan budaya di desa ini masih cukup tinggi. Camat berharap kepada Ki Dalang Ibrahim untuk mengkader generasi muda untuk mengerti budaya Jawa khususnya wayang kulit ini. Desa Telaga Jernih ini cukup makmur dan kebersamaannya masih terlihat dan terjaga.

"Terima kasih kepada warga Desa Telaga Jernih ini yang masih tetap konsisten melestarikan adat dan budaya, sehingga dengan digelarnya wayang kulit ini dapat dilihat dan dicontoh oleh generasi penerus, semoga para generasi penerus dapat melestarikan tradisi budaya ini," kata camat.

Diketahui bersama pagelaran wayang kulit ini disaksikan oleh sesepuh dan pini sepuh Desa Telaga Jernih, anak-anak desa yang merupakan keturunan yang berasal dari pulau Jawa yang ikut transmigrasi tahun 1959 ke Sumatera Utara, terkhusus di Kabupaten Langkat, sejumlah kepala desa, Bhabinkamtibmas Polsek Secanggang Brigpol Sudibyo, Babinsa Koramil 08/Secanggang Serka Suyanto dan juga ratusan warga desa yang menyaksikan pagelaran wayang kulit.

"Para leluhur dan kakek kami ikut transmigrasi ke Telaga Jernih ini sekitar tahun 1959 pada masa Presiden Soekarno. Sampai sekarang sudah generasi ke empat, kalau tidak salah," timpal Sekdes Telaga Jernih Atheri.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire